Cukai Rokok Naik Gila-gilaan, Perokok Cuma Bisa Bilang: Fir’aun Lu!

- Penulis

Sabtu, 20 September 2025 - 17:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ali Achmadi*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Sebagai perokok, saya cuma bisa tepuk jidat mendengar fakta bahwa tarif cukai rokok kita sudah tembus 57 persen.

Mahal banget! Dan ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan santai bilang, “57 persen? Tinggi amat, Fir’aun lu!”, saya refleks ketawa. Karena ya … itu yang ada di kepala saya selama ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tarif setinggi ini seolah pemerintah lagi bikin perokok seperti saya “bertobat” secara paksa. Padahal, rokok itu bukan sekadar kebutuhan—ada jutaan orang yang hidupnya bergantung pada industri ini.

Petani tembakau, buruh pabrik, sopir angkut, pedagang eceran, semua akan kena imbas kalau industri dikebiri.

Dan jujur saja, kebijakan ini terasa seperti ikut-ikutan tekanan global. WHO memang gencar mendorong pengendalian konsumsi tembakau lewat cukai tinggi.

Baca Juga :  Pendidikan Moral dan Problem Kesenjangan Pendidikan di Kota dan Desa

Tapi apakah kita harus selalu nurut, tanpa melihat kondisi rakyat dan industri kita sendiri? Negara ini bukan laboratorium kebijakan kesehatan global. Kita punya jutaan pekerja yang harus diberi makan hari ini, bukan sekadar angka statistik di laporan WHO.

Dan yang bikin saya setuju banget dengan Menkeu Purbaya adalah idenya menurunkan tarif cukai demi meningkatkan pendapatan negara. Logikanya sederhana: kalau harga rokok terlalu mahal, orang akan berhenti membeli atau beralih ke produk ilegal.

Negara rugi, industri sekarat, pekerja kehilangan kerjaan. Kalau tarifnya diturunkan, konsumsi bisa stabil, volume penjualan naik, dan penerimaan negara justru bertambah. Win-win.

Kebijakan yang sengaja “membunuh industri” tanpa mitigasi bagi tenaga kerja itu jelas tidak bertanggung jawab. Kita bukan cuma bicara angka di APBN, tapi juga perut orang-orang yang bergantung pada sektor ini.

Baca Juga :  Ekonomi Untuk Generasi Muda: Pentingnya Pendidikan Finansial

Saya pribadi ingin negara hadir dengan kebijakan yang lebih waras: edukasi publik soal bahaya merokok jalan terus, tapi harga jangan dipatok kayak hukuman.

Kami perokok sudah tahu risikonya, tapi jangan sampai kami harus bayar seolah-olah sedang menebus dosa.

Jadi, saya mendukung penuh rencana Menkeu Purbaya untuk meninjau ulang tarif cukai ini. Karena kalau kebijakan yang ada sekarang dibiarkan, ya kita cuma bisa bilang: “57 persen? Tinggi amat … Fir’aun lu!” (Red)

*) Ali Achmadi, Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Pati

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB