BRIN & Industri Kolab! Bikin Teknologi Iradiasi Makin Nendang untuk Ketahanan Pangan Indonesia

- Penulis

Kamis, 9 Oktober 2025 - 08:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SERPONG — Dunia riset dan industri lagi makin kompak nih! Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) lewat Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) baru aja ngadain Focus Group Discussion (FGD) kece bertema “Pengembangan Teknologi Iradiasi dan Tekno-Ekonominya” di Gedung KST BJ Habibie, Serpong, Jumat (3/10).

Bukan sekadar diskusi biasa, FGD ini jadi ajang curhat bareng antara para ilmuwan dan pelaku industri buat nyari cara biar teknologi iradiasi di Indonesia bisa makin aplikatif, bermanfaat, dan tentunya cuan-able!

“Teknologi Nuklir Itu Nggak Serem, Tapi Solutif!”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri, buka acara dengan pesan yang cukup menampar stigma lama:

“Teknologi nuklir itu bukan hal menakutkan. Justru ini solusi buat masalah nyata masyarakat — dari ketahanan pangan sampai daya saing industri ekspor,” katanya.

Menurut Syaiful, riset BRIN bakal makin kuat kalau dunia usaha juga ikut terlibat. Soalnya, teknologi iradiasi bisa bantu banget dalam meningkatkan mutu produk ekspor dan memperpanjang umur simpan produk pangan tanpa bahan kimia tambahan.

Baca Juga :  Fortifikasi Beras: Langkah Pemkab Brebes untuk Cegah Kasus Stunting

Dari Kratom Sampai Sayur, Semua Bisa “Diiradiasi”

Dirsani Gustam, Direktur PT Ion Merah Putih, bilang kalau iradiasi ini bukan cuma urusan lab, tapi punya dampak nyata ke masyarakat.

“Iradiasi bikin makanan lebih aman, sehat, dan tahan lama. Ini penting banget buat ketahanan pangan kita,” ujarnya.

Contohnya datang dari Haris Wafa, Direktur PT DJB Botanicals Indonesia. Ia cerita soal ekspor kratom yang sering ditolak AS gara-gara terkontaminasi bakteri.

“Setelah diiradiasi, produk kami jadi lebih aman, tahan lama, dan nilai jualnya naik drastis,” jelasnya bangga.

Sementara itu, Vita Sihombing dari PT Galih Cipta Wisesa dan Rizki dari PT Sari Alam Sukabumi sepakat: iradiasi pakai Cobalt-60 adalah game changer buat kualitas produk lokal biar bisa tembus standar internasional.

Revitalisasi Fasilitas Nuklir Lokal

Dari sisi penyedia jasa, Muhammad Yusran dari PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) juga ikut nimbrung. Ia bilang, pihaknya siap bantu pengembangan fasilitas iradiasi nasional — termasuk revitalisasi Irradiator Gama Merah Putih (IGMP).

“Kami pengen manfaat iradiasi bisa dinikmati lebih luas dengan layanan berkualitas dan harga yang terjangkau,” katanya.

Baca Juga :  Hasil Survei Puspoll: 64,8% Masyarakat Puas dengan Kinerja Pak Prabowo, Benarkah?

BRIN Siapkan Pusat Kolaborasi Riset Iradiasi

BRIN juga lagi ngebangun Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Iradiasi Pangan Nasional bareng banyak pihak: dari Bapanas, Barantin, Kementan, kampus, sampai industri.

Tujuannya? Supaya riset nggak berhenti di meja lab aja. Nantinya, PKR ini bakal jadi jembatan antara riset dan implementasi nyata—mulai dari uji dosis iradiasi buat komoditas strategis, bikin model bisnis public–private partnership, sampai edukasi publik buat ngilangin stigma negatif soal pangan hasil iradiasi.

Menuju Ketahanan Pangan & Ekspor yang Lebih Kuat

FGD ini ditutup dengan semangat kolaborasi antara riset, kebijakan, dan industri. Harapannya, teknologi iradiasi bisa jadi salah satu “senjata rahasia” Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan menembus pasar global.

“Sinergi ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal masa depan pangan Indonesia,” tegas Syaiful.

Intinya, riset nggak boleh jalan sendiri, industri pun butuh inovasi. Kalau keduanya bersatu, Indonesia bisa punya teknologi pangan yang keren, aman, dan punya daya saing tinggi di dunia internasional. (Red)

Sumber: BRIN

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 19 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB