Trump Turunkan Tarif untuk Indonesia, Pakar Ingatkan Bahaya Ketergantungan pada AS

- Penulis

Rabu, 16 Juli 2025 - 19:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump/ pinterest.com

Presiden AS Donald Trump/ pinterest.com

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Presiden Donald Trump menurunkan tarif impor produk Indonesia dari 32% menjadi 19% setelah pembicaraan langsung dengan Presiden terpilih Indonesia, Prabowo Subianto.

Kebijakan ini membuat tarif untuk Indonesia lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Trump juga menyatakan bahwa produk Amerika Serikat (AS) akan dimudahkan masuk ke pasar Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, Ami Maulana, pakar hubungan Indonesia-Rusia dari ANO Center Mediastrategi, memperingatkan bahwa hasil negosiasi ini bukanlah win-win solution (solusi saling menguntungkan) bagi kedua negara.

Baca Juga :  China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global

“Ini adalah keuntungan bagi AS, sementara posisi Indonesia dipaksa mengikuti cara berdagang AS. Produk AS akan membanjiri Indonesia, menciptakan ketergantungan ekonomi,” ujarnya.

Ami menyarankan agar pemerintah Indonesia memperluas jaringan pasar di luar AS, memanfaatkan kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara-negara Eropa dan BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa– kelompok negara ekonomi berkembang utama).

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara Non-Blok (tidak berpihak pada blok politik tertentu), yang harus menjaga prinsip kedaulatan dalam setiap kerja sama internasional. Dalam hal ini Indoensia harus bebas dari ketergantungan kepada AS

Baca Juga :  Rudal Nuklir AS di Inggris: Benarkah Rusia Masih Jadi Ancaman Utama?

Sejarah mencatat Indonesia sebagai salah satu pelopor Gerakan Non-Blok dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika, yang melahirkan Dasa Sila Bandung (sepuluh prinsip dasar hubungan internasional).

Prinsip-prinsip ini, menurut Ami, masih relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik saat ini. (Red)

Penulis: Vadim Varigim

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB