Setahun Prabowo: Antara Bayang-bayang Legacy dan Bayangan Kekuasaan

- Penulis

Kamis, 16 Oktober 2025 - 08:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi/ gambar: dok istimewa)

(Ilustrasi/ gambar: dok istimewa)

Oleh: Sri Radjasa, M.BA*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah berjalan, namun atmosfer negeri masih diliputi kabut keraguan.

Harapan rakyat yang dulu membumbung tinggi setelah pemilu 2024, kini terantuk pada kenyataan bahwa transisi kekuasaan di negeri ini tidak pernah benar-benar tuntas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemenangan Prabowo yang diwarnai cawe-cawe politik Jokowi masih menyisakan jejak dalam setiap kebijakan, langkah, dan gestur kekuasaan.

Dalam literatur politik klasik, Niccolò Machiavelli mengingatkan bahwa warisan kekuasaan bukan hadiah, melainkan jebakan. Kalimat itu menggambarkan betapa kemenangan Prabowo, meski sah secara konstitusional, membawa beban historis yang tak ringan.

Ia bukan hanya mewarisi kekuasaan, melainkan juga jaringan loyalitas lama yang masih berdenyut kuat di tubuh negara. Dari struktur keamanan hingga jaring relawan, dari elite ekonomi hingga mesin digital politik, pengaruh Jokowi belum benar-benar redup.

Warisan sepuluh tahun kekuasaan Jokowi ibarat residu politik yang sulit terurai. Infrastruktur fisik memang berdiri megah, namun infrastruktur moral bangsa justru mengalami erosi.

Rakyat kecil masih berjuang di tengah inflasi pangan yang naik 4,2 persen pada pertengahan 2025, sementara pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 4,9 persen.

Baca Juga :  Demonstrasi Hari ini: Ketika Retakan Dituduh, Bukan Diperbaiki

Gini ratio bertahan di 0,39, menandakan ketimpangan tak kunjung terurai. Negara seolah hanya kuat di atas kertas, tapi lemah dalam menegakkan keadilan sosial.

Dalam konteks itu, langkah Prabowo tampak terbelah antara kehendak memperbaiki sistem dan keharusan menjaga stabilitas politik.

Max Weber menyebut fenomena ini sebagai krisis legitimasi transisional, di mana otoritas formal yang sah belum sepenuhnya diterima sebagai pemegang kendali sejati.

Jokowi, meski telah lengser, masih memancarkan pengaruh besar melalui jaringan loyalis di institusi negara, ormas, dan basis relawan. Oligarki lama tidak tumbang; ia hanya menyesuaikan bentuknya, tetap hidup di dalam sistem yang baru.

Filosofi Kepemimpinan dan Ujian Keberanian

Hati-hati politik Prabowo, terutama terhadap lingkaran kekuasaan lama, bisa dibaca sebagai strategi. Namun strategi yang terlalu panjang berisiko menjadi jebakan.

Publik menilai presiden berjalan lamban dalam mengambil langkah tegas: reformasi Polri belum dimulai, penegakan hukum terhadap para aktor lama yang diduga menyeleweng belum bergulir, dan agenda pemerataan ekonomi masih terhalang oleh dominasi konglomerasi.

Dalam situasi demikian, kekuasaan yang besar menjadi paradoks yang kuat di tangan, tapi tumpul dalam tindakan.

Filsuf Plato dalam “The Republic” menulis bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang berani menundukkan hasrat kekuasaan demi menegakkan kebenaran.

Baca Juga :  Peran Big Data dan Kecerdasan Buatan dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi Manajerial

Kini, Prabowo berdiri di persimpangan itu. Ia menghadapi sistem yang mapan tapi korosif, kuat secara struktur tapi rapuh dalam nilai.

Jika ia hanya menjadi pelanjut dinasti kekuasaan lama, sejarah akan menempatkannya sebagai presiden yang gagal melepaskan diri dari bayangan pendahulunya.

Tetapi jika ia berani menegaskan garis politiknya sendiri dengan membersihkan institusi hukum, memperkuat ekonomi rakyat, dan menegakkan supremasi konstitusi maka ia akan dikenang sebagai pemimpin yang memulihkan martabat republik.

Bangsa Indonesia telah terbukti tangguh menghadapi badai sejarah, dari penjajahan hingga reformasi. Namun kini yang dibutuhkan bukan lagi simbol kekuatan, melainkan keberanian moral.

Rakyat menanti negara yang benar-benar hadir di tengah penderitaan mereka, bukan sekadar melanjutkan drama kekuasaan di atas panggung yang sama.

Setahun pemerintahan Prabowo menjadi cermin dari pergulatan antara idealisme dan kompromi. Di bawah bayang legacy dan bayangan kekuasaan, bangsa ini menunggu, apakah Prabowo akan sekadar menjadi pewaris tahta, atau penulis babak baru sejarah yang memulihkan cita-cita republik yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? (Red)

*) Sri Radjasa, M.BA, Pemerhati Intelijen

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB