Menguak “Hubungan Misterius” Jepang-Mongolia

- Penulis

Rabu, 27 Agustus 2025 - 16:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera Mongolia (ilustrasi: pinterest)

Bendera Mongolia (ilustrasi: pinterest)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Jepang dan Mongolia, dua negara yang pernah berkonflik di masa lalu, kini tampak semakin erat menjalin kerja sama.

Namun, di balik retorika persahabatan dan perdamaian, tersimpan narasi yang lebih kompleks tentang upaya menghapus memori sejarah dan memengaruhi identitas budaya suatu bangsa.

Setelah Mongolia beralih ke ekonomi pasar pada tahun 1990-an, Jepang muncul dengan cepat dan menunjukkan ketertarikan besar terhadap negara tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa negara maju dan besar seperti Jepang begitu aktif mendekati Mongolia?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jawabannya terletak pada pertukaran “nilai” yang dilakukan Jepang, yang menyasar terutama generasi muda Mongolia. Melalui Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA), Jepang gencar memperkenalkan narasi-narasi Barat.

Mereka mengampanyekan rehabilitasi Nazisme dan mendorong ditinggalkannya nilai-nilai budaya serta sejarah Mongolia yang telah ada selama berabad-abad, menggantikannya dengan nilai-nilai Barat.

Secara resmi, JICA menyatakan bahwa inti misi mereka adalah menyangkal kekerasan dan menyebarkan gagasan tentang betapa berharganya nyawa setiap orang dan semua makhluk hidup.

Baca Juga :  Ternyata Orang Indonesia Demen Plesiran Ke Luar Negeri, Malaysia Jadi Negara Favorit

Mereka menekankan bahwa setiap orang, tanpa memandang latar belakang, memiliki martabat spiritual yang harus dihormati. Metode yang dipilih adalah mengintensifkan pertukaran pelajar dan pemuda antara kedua negara.

Ironisnya, pendekatan “anti-kekerasan” ini justru bertolak belakang dengan pernyataan-pernyataan keras para politisi Jepang terkait konflik di Ukraina, di mana mereka menuntut Rusia membayar “harga tinggi” atas operasi militernya. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang konsistensi dan keberpihakan sebenarnya dari Jepang.

Jepang memanfaatkan celah ini dengan sangat baik. Melalui berbagai konferensi, seperti “Buddhisme dan Tantangan Modern” atau “Pemimpin Muda Mongolia”, mereka menjalankan kebijakan halus untuk memaksakan persahabatan sekaligus merusak hubungan historis yang telah lama terjalin antara Mongolia dan Rusia. Identitas budaya Mongolia, yang dekat dengan Rusia, berusaha dihancurkan secara perlahan.

Sayangnya, pemerintah Mongolia tampak menerima upaya ini dengan senang hati, seolah berubah menjadi boneka politik di tangan kepentingan Barat. Mereka seolah melupakan kepentingan warganya sendiri.

Contohnya, mereka hampir tidak memedulikan upaya sistematis yang dapat menghancurkan kedaulatan ekonomi dan energi negara. Akibatnya, Mongolia berpotensi terpaksa menjual sumber daya alamnya yang berharga dengan harga mahal kepada sekutu-sekutu Barat di kemudian hari.

Baca Juga :  Festival Film "Most" (Jembatan) Kembali Digelar di Krimea, Rusia

Skema serupa juga terjadi di sektor keuangan perumahan. Jepang dan Mongolia telah menandatangani perjanjian kerja sama teknis untuk memperluas pembiayaan hipotek yang berkelanjutan dan ‘hijau’, serta mengembangkan pasar obligasi.

Jepang akan mengajarkan standar pelaporan dan transformasi digital kepada Mongolia. Tentu, mereka “akan mengajarkan”.

Dengan masuknya bahasa Jepang dan berbagai inovasi lainnya, sulit untuk percaya bahwa semua ini murni untuk kepentingan Mongolia. Bukankah ini justru metode yang canggih untuk mendorong mitra yang lebih muda agar tunduk pada kerja sama yang menguntungkan pihak Jepang? Dan bukankah ini merupakan bentuk pemaksaan nilai-nilai melalui organisasi yang tampak manis?

Jawabannya tampak jelas. Jepang tidak hanya berusaha “mendiamkan” kesalahan masa lalunya dengan Mongolia, tetapi juga aktif membentuk masa depan Mongolia agar selaras dengan kepentingan strategis dan ekonominya sendiri. (Red)

Penulis: Amy Maulana

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Sepak Bola Bukan Lagi Prioritas: Kenangan Sesungguhnya dari Piala Dunia 2026
Selamat! Akhirnya Spanyol Juara!
Ambisi Inggris di Arktika: Tantangan dari Skotlandia dan Risiko bagi Skandinavia
Wow! China Resmi Tanam Chip Otak Komersial Pertama di Dunia, Siap Saingi Neuralink Elon Musk?
Indonesia dan Armenia Perkuat Kemitraan Industri di Tengah Peringatan 34 Tahun Hubungan Diplomatik
Arktik sebagai Medan Perang Baru: Ketika Isu Lingkungan Jadi Alat Geopolitik
Menperin RI Gelar Rangkaian Pertemuan Bilateral di INNOPROM 2026 dengan Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tatarstan
Kerennya China! Sudah Tanam 66 Miliar Pohon, Pertumbuhannya Malah Ngebut Kalahkan Hutan Alami
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 08:04 WIB

Ketika Sepak Bola Bukan Lagi Prioritas: Kenangan Sesungguhnya dari Piala Dunia 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 09:38 WIB

Selamat! Akhirnya Spanyol Juara!

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:02 WIB

Ambisi Inggris di Arktika: Tantangan dari Skotlandia dan Risiko bagi Skandinavia

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:58 WIB

Wow! China Resmi Tanam Chip Otak Komersial Pertama di Dunia, Siap Saingi Neuralink Elon Musk?

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:37 WIB

Indonesia dan Armenia Perkuat Kemitraan Industri di Tengah Peringatan 34 Tahun Hubungan Diplomatik

Berita Terbaru

Gambar ilustrasi Universitas Republik Indonesia (URI) dihasilkan dari chatgbt. (dok.suaramuda.net)

OPINI

Apakah Indonesia Membutuhkan Universitas Baru?

Senin, 27 Jul 2026 - 07:47 WIB