Sudewo, Bupati Pajak dari Bumi Pesantenan (Bupati yang Lupa Kekuasaan Datang dari Rakyat)

- Penulis

Kamis, 7 Agustus 2025 - 08:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tugu Pati (dok istimewa)

Tugu Pati (dok istimewa)

Oleh: Ali Achmadi*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Saya tertegun. Bukan karena semata mata angka 250 persen itu. Tapi karena kepongahan seorang bupati yang belum genap setahun duduk di kursi empuk sebagai Bupati Pati. Angka bisa dibantah. Tapi narasi tak bisa dibohongi.

“Silakan demo! Jangankan lima ribu, lima puluh ribu pun saya tidak gentar!” Begitu ucap Sudewo, Bupati Pati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan dalam forum tertutup. Tapi di depan publik. Di hadapan masyarakat yang keberatan. Yang ‘megap-megap’ karena mendadak tanah dan rumahnya dikenai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) berkali lipat dari sebelumnya.

Saya membayangkan wajah-wajah petani di Gunungwungkal, pedagang kecil di Tayu, sampai guru honorer dan guru madrasah di Sukolilo.

Mereka bukan tak mau bayar pajak. Tapi mereka kaget. Bingung. Gelagepan! Dan ketika ingin bertanya, yang datang bukan jawaban—melainkan tantangan.

PBB adalah pajak yang paling dekat dengan rakyat. Namanya saja “bumi dan bangunan”. Kebanyakan orang punya, semua orang kena. Dan ironisnya: semakin diam rakyat, semakin tega pemerintah menaikkan. Ini bukan hanya soal pajak, ini soal arah kepemimpinan.

Seorang pemimpin sejati tahu bahwa kekuasaan datang dari rakyat, dan untuk rakyat. Ketika suara rakyat tidak didengar, ketika aksi protes dijawab dengan tantangan, maka sesungguhnya yang rusak bukan hanya relasi sosial, tapi juga legitimasi moral.

Baca Juga :  Jangan Sampai Jadi Semarang Kedua, Pati Harus Lebih Serius Urus Banjir Rob Wilayah Pesisir

Kenaikan 250 persen ini bukan sekadar soal angka. Ini soal rasa. Dan keadilan. Apa pertimbangannya? Apa kajiannya? Di mana proses sosialisasinya?

Saya tidak tahu apakah Bupati Sudewo sedang mencoba jadi tokoh utama dalam novel distopia. Tapi gaya kepemimpinannya akhir-akhir ini lebih mirip gubernur militer zaman Orde Baru.

Yang rakyatnya diminta patuh tanpa banyak tanya. Yang kalau keberatan, dijawab: demo saja.

“Tidak boleh ada bargaining,” katanya lagi, merujuk pada perintahnya kepada camat dan kepala desa.

Artinya, rakyat tidak mengeluh, tidak boleh sambat. Tidak boleh mengajukan keberatan. Tidak boleh mengatur ulang zonasi. Pokoknya: harus manut. Titik!

Ini bukan cara memimpin yang beradab. Ini bukan cara memperlakukan rakyat yang sudah susah payah mencoblosnya di pilkada kemarin. Lalu, kenapa ini terjadi?

Ada yang bilang ini demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ada yang menyebut ini bagian dari “ketegasan”. Ada pula yang mengaitkan ini dengan gaya Prabowo di pusat—yang katanya tegas dan berani.

Tapi mari kita bedakan antara tegas dan pongah. Tegas itu artinya adil dan konsisten. Pongah itu artinya: keras kepala dan merasa paling benar. Dan sayangnya, di titik ini, Sudewo tampak memilih jalan yang kedua.

Saya membayangkan seandainya Gus Dur masih ‘sugeng’ dan hari ini datang ke Pati, mungkin beliau akan mengajak sang bupati makan nasi gandul. Mungkin sambil bilang: “Wong itu butuh didengarkan, bukan ditantang.”

Baca Juga :  Integritas ASN di Era Kejahatan Kontemporer: Kekuatan Fisik dan Mental Jadi Senjata Utama

“Saya pernah jadi pemimpin. Dan saya tahu, semakin tinggi jabatan, seharusnya semakin rendah hati.”

Tapi Sudewo memilih naik jabatan sekaligus naik nada bicara. Entahlah. Saya cuma warga biasa. Yang tak punya panggung. Tapi punya pikiran. Dan perasaan.

Dan melihat hari ini, rakyat Pati merasa dicekik oleh pemimpinnya sendiri. PBB naik 250 persen. Aspirasi tak boleh dinegosiasi. Dan kritik dibalas tantangan untuk demo.

Ini bukan Pati yang dulu saya kenal. Ini bukan bupati yang dulu saya harapkan. Semoga elit-elit Gerindra di pusat—dan terutama Presiden Prabowo—mendengar ini.

Tahu bahwa kadernya di Pati sedang membuat rakyat mengelus dada. Bahwa kadernya bukan sedang mensejahterakan, tapi sedang mencekik.

Kalau tidak, jangan salahkan rakyat kalau di pemilu berikutnya, suara Pati berubah jadi sunyi. Atau lebih parah: jadi sorak-sorai demo, seperti yang diundang sendiri oleh sang bupati.

Sejarah akan mencatat, bukan hanya siapa yang pernah memimpin, tapi juga bagaimana ia memperlakukan rakyatnya. (Red)

*) Ali Achmadi, seorang praktisi pendidikan dan pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati, Jawa Tengah

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB