“Pati Ora Sepele”

- Penulis

Selasa, 10 Maret 2026 - 08:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ali Achmadi, pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ada kalimat pendek yang beberapa waktu terakhir seperti menemukan momentumnya di Pati. Pendek. Tegas. Dan tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. “Pati ora sepele.”

Kalimat ini bukan slogan yang lahir dari ruang rapat pemerintah. Bukan juga dari ruang seminar maupun diklat. Ini lahir dari jalanan. Dari kerumunan warga. Dari rasa yang lama dipendam. Rasa bahwa masyarakat tidak boleh terus-menerus dianggap remeh oleh kekuasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beberapa pejabat mungkin masih mengira masyarakat Pati itu terlalu santun untuk marah. Terlalu sabar untuk melawan. Terlalu nrimo untuk mempersoalkan kekuasaan.

Itu mungkin karena mereka terlalu sering melihat warga Pati di sawah, di tambak, di pasar, atau di warung kopi. Orang-orang yang lebih sibuk memikirkan panen padi, harga ikan, atau musim garam daripada memikirkan politik.

Lalu muncul satu kalimat yang belakangan ini sering terdengar di mana-mana. Pendek. Tapi rasanya seperti palu godam di meja rapat kekuasaan. “Pati ora sepele.” Kalimat ini sederhana. Tapi bagi sebagian pejabat, ini adalah alarm.

Pati memang bukan kota yang suka gaduh. Demonstrasi besar jarang terjadi. Spanduk protes tidak banyak bertebaran. Tapi jangan keliru membaca ketenangan itu orang Pati punya cara sendiri dalam membaca keadaan.

Di warung kopi, berita politik lokal sering dibahas lebih jujur daripada di ruang konferensi pers pejabat. Di pasar, analisis tentang kebijakan kadang lebih tajam daripada pidato resmi pejabat.

Baca Juga :  Menghadapi Problem Sosio-Ekonomi dengan Pemahaman Pancasila

Dan di grup WhatsApp warga, informasi sering bergerak lebih cepat daripada klarifikasi pemerintah. Pendek kata: masyarakat Pati tidak seramai debat di televisi, tapi mereka tidak pernah benar-benar tidak tahu.

Masalahnya, sebagian pejabat kadang merasa terlalu aman. Begitu duduk di kursi kekuasaan, jarak dengan rakyat mulai melebar. Mulai arogan. Kebijakan dibuat dari ruang ber-AC. Rakyat hanya muncul sebagai angka di laporan.

Dan ketika ada keputusan yang terasa berat sebelah, biasanya rakyat hanya diminta memahami. Kalimat favoritnya sering sama: “Ini demi pembangunan.”

Namun anehnya, pembangunan itu kadang terlihat lebih dulu di rekening pejabat daripada di kehidupan rakyat.

Di titik itulah slogan “Pati ora sepele” mulai menemukan maknanya. Ini seperti pesan yang dikirim masyarakat kepada kekuasaan. Bahwa kesabaran bukan berarti kebodohan. Bahwa diam bukan berarti tidak melihat. Bahwa santun bukan berarti bisa diperlakukan sewenang-wenang.

Orang Pati mungkin tidak suka ribut. Tapi sejarah selalu menunjukkan satu hal. Ketika rasa keadilan mulai diinjak terlalu sering, masyarakat kecil bisa berubah menjadi sangat sulit diprediksi.

Bukan karena mereka suka konflik. Tapi karena mereka tahu satu hal penting: Jika rakyat terus diam, kekuasaan sering kali semakin arogan.

Slogan “Pati ora sepele” sebenarnya bukan ajakan untuk melawan pemerintah. Ini justru pengingat agar pemerintah tetap waras. Bahwa kekuasaan itu bukan alat memperkaya diri. Bahwa anggaran daerah bukan ladang proyek pribadi.

Ironisnya, di banyak tempat di negeri ini, pejabat sering baru ingat rakyat ketika menjelang pemilu.
Saat itu jalan tiba-tiba diperbaiki. Baliho penuh dengan senyum.

Baca Juga :  Hilangnya Tanggung Jawab dan Tak Ada Arah Kaderisasi PMII Kota Padang

Janji diucapkan dengan penuh keyakinan. Setelah kursi didapat, rakyat kembali menjadi angka statistik. Pati tampaknya tidak ingin terlalu lama hidup dalam siklus seperti itu.

Kalimat “Pati ora sepele” adalah bentuk kesadaran baru masyarakat. Bahwa menjaga daerah bukan hanya tugas pemerintah. Tapi juga tugas warga. Bahwa kekuasaan perlu diawasi.
Bahwa pejabat perlu diingatkan. Dan bahwa korupsi, sekecil apa pun, tetaplah korupsi.

Masyarakat Pati mungkin tidak selalu berteriak. Tapi mereka punya satu kelebihan yang sering diremehkan oleh kekuasaan: daya ingat panjang. Mereka ingat janji.

Mereka ingat kebijakan. Mereka ingat pengkhianatan. Dan mereka juga ingat siapa saja yang pernah mencoba mempermainkan kepentingan rakyat.

Karena itu, kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Tapi maknanya dalam. Pati ora sepele. Ini bukan sekadar slogan. Ini adalah sikap.

Sikap bahwa masyarakat Pati ingin pemerintahan yang bersih. Sikap bahwa rakyat tidak mau lagi diperlakukan sebagai penonton. Dan sikap bahwa kekuasaan tidak boleh digunakan untuk permainan kotor.

Bagi siapa pun yang sedang duduk di kursi jabatan di Pati, kalimat ini sebaiknya tidak dianggap angin lalu. Karena di balik kalimat itu ada pesan yang sangat jelas: Jabatan boleh tinggi.

Kekuasaan boleh besar. Tapi rakyat tetap lebih besar. Dan rakyat Pati sedang mengingatkan satu hal sederhana—Pati ora sepele. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB