Karang Taruna Desa Rumbuk dalam Bayang-bayang Kematian

- Penulis

Rabu, 15 Oktober 2025 - 07:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Adjie Shaofani Elsayyid, pemuda Desa Rumbuk, penstudi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Mataram

Adjie Shaofani Elsayyid, pemuda Desa Rumbuk, penstudi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Mataram

Oleh: Adjie Shaofani Elsayyid*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ada mesin, tersedia pula bahan bakarnya. Namun, mesin itu mogok di tengah jalan, ditinggal pengemudinya. Begitulah kiranya potret Karang Taruna Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra, Lombok Timur.

Di sebuah desa yang disebut-sebut kaya akan potensi kaum mudanya, lembaga resmi kepemudaan ini justru berada dalam kondisi mati suri. Sebuah ironi yang tak hanya patut disesali, tetapi juga wajib untuk dibedah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kisah klasiknya adalah soal kepemimpinan. Seorang ketua yang mengundurkan diri dan kepengurusan yang senyap. Ini bukan sekedar persoalan personal, melainkan masalah dari rapuhnya fondasi kelembagaan.

Pengunduran diri seorang nakhoda di tengah pelayaran menandakan ada badai di dalam kapal, entah itu konflik internal yang tak terurai, tekanan eksternal yang tak tertanggulangi, atau sekedar ketidakcakapan dalam memegang kemudi.

Melihat dari fakta yang ada, terkuaknya dugaan bahwa ketua sebelumnya melanggar batas usia maksimal yang diatur dalam Peraturan Menteri Sosial adalah sebuah cacat bawaan.

Aturan bukanlah sekadar teks mati di atas kertas; ini adalah roh yang menjaga agar regenarasi berjalan sehat dan kepemimpinan tetap berada di tangan generasi yang relevan.

Baca Juga :  Membangun Budaya Literasi: Pelopor Penulisan Berita Sekolah

Ketika aturan sengaja atau tidak sengaja diterabas sejak awal, legitimasi kepemimpinan itu sendiri sudah goyah.

Proses kaderisasi yang seharusnya cair dan dinamis menjadi tersumbat, melahirkan pemimpin yang mungkin tak lagi mempresentasikan denyut nadi kaum muda yang semestinya ia wakili.

Paradoks paling masuk akal dalam persoalan ini adalah soal anggaran. Negara, melalui regulasinya, telah menyedikan “oli” agar mesin sosial ini terus bergerak.

Dana yang secara khusus dialokasikan untuk Karang Taruna semestinya menjadi bahan bakar untuk kreativitas, program pemberdayaan, dan kegiatan positif lainnya.

Namun di Rumbuk, anggaran itu terancam menjadi dana siluman (ada secara administratif tetapi menguap tanpa jejak manfaat). Ini menunjukkan masalahnya bukanlah ketiadaan sumber daya, melainkan krisis manajerial dan mungkin boleh jadi integritas.

Dana tanpa program yang visioner dan pengelola yang kompeten hanyalah angka-angka bisu dalam laporan pertanggungjawaban.

Pada akhirnya, korban utama dari kelumpuhan ini adalah para pemuda Desa Rumbuk itu sendiri. Potensi besar yang mereka miliki (energi, gagasan dan semangat) tak menemukan muaranya.

Baca Juga :  JK, Kredit Raksasa, dan Energi dari Sungai-Sungai Nusantara

Ruang inkubasi kepemimpinan dan kreativitas yang seharusnya disediakan oleh Karang Taruna kini hampa. Energi besar yang tak tersalurkan secara positif berisiko tumpah ke aktivitas yang kontra-produktif, bahkan destruktif. Ini adalah kerugia sosial yang ongkosnya akan dibayar mahal di masa depan.

Membangkitkan kembali Karang Taruna Rumbuk dari mati surinya menuntut lebih dari sekedar rapat pembentukan pengurus baru. Persoalan ini memerlukan intervensi serius Pemerintah Desa sebagai fasilitator, bukan sekedar penonton.

Perlu ada kesadaran kolektif dari tokoh masyarakat dan para pemuda itu sendiri untuk menuntut tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel.

Karang Taruna Desa Rumbuk hari ini dapat memilih, memilih untuk tetap menjadi arang sisa-sisa kejayaan, atau menyalakan kembali baranya menjadi api yang menerangi masa depan pemuda desa. Pilihan ada di tangan mereka. (Red)

*) Adjie Shaofani Elsayyid, pemuda Desa Rumbuk, penstudi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Mataram

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB