Tumbuh Tapi Megap-Megap: ‘In This Economy’

- Penulis

Sabtu, 21 Juni 2025 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nurina P. Sari, Analis Media dan Penggerak Komunitas Ibu Peduli Generasi  Kota Depok

Nurina P. Sari, Analis Media dan Penggerak Komunitas Ibu Peduli Generasi Kota Depok

Oleh: Nurina P. Sari*)

SUARAMUDA, SEMARANG – Ekonomi Indonesia digadang-gadang tetap tumbuh ditengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak. Itulah yang diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil mencapai angka pertumbuhan 4,87% di kuartal I-2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Walaupun sedikit melambat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 5,11%, tetapi capaian tersebut dianggap positif di tengah kondisi global yang jatuh bangun bak roller coaster.

Ramadan dan Idulfitri lalu, juga disebut punya andil besar memberikan sumbangsih pertumbuhan ekonomi. Ya wajar, karena konsumsi rakyat meningkat di momen tersebut.

Masyarakat Indonesia (Sedang) Miskin

Ironisnya, Bank Dunia baru saja merilis persentase orang miskin di Indonesia kini mencapai 68,25% dari total populasi. Itu berarti sekitar 194,6 juta orang masuk kategori miskin versi baru.

Dalam laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2025, Bank Dunia menetapkan bahwa penduduk Indonesia yang memiliki pengeluaran kurang dari USD6,85 atau sekitar Rp113.777 per hari (kurs Rp16.606) tergolong sebagai kelompok miskin.

Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Badan Pusat Statistik (BPS RI) seakan menyanggah perhitungan tersebut.

Dengan menyatakan bahwa hal tersebut disebabkan semata-mata soal perbedaan metodologi yang dipakai dalam menghitung garis kemiskinan.

Tapi tetap saja, realitas di lapangan tidak bisa dipoles statistik: harga barang-barang melambung, gaji seret, PHK massal dimana-mana, dan biaya hidup juga makin menggila. Tumbuh tapi megap-megap: ‘In This Economy’.

Kebijakan Populis Justru Jadi Pilihan?

Sayangnya, kebijakan pemerintah cenderung fokus pada berbagai program populis seperti guyuran bansos, Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, program tiga juta rumah, dan program-program lainnya.

Efektivitas program pemerintah tersebut patut dipertanyakan karena menghamburkan anggaran negara yang tidak sedikit.

Baca Juga :  Ketika Mimpi Kerja di Luar Negeri Berujung Perbudakan Modern

Dari sudut pandang konteks ekonomi makro, pemerintah justru menerbitkan berbagai kebijakan yang lebih memihak korporasi dan oligarki.

Ini sejalan dengan hasil riset Center of Economic and Law Studies (Celios) pada 2024 yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terdistribusi secara merata.

Sejak 2020 hingga 2023, kekayaan tiga orang terkaya di Indonesia meningkat lebih dari 174%, sedangkan upah seluruh pekerja di Indonesia pada periode yang sama hanya tumbuh 15%.

Hal ini diperkuat oleh laporan Global Inequality Report 2022 menyebutkan Indonesia sebagai negara keenam dengan ketimpangan kekayaan tertinggi di dunia.

Empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan lebih besar dari total kekayaan 100 juta penduduk termiskin.

Ironi Indonesia Miskin!

Ditambah dengan ironi kemiskinan di negeri zamrud khatulistiwa yang memiliki segudang sumber daya alam melimpah ruah.

Bayangkan saja, Indonesia negara nomor satu penghasil nikel dan sawit terbesar di dunia, penghasil timah nomor dua di dunia, di susul penghasil nomor tiga dan empat batu bara dan tambang emas terbesar di dunia.

Tapi anehnya, pemasukan negara dari sumber daya alam (SDA) cuma segitu-gitu saja yang mentok di angka 7%. Sisanya? Disubsidi rakyat lewat pajak yang nyaris menyentuh 83%.

Terjadinya kemiskinan di Indonesia—padahal negeri ini kaya SDA, menegaskan ada faktor absennya penguasa dalam mencukupi kebutuhan rakyat.

Apapun dalih yang disampaikan oleh pemerintah, sekecil apa pun angka kemiskinan semestinya tidak dibiarkan, apalagi sampai berlarut-larut.

Jelas, ini menunjukkan bahwa kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di Indonesia bersifat struktural.

Penyebab utamanya adalah penerapan sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme memungkinkan akumulasi kekayaan di tangan segelintir elit, sementara mayoritas rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Adanya dominasi konglomerasi atas sektor strategis juga memperburuk kondisi ini.

Baca Juga :  Kapitalisme Modern: Handphone sebagai Alat Penjajahan!

Di sisi lain, negara yang seharusnya melayani rakyat, sering abai dalam menyediakan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Hal ini menciptakan kesenjangan ekonomi yang sangat parah.

Sistem Islam sebagai Alternatif

Begitulah tabiat kapitalisme yang senantiasa membuahkan rekam jejak derita. Kemiskinan sejatinya bisa diatasi, bukan melalui sistem ekonomi kapitalisme, melainkan dengan sistem Islam.

Sebab Islam memandang bahwa kemiskinan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer (sandang, pangan, dan papan) secara menyeluruh individu per individu. Islam telah menjadikan upaya pemenuhan kebutuhan primer adalah wajib.

Maka sistem politik dan ekonomi wajib menjaga keberlangsungan dan keseimbangan distribusi ekonomi, bahkan menjamin agar semua individu rakyat bisa makan dengan porsi cukup tanpa ancaman kelaparan.

Negara juga menjamin tersedianya lapangan kerja bagi rakyat, khususnya bagi para laki-laki dewasa sehingga mereka bisa mencari nafkah untuk keluarganya.

Negara dalam Islam tidak akan membiarkan kapitalisasi sektor-sektor publik seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dan transportasi.

Sebaliknya, negara justru mengelola semua sektor publik itu agar bisa berwujud pelayanan gratis bagi rakyat.

Dengan sistem dan kepemimpinan Islam, kebutuhan dasar rakyat berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan akan terpenuhi secara individu per individu.

Sistem Islam juga melarang kepemilikan dan pengelolaan aset-aset strategis, seperti minyak, gas, air, dan hutan diserahkan kepada individu atau korporasi.

Sehingga tidak terjadi akumulasi kekayaan di tangan segelintir orang, sementara masyarakat luas justru kehilangan akses terhadap hak-hak ekonominya. [Red]

*) Nurina P. Sari, Analis Media dan Penggerak Komunitas Ibu Peduli Generasi Kota Depok

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB