DANANTARA: Perawan di Sarang Penyamun

- Penulis

Jumat, 24 Oktober 2025 - 07:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Logo Danantara/ Kompas.com

Logo Danantara/ Kompas.com

Oleh: Sri Radjasa*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Baru-baru ini publik dikejutkan oleh kabar rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (DANANTARA) menanamkan dana awal sekitar Rp16 triliun di pasar modal.

Investasi tersebut, menurut Chief Investment Officer (CIO) Pandu Patria Sjahrir, akan disalurkan ke Surat Berharga Negara (SBN) dan saham perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat, termasuk swasta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekilas, langkah ini tampak sebagai strategi elegan negara dalam menggerakkan ekonomi berbasis aset produktif.

Namun, di balik narasi modernisasi dan efisiensi investasi itu, terdapat potensi jebakan klasik yang selalu menghantui perjalanan ekonomi Indonesia berupa konflik kepentingan, nepotisme, dan oligarki yang mengintai setiap celah kebijakan publik.

Oligarki di Balik Bayang Investasi Negara

Nama Pandu Patria Sjahrir bukanlah nama asing di lingkaran elite ekonomi Indonesia. Ia adalah keponakan Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, sekaligus pejabat yang punya pengaruh besar dalam kebijakan ekonomi strategis.

Selain itu, Pandu juga merupakan Wakil Direktur Utama PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) dan Komisaris Utama GoTo Financial.

Di sinilah publik mulai meraba kemungkinan adanya conflict of interest. Apalagi ketika muncul rumor bahwa Danantara akan menjadi “penyelamat” bagi GoTo, perusahaan teknologi yang kini tengah terpuruk.

Per 21 Oktober 2025, harga saham GoTo hanya berada di Rp55 per lembar, jauh merosot dari harga pembelian awal Rp270 pada 2021.

Baca Juga :  Self-Discovery di Dunia Maya: Teknologi dan Identitas

Kejatuhan ini menimbulkan kerugian besar bagi Telkomsel/Telkom, yang memegang sekitar 23 miliar lembar saham GoTo dengan nilai investasi Rp6,4 triliun.

Kini, nilai tersebut menyusut drastis, menyebabkan potensi kerugian hingga Rp5 triliun lebih. Di tengah kondisi ini, Danantara justru muncul dengan agenda investasi baru yang membuka ruang bagi penyelamatan perusahaan swasta.

Jika benar Danantara digunakan untuk menalangi GoTo, maka lembaga ini telah berubah dari badan pengelola aset negara menjadi alat cuci dosa korporasi.

Sebab, prinsip bailout hanya dibenarkan bila sebuah entitas gagal secara sistemik mengancam perekonomian nasional.

GoTo bukan lembaga keuangan sistemik, ia hanya satu dari sekian banyak perusahaan digital yang gagal mengelola valuasi pasar.

Lebih jauh, keterlibatan keluarga Thohir yakni Erick Thohir, mantan Menteri BUMN, dan Boy Thohir, pemilik GoTo menambah rumit situasi ini.

Jika benar Danantara dijadikan perisai untuk menutupi kerugian akibat keputusan investasi yang keliru, maka publik berhak menyebutnya dengan metafora pahit yaitu perawan di sarang penyamun, dimana institusi baru dengan idealisme suci, tapi dikepung para perampok berjas.

Ujian Moral dan Kepemimpinan Negara

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Danantara adalah “kekuatan masa depan Nusantara.”

Namun kekuatan itu hanya akan berarti bila dijaga dengan moralitas, transparansi, dan keberanian melawan oligarki. Karena sejarah Indonesia berulang kali menunjukkan bahwa setiap instrumen ekonomi yang tidak dijaga etikanya akan berubah menjadi sarang rente.

Baca Juga :  Board of Peace: Peluang Diplomasi atau Jebakan Hegemonik?

Filsuf Jean-Jacques Rousseau pernah menulis bahwa kontrak sosial antara rakyat dan negara hanya sah jika negara bekerja untuk volonté générale yakni kehendak umum, bukan kepentingan elit.

Maka, ketika uang publik digunakan untuk menyelamatkan korporasi yang dimiliki orang-orang dekat kekuasaan, kontrak sosial itu runtuh.

Presiden Prabowo kini diuji, apakah ia akan membiarkan lembaga strategis yang baru lahir ini menjadi sapi perah oligarki, atau justru menjadikannya simbol kedaulatan ekonomi nasional.

Tanggung jawab moral pemimpin bukan hanya menegakkan hukum, tetapi memastikan uang rakyat tidak menjadi tumbal permainan kekuasaan.

Danantara adalah amanah baru bangsa, ia lahir dengan wajah murni dan cita luhur. Namun di sekelilingnya, para penyamun telah menanti dengan sabar, menyiapkan perangkap berbentuk “investasi strategis.”

Hanya keberanian politik dan kejujuran moral yang bisa menyelamatkan perawan ini dari tangan-tangan licik yang bersembunyi di balik bendera pembangunan.

Seperti diingatkan Thomas Jefferson, “Ketika pemerintah menjadi alat bagi segelintir orang untuk memperkaya diri, maka republik telah kehilangan jiwanya.”

Kini, sejarah menatap Prabowo, apakah ia akan menjaga jiwa republik itu atau membiarkannya kembali dijarah atas nama investasi masa depan. (Red)

*) Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB