Ketika Makan Gratis Berujung Tangis: Potret Keracunan, Bagaimana Jika MBG Dihentikan Saja?

- Penulis

Minggu, 21 September 2025 - 13:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pagi itu, ruang kelas yang biasanya riuh oleh tawa anak-anak mendadak berubah jadi lengang. Satu per satu siswa meringis menahan sakit perut, sebagian bahkan terpaksa digotong ke puskesmas terdekat.

Nasi kotak yang semestinya jadi sumber tenaga, justru menjelma mimpi buruk. Itulah kenyataan yang menimpa ratusan anak di Garut, Sragen, hingga Kupang—korban dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan lebih sering dikaitkan dengan kata keracunan ketimbang kesehatan.

Potret Seorang Korban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Garut, seorang siswi kelas 5 SD bernama Nadia (11) masih teringat jelas kejadian itu. Siang itu, ia baru saja menyantap menu ayam goreng dan nasi putih dari program MBG.

Tak lama kemudian, perutnya melilit hebat. “Aku pikir cuma masuk angin, tapi terus muntah berkali-kali,” ucapnya lirih sambil duduk di ranjang puskesmas.

Ibunya yang menunggui tak kuasa menahan air mata. “Harusnya makanan ini bikin anak-anak sehat, bukan malah sakit begini,” katanya.

Kisah Nadia hanyalah satu dari ratusan cerita serupa yang terjadi hampir bersamaan di berbagai daerah. Dari Garut hingga Kupang, tangis anak-anak kecil memecah suasana ruang kelas yang berubah jadi ruang darurat kesehatan dadakan.

Garut dan Banggai Islands, September 2025

Baca Juga :  Indonesia Juara Piala AFF U-19 2024: Alhamdulillah, Selamat!

Kasus terbesar terjadi di Garut, Jawa Barat, dan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Lebih dari 800 siswa mengalami gejala mual, pusing, hingga muntah setelah menyantap makanan dari program MBG.

Di Garut saja, sekitar 569 siswa harus mendapat perawatan medis usai menyantap menu ayam dan nasi. Pemerintah pusat menegaskan akan memperketat pengawasan dapur penyedia makanan demi mencegah kasus serupa.

Sragen, Jawa Tengah, Agustus 2025

Di Sragen, Jawa Tengah, 360 siswa ikut menjadi korban. Menu makan siang sederhana—nasi kuning, telur dadar, tempe goreng, lalapan, apel, dan susu kotak—justru memicu mual massal.

Dapur penyedia makanan segera dibekukan sementara, sementara sampel menu dikirim ke laboratorium untuk diteliti.

Kupang, Nusa Tenggara Timur, Juli 2025

Tak kalah memilukan, sekitar 140 siswa di Kupang juga tumbang usai makan siang gratis. Menu disiapkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani beberapa sekolah.

Kasus ini bahkan membuat BPOM turun tangan untuk menelusuri penyebab keracunan, mulai dari cara penyimpanan, pengiriman, hingga kebersihan dapur.

Suara Kritis Publik dan Pakar

Rangkaian kasus ini menjadi alarm serius bagi masa depan MBG. Sebagian kalangan mulai menyerukan opsi “stop pelaksanaan MBG sementara” sampai sistem distribusi, kualitas bahan, serta standar higienitas benar-benar terjamin.

  • KPAI (Jasra Putra) menilai MBG sebaiknya dihentikan dulu agar kasus keracunan tak makin meluas.
  • JPPI (Ubaid Matraji) menyebut keracunan MBG sebagai “tragedi berulang” dan mendesak evaluasi total.
  • IDAI (dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K)) menegaskan program MBG pada dasarnya bagus, tapi tanpa standar keamanan pangan yang ketat, risikonya akan selalu menghantui.
Baca Juga :  MUSDA II Ikatan Guru Indonesia Muara Enim: Guru Bersatu Wujudkan Pendidikan Bermutu

Pakar Sosial (Made Natasya Restu Dewi Pratiwi) mendorong moratorium sementara MBG sebagai momentum untuk melakukan audit menyeluruh.

Dari Gizi Jadi Krisis

Program MBG lahir dari niat baik: memastikan anak-anak Indonesia mendapat gizi seimbang agar tumbuh sehat.

Namun, rentetan kasus keracunan membuktikan bahwa niat baik saja tidak cukup. Tanpa sistem distribusi yang kuat, pengawasan yang ketat, dan standar dapur yang steril, program ini bisa berubah menjadi ancaman nyata.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah: berani mengambil jeda sementara demi perbaikan sistem, atau terus melaju dengan segala risikonya?

Bagi Nadia dan ribuan anak lain, harapannya sederhana: mereka ingin bisa makan siang gratis di sekolah tanpa rasa takut. Makanan yang disajikan bukan lagi ancaman, melainkan benar-benar sumber energi untuk mengejar cita-cita. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB