Kegagalan yang Disembunyikan

- Penulis

Selasa, 23 Desember 2025 - 08:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ali Achmadi, 
Tenaga Pengajar dan Kabid Humas Yayasan Ar Raudloh
Perguruan Islam Raudlatut Tholibin Pakis - Pati

Ali Achmadi, Tenaga Pengajar dan Kabid Humas Yayasan Ar Raudloh Perguruan Islam Raudlatut Tholibin Pakis - Pati

Oleh: Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Peminat Masalah Sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ada satu kebijakan yang terdengar sangat manusiawi, tapi diam-diam kejam: naik kelas otomatis.
Anak-anak dibuat bahagia hari ini. Tapi masa depannya dibiarkan rapuh.

Kita seolah sepakat: tinggal kelas itu menyakitkan. Katanya bisa melukai mental. Katanya membuat anak minder. Maka solusinya sederhana: semua naik. Tanpa kecuali. Tanpa syarat yang sungguh-sungguh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masalahnya, sekolah bukan sekadar tempat naik tingkat. Sekolah adalah tempat memastikan isi kepala ikut naik.

Di situlah sistem tinggal kelas dulu berfungsi. Ia bukan hukuman. Ia pagar. Pagar agar anak yang belum bisa membaca tidak dipaksa memahami paragraf panjang.

Agar yang belum paham hitungan dasar tidak diseret ke aljabar. Agar yang pondasinya rapuh tidak diminta membangun lantai dua. Sekarang pagar itu dibongkar. Alasannya mulia. Dampaknya berbahaya.

Saya sering bertemu siswa di kelas yang masih terbata dengan matematika dasar. Mereka naik terus, sampai kelas 12. Tapi tertinggal jauh di dalam. Setiap pelajaran jadi beban.

Baca Juga :  Mengungkap Hakikat Keimanan Sejati: Mengurai Hikmah Moral Surah Al-Hujurat Ayat 14 dan 15

Setiap ujian jadi ancaman. Bukan karena mereka bodoh. Tapi karena kita menipu mereka sejak awal. Tanpa kemungkinan tinggal kelas, pesan yang sampai sederhana: tidak apa-apa tidak serius.

Belajar atau tidak, hasilnya sama. Naik.
Akuntabilitas hilang. Motivasi menipis. Sekolah berubah jadi eskalator, bukan tangga.

Padahal hidup tidak mengenal “naik otomatis”. Dunia kerja tidak peduli raport. Dunia kerja hanya bertanya: bisa atau tidak?

Dulu, tinggal kelas memberi satu hal yang sekarang langka: waktu. Waktu untuk memperbaiki.

Waktu untuk mengulang tanpa dikejar target baru. Waktu untuk membangun dasar yang tertinggal. Remedial dua jam? Terlalu naif untuk luka setahun.

Masalah akademik itu tidak hilang dengan dipindahkan ke kelas berikutnya. Ia menumpuk. Menggumpal. Meledak di jenjang lebih tinggi. Di situlah frustrasi muncul. Putus sekolah mengintai.

Baca Juga :  Bullying dan Pendekatan Pancasila dalam Membangun Masyarakat Bermoral-Berempati

Lulusan setengah matang bermunculan. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan jargon “demi psikologis anak”.

Padahal membiarkan anak terus gagal diam-diam jauh lebih kejam daripada memintanya berhenti sejenak untuk memperbaiki diri.

Tinggal kelas juga dulu punya efek samping yang sehat: guru lebih jujur. Menilai tidak sekadar formalitas. Sekolah tidak bisa sekadar meluluskan, lalu berlepas tangan.

Jika banyak yang tinggal kelas, itu alarm. Bukan aib. Alarm bahwa metode mengajar perlu dibenahi.

Bahwa sistem perlu dikoreksi. Mengembalikan sistem tinggal kelas bukan langkah mundur. Justru itu langkah berani.

Berani mengakui bahwa mutu lebih penting daripada statistik kelulusan. Berani mengatakan bahwa tidak semua masalah selesai dengan senyum dan slogan.

Berani menjaga pendidikan agar tidak sekadar ramah, tapi juga bermakna. Naik kelas itu penting. Tapi lebih penting lagi: layak untuk naik. (Red)

 

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru