Saat Suara Rakyat Dibalas Tantangan: Respon atas Pernyataan Bupati Pati Soal Pajak 250 Persen

- Penulis

Sabtu, 26 Juli 2025 - 01:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ali Achmadi, 
Tenaga Pengajar dan Kabid Humas Yayasan Ar Raudloh
Perguruan Islam Raudlatut Tholibin Pakis - Pati

Ali Achmadi, Tenaga Pengajar dan Kabid Humas Yayasan Ar Raudloh Perguruan Islam Raudlatut Tholibin Pakis - Pati

Oleh: Ali Achmadi*) 

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pernyataan Bupati Pati, Sudewo, dalam menanggapi rencana aksi demo menolak kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 250% pada 13 Agustus 2025 bukan hanya mencederai perasaan masyarakat, namun juga memperlihatkan wajah kekuasaan yang kehilangan empati.

Ketika rakyat mengadukan beban hidup yang kian berat, pemimpinnya justru menyambut dengan kalimat bernada tantangan: “Silakan demo. Jangankan lima ribu atau lima puluh ribu orang, saya tidak akan gentar.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan ekspresi ketegasan seorang pejabat publik. Ini adalah cermin dari arogansi dan kegagalan mendasar dalam memahami esensi kepemimpinan dalam negara demokrasi.

Seorang pemimpin yang baik seharusnya mendengar, bukan melawan. Merangkul, bukan menghardik. Kalimat “Saya tidak akan tunduk pada tekanan massa” mungkin terdengar heroik bagi sebagian, tapi pada dasarnya justru menginjak-injak prinsip kedaulatan rakyat yang menjadi fondasi pemerintahan itu sendiri.

Pajak: Antara Kewajiban dan Keadilan

Tidak ada rakyat yang menolak membayar pajak. Namun, rakyat berhak menuntut keadilan, transparansi dan kewajaran dalam penetapannya.

Baca Juga :  Peran Strategis Masjid dalam Kehidupan Mahasiswa: Studi Kasus Kegiatan LDK di Kampus

Kenaikan PBB hingga 250% bukan hal sepele, apalagi di tengah kondisi ekonomi daerah dan nasional yang tidak sepenuhnya stabil akibat dari kondisi politik dan ekonomi global.

Jika kebijakan ini dibuat tanpa kajian sosial yang komprehensif dan tanpa melibatkan partisipasi masyarakat, maka yang terjadi adalah pemaksaan kehendak dari atas—yang menjadikan rakyat hanya sebagai objek kebijakan, bukan subjek pembangunan.

Respons warga yang menyampaikan kekecewaannya di berbaga media sosial adalah ekspresi luka batin yang jujur: “Pie to pak, aku gelo milih sampean. Sampean ora mbantu rakyatmu malah nantang koyok ngono. Allah mboten sare, Pak.”

Kalimat ini tidak sekadar kekecewaan personal, tapi perwakilan dari rasa dikhianati oleh pemimpin yang semestinya melindungi, bukan melawan.

Kepemimpinan Bukan Tentang Kekuatan, Tapi Keteladanan

Sikap “tidak gentar” terhadap masyarakat yang demo tidak bisa diartikan sebagai keberanian seorang pemimpin menghadapai rakyatnya, tapi merupakan bentuk ketidakpedulian.

Apalagi jika disertai instruksi kepada jajaran pemerintah agar “tidak menjalin bargain apapun dengan pendemo.” Ini menandakan ditutupnya ruang dialog antara rakyat dan pemerintah, dan justru menjadi ciri khas rezim otoriter, bukan demokratis.

Baca Juga :  "Maret Berkah", Ramadhan 2025 dan Oase Perdamaian

Pemimpin seharusnya menjadikan suara rakyat sebagai kompas, bukan sebagai musuh. Mereka yang turun ke jalan bukan sekadar “massa,” tapi manusia dengan beban ekonomi, harapan akan keadilan, dan rasa ingin didengar.

Tantangan terhadap aspirasi rakyat hanya akan memperlebar jurang ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah.

Harapan untuk Pati dan Indonesia

Pati, sebagai bagian dari Indonesia yang demokratis, semestinya menjadi teladan dalam merawat dialog antara pemerintah dan rakyat.

Kenaikan PBB bisa dibahas, dikaji ulang, bahkan dinegosiasikan melalui forum terbuka. Tapi ketika pemerintah bersikap tertutup dan menantang rakyat, maka yang terjadi bukan lagi kebijakan publik, melainkan pemaksaan kekuasaan.

Semoga pemerintah daerah, terutama Bupati Pati, dapat segera menyadari bahwa kekuasaan bukan hak istimewa untuk menantang, tetapi amanah untuk melayani. Dan semoga rakyat tetap bersatu, menjaga marwah demokrasi tanpa harus kehilangan akal sehat di tengah provokasi penguasa. (Red)

*) Ali Achmadi, pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB