Tragedi YBS di Ngada: Saat Buku dan Pulpen Jadi Kemewahan, Program MBG Kehilangan Makna

Old rope with hangman’s noose.

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia.

Peristiwa ini diduga kuat berkaitan dengan tekanan hidup yang tak sanggup ia tanggung di usia yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain.

Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen.

Permintaan yang terdengar sederhana—bahkan sepele bagi sebagian orang—namun tak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Sang ibu tak punya uang. Dan sejak saat itu, kisah pilu ini berakhir dengan kehilangan yang tak tergantikan.

Kematian YBS menjadi cermin buram wajah kemiskinan di negeri ini, terutama di sektor pendidikan dasar. Di satu sisi, anak-anak diminta terus bersekolah, rajin belajar, dan mengejar cita-cita.

Namun di sisi lain, perangkat paling dasar pendidikan pun masih harus diperjuangkan dengan air mata.

Lebih menyakitkan lagi, bantuan pendidikan yang digadang-gadang negara kerap tak sampai ke mereka yang paling membutuhkan.

Entah karena keterbatasan anggaran, persoalan data, atau buruknya tata kelola. Yang jelas, YBS adalah bukti nyata bahwa ada anak-anak yang luput dari perhatian sistem.

Di tengah situasi ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus digaungkan pemerintah justru terasa kehilangan relevansi.

Memberi makan memang penting, tapi anak tidak bisa belajar hanya dengan perut kenyang. Tanpa buku, alat tulis, seragam, dan rasa aman secara psikologis, pendidikan hanyalah jargon kosong.

MBG tak akan mampu menjawab akar persoalan pendidikan generasi masa depan jika negara masih abai pada kemiskinan struktural.

Pendidikan bukan sekadar soal gizi, tapi juga soal akses, keadilan, dan keberpihakan anggaran. Jika buku dan pulpen masih menjadi barang mewah, maka yang gagal bukan anaknya—melainkan sistemnya.

Tragedi YBS seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Negara tak boleh menunggu korban berikutnya untuk berbenah.

Pendidikan dasar harus benar-benar gratis dan menjangkau yang paling bawah. Jika tidak, mimpi mencerdaskan kehidupan bangsa akan terus runtuh—pelan, tapi pasti. (Red)

Catatan penting:
Jika Anda atau orang di sekitar mengalami tekanan mental atau kesulitan berat, segera cari bantuan. Di Indonesia, layanan Sejiwa 119 ext. 8 tersedia untuk dukungan kesehatan mental. Tidak ada masalah yang harus dipikul sendirian.

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like