Brave Pink vs Hero Green: Tren Sosmed atau Simbol Integrasi Nasional?

- Penulis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 21:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: fenomena Brave Pink vs Hero Green. (Gambar: pinterest)

Ilustrasi: fenomena Brave Pink vs Hero Green. (Gambar: pinterest)

Oleh: Rajif Ghulam Satria*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Siapa yang tak kenal medsos di era yang serba digital ini? Medsos atau media sosial bahkan telah menjadi wadah bagi masyarakat untuk tetap saling terhubung tanpa terhalang jarak dan waktu.

Selain memiliki manfaat positif, penggunaan media sosial yang tidak bijak juga dapat memicu dampak negatif di masyarakat luas. Medsos bahkan menjadi “kekuatan yang besar”, seperti yang tergambar belakangan ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Imbas dari gerakan 17+8 tuntutan warga pada akhir Agustus 2025, belum lama ini juga muncul istilah brave pinkhero green, yakni fenomena aksi ganti profile picture dengan dominan berwarna pink dan hijau di beberapa platform media sosial.

Lantas, apakah hal itu sebagai bukti dukungan aksi nyata solidaritas kita atau hanya sekadar tren?

Banyak orang yang mengganti foto profilnya dengan warna pink dan hijau di akun sosmed mereka dan mungkin saja hal tersebut hanya bertahan selama beberapa hari.

Ada beberapa yang menganggap hal tersebut hanyalah bentuk ilusi tren aksi solidaritas semata yang nyatanya tidak memberikan kontribusi dalam perubahan di lapangan.

Fenomena Brave Pink & Green Hero

Sebuah momen heroik di jalanan melahirkan warna Brave Pink yang ikonik. Seorang ibu berjilbab pink yang bernama Ana menunjukkan keberanian luar biasa saat demo saat membawa tongkat bambu dengan bendera merah putih dan menghadapi aparat dengan penuh keteguhan menjadikannya simbol harapan bagi banyak orang.

Baca Juga :  PSN Bertambah, Mengapa Hutan Papua dan Hak Adat Tak Kunjung Terlindungi?

Fenomena tersebut mengubah persepsi saya tentang warna pink yang bermakna lebih kuat dan menginspirasi banyak orang. Persepsi umum yang bertebaran mengenai warna pink yang merupakan simbol feminin dan kelembutan seorang wanita yang bertransformasi menjadi keberanian yang gigih.

Sementara, istilah Green Hero dapat dikatakan mewakili gerakan ojek online yang identik dengan warna hijau, alias Gojek. Adalah platform yang memberikan kita berbagai layanan yang on-demand seperti goride, gocar, gofood, gosend, gomart, dan sebagainya. Kenapa warna hijau (green) dan tidak warna lain?

Hal ini berkaitan dengan warna logo gojek yaitu hijau atau lebih tepatnya warna jaket driver yang dominan hijau. Hero green ini merujuk pada perjuangan driver Gojek ernama Affan Kurniawan yang menjadi korban akibat “kekhilafan” aparat negara.

Pada Kamis, 28 Agustus 2025 Affan Kurniawan yang berusia 21 tahun ditabrak dan terlindas oleh kendaraan lapis baja yang dikenal dengan rantis (kendaraan taktis) milik Brimob RI yang dikendarai tujuh anggota brimob RI.

Kejadian itu menuai kritik keras netizen dan belasungkawa yang mendalam dari berbagai elemen masyarakat termasuk Presiden Prabowo sebagai Presiden RI yang ke-8.

Media Sosial

Usai kasus itu, platform Instagram, Twitter (X), dan WhatsApp menjadi rujukan media sosial yang dipakai untuk memasang foto profil Brave Pink Green Hero dengan cara memilih foto yang akan dipakai sebagai foto profil.

Fenomena ganti profil picture dengan warna pink dan hijau ini membuktikan bahwa media sosial dapat mewakili terkait pentingnya integrasi nasional dan kesamaan hak masyarakat.

Baca Juga :  Kelas Menengah di Ambang Krisis: Ketimpangan Struktural dan Ancaman terhadap Stabilitas Sosial-Ekonomi Indonesia

Aksi solidaritas ini diikuti oleh berbagai lapisan dan kalangan masyarakat hampir diseluruh Indonesia. Jika dihubungkan dengan integritas nasional, media sosial telah menjadi jembatan untuk mempersatukan kesadaran dalam hal menyuarakan aspirasi untuk menegakkan keadilan bersama.

Integrasi nasional yang solid akan memperlancar pembangunan nasional. Imbasnya, upaya ini akan memberikan dampak positif terhadap negara dan bangsa sebagai perwujudan nasionalisme.

Hal tersebut akan memperkecil potensi konflik yang mengarah kepada perpecahan atau disintegrasi nasional. Integrasi nasional berasal dari kesadaran untuk hidup bersama dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis.

Aksi solidaritas di media sosial ini perlu juga dilakukan dengan aksi nyata di lapangan agar dampak yang ditimbulkan lebih terasa dan dapat berlangsung lebih lama.

Seluruh lapisan masyarakat perlu menjadi satu dalam satu tujuan agar dapat menyuarakan dan mewujudkan aspirasi dengan solid. Masyarakat yang memiliki integritas yang baik dapat membantu bangsa dan negara menghadapi berbagai tantangan.

Sebagai contoh, misal dalam suatu masyarakat terjadi konflik, pasti timbul kerusakan dan kerugian yang harus ditanggung dan pastinya tidak sedikit.

Kerusakan tersebut tidak hanya merugikan secara materi tetapi juga beresiko dalam melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, media sosial harus dimanfaatkan dengan bijaksana sebagai sarana untuk memperkuat integrasi nasional. (Red)

*) Rajif Ghulam Satria, mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Universitas Negeri Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Guru Dituntut Profesional, Haknya Wajib Dibuktikan: Sorotan Kesejahteraan Pendidik dan Harapan di Ambang Pidato Kenegaraan 14 Agustus
Dilema Perkuliahan ‘Hybrid’: Ketika Efisiensi Anggaran Kampus Mengorbankan Hak Belajar Mahasiswa
Ilusi Kemajuan di Balik E-Parkir Berlangganan Kota Langsa
Paradoks Fresh Graduate: Ketika Magang Menjadi Syarat Tak Tertulis Dunia Kerja
Mengapa Hukum Terlihat Berbeda Wajah? Sebuah Refleksi atas Keadilan di Indonesia
Mengapa Publik Lebih Cepat Menghakimi Pencuri Ayam daripada Koruptor?
Apakah Indonesia Membutuhkan Universitas Baru?
Mewaspadai Arah Kepemimpinan PBNU, Demi Menjaga Rumah Besar Kaum Nahdliyin
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:20 WIB

Guru Dituntut Profesional, Haknya Wajib Dibuktikan: Sorotan Kesejahteraan Pendidik dan Harapan di Ambang Pidato Kenegaraan 14 Agustus

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Dilema Perkuliahan ‘Hybrid’: Ketika Efisiensi Anggaran Kampus Mengorbankan Hak Belajar Mahasiswa

Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:59 WIB

Ilusi Kemajuan di Balik E-Parkir Berlangganan Kota Langsa

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Paradoks Fresh Graduate: Ketika Magang Menjadi Syarat Tak Tertulis Dunia Kerja

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:55 WIB

Mengapa Hukum Terlihat Berbeda Wajah? Sebuah Refleksi atas Keadilan di Indonesia

Berita Terbaru

KILAS GLOBAL

Ratusan Diaspora Indonesia di Tunisia Semarakkan HUT RI ke-81

Minggu, 16 Agu 2026 - 13:10 WIB