Ironi HUT RI Ke-80: Rakyat Mana yang Sejahtera di Tengah Kenaikan Pajak dan Gaji Pejabat?

- Penulis

Kamis, 14 Agustus 2025 - 18:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gussalim Maula, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Universitas Wahid Hasyim Semarang

Gussalim Maula, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Universitas Wahid Hasyim Semarang

Oleh: Gussalim Maula *)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di tengah semarak persiapan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 pada 17 Agustus 2025, tema besar “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” terdengar megah dan penuh harapan.

Namun, gaung tema tersebut terasa sumbang di telinga sebagian besar masyarakat yang justru tengah berhadapan dengan kenyataan pahit. Pertanyaan krusial pun menggema: rakyat mana yang sebenarnya dimaksud dalam slogan kesejahteraan itu?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tema HUT RI tahun ini mengedepankan persatuan sebagai kunci kemajuan dan kesejahteraan. Pemerintah menegaskan bahwa kedaulatan bangsa harus diperkuat dengan pembangunan yang adil dan merata. Namun, serangkaian kebijakan yang diambil belakangan ini justru dinilai publik bertolak belakang dengan cita-cita tersebut.

Gelombang protes yang dipicu oleh kenaikan pajak secara drastis menjadi bukti nyata keresahan di tingkat akar rumput. Dimulai dari aksi massa besar-besaran di Kabupaten Pati pada 13 Agustus lalu yang menolak kenaikan pajak hingga 250%, gejolak serupa dengan cepat menyebar ke berbagai daerah lain dengan angka yang lebih fantastis.

Baca Juga :  Memaknai 80 Tahun Merdeka: Merdeka dari Pemimpinnya Sendiri

Dalam pantauan penulis, Kabupaten Bone, misalnya, kenaikan pajak hingga 300 persen. Demikian pula dengan Kabupaten Semarang, yang diam-diam rupanya juga menaikkan pajak hingga 400 persen. Tragisnya, kenaikan pajak di Kota Cirebon dan Jombang bahkan mencapai 1000 persen.

Pemerintah berdalih bahwa kebijakan ini diambil demi meningkatkan pendapatan daerah untuk program kesejahteraan masyarakat. Namun, bagi warga yang terdampak, dalih tersebut terasa ironis. Bagaimana kami bisa sejahtera jika untuk membayar pajak saja kami harus berhutang? Ini bukan menyejahterakan, ini sangat mencekik.

Kontras yang menyakitkan terjadi di waktu yang bersamaan. Di tengah jeritan rakyat atas beban pajak, tersiar pula kabar bahwa gaji anggota DPR RI naik Rp3 juta. Alasannya, sebagai kompensasi.

Kabarnya, para legislator tidak lagi menerima fasilitas rumah dinas. Kebijakan ini sontak menuai kritik tajam, dianggap tidak peka terhadap kondisi ekonomi mayoritas warga yang masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Siapa Subjek, Siapa Objek?

Fenomena ini memaksa kita untuk menelaah kembali siapa yang menjadi subjek dan objek dalam tema besar kemerdekaan. Publik dan para pengamat menilai, dalam rentetan kebijakan ini, rakyat seolah hanya menjadi objek—sumber pendapatan negara melalui pajak yang tinggi dan target dari retorika pembangunan.

Baca Juga :  Kurikulum Lesehan, Pembebas Paradigma Pedagogi

Rakyat diposisikan sebagai pihak yang harus berkorban demi cita-cita besar negara. Sementara itu, yang menikmati ‘kesejahteraan’ dan menjadi subjek dari kebijakan tersebut justru adalah segelintir elite dan pejabat negara.

Mereka adalah pihak yang merumuskan aturan, sekaligus menjadi penerima manfaat langsung dari peningkatan pendapatan, baik secara kelembagaan maupun personal.

Peringatan kemerdekaan ke-80 ini menjadi momen refleksi yang krusial. Disonansi antara narasi agung “Rakyat Sejahtera” dengan realitas kebijakan yang membebani telah menciptakan krisis kepercayaan.

Pertanyaan ‘rakyat mana yang sejahtera’ kini menggema lebih keras dari gempita perayaan itu sendiri, menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati diukur dari kesejahteraan seluruh warganya, bukan hanya sebagian. (Red)

*) Gussalim Maula, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Universitas Wahid Hasyim Semarang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 3 kali dibaca

1 Komentar

  • Saya sangat mengapresiasi masyarakat Pati semoga menjadi contoh bagi daerah sekitar agar menjadikan pelajaran para pejabat”lainnya agar tidak semena-mena dalam mengambil keputusan!!

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB