Memaknai 80 Tahun Merdeka: Merdeka dari Pemimpinnya Sendiri

- Penulis

Minggu, 17 Agustus 2025 - 07:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ali Achmadi*) 

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap Agustus kita dengar kata merdeka bergaung di mana-mana. Tapi jujur saja, kadang rasanya kata itu tinggal jargon basi.

Sebab, setelah lebih dari delapan dekade merdeka, rakyat masih harus turun ke jalan hanya untuk mengingatkan bahwa kebijakan pemimpin seharusnya berpihak, bukan menyakitkan. Lucu, kan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tanah yang katanya sudah lama bebas dari penjajahan asing, rakyat masih dipaksa berjuang agar tidak dijajah oleh kebijakan pemimpinnya sendiri. Ironi sejarah yang sepertinya tak pernah selesai.

Setelah delapan puluh tahun merdeka, ternyata masih ada pemimpin yang ketika kebijakannya dipertanyakan rakyat, alih-alih menenangkan rakyat, malah bikin narasi kayak jagoan kampung.

Katanya kalau nggak setuju, ya demo saja. Lah, rakyat pun manut. Dan ketika rakyat benar-benar demo, ternyata malah kaget. Ya siapa suruh nantangin? Namanya juga rakyat, bukan figuran dalam drama politik.

Baca Juga :  Wajah Baru Rumah Ilmu: Menakar Ulang Perpustakaan Sebagai Jantung Kreativitas dan Ruang Pemulihan Jiwa

Di titik inilah arti merdeka terasa sangat nyata. Merdeka itu bukan cuma bebas dari Belanda, Jepang, atau VOC. Merdeka itu terbebas dari kebijakan ngawur yang seenaknya menaikkan pajak.

Merdeka itu terbebas dari ucapan arogan seorang pemimpin yang seakan lupa kalau kursi empuknya diperoleh dari suara rakyat, bukan diwariskan dari kakek moyangnya.

Demo besar yang lahir dari kegelisahan itu adalah cara rakyat berkata: “Kami sudah merdeka, jangan coba-coba jajah lagi dengan kebijakan yang menindas.”

Karena bagi rakyat kecil, merdeka itu sederhana: bisa tidur nyenyak tanpa dihantui “upeti” mencekik, bisa ngomong lantang tanpa dicap musuh negara, dan merdeka dengan ekonomi yang berkeadilan.

Baca Juga :  Membangun Masyarakat Berbasis Pancasila melalui Informasi yang Bijak

Ironisnya, kita sering dengar pidato pejabat yang penuh kata merdeka tapi perilakunya malah menjajah. Merdeka dari penjajah asing, iya. Tapi kalau rakyat masih dijajah rasa cemas, dijajah kebijakan semena-mena, dan dijajah kata-kata arogan, ya sama saja bohong.

Jadi, terima kasih kepada rakyat yang masih berani turun ke jalan. Kalian sudah mengingatkan arti kemerdekaan yang sebenarnya. Dan semoga pesan itu nyampe ke telinga orang yang duduk di kursi kekuasaan.

Kalau masih nggak paham juga, ya, jangan salahkan kalau rakyat cari cara lain untuk mengingatkan. Namanya juga merdeka. (Red)

*) Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Pati

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB