Darurat Femisida di Sumatera Barat, Saatnya Perempuan Bergerak

- Penulis

Senin, 30 Juni 2025 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Novita Hidayani adalah Ketua KOPRI PMII Kota Padang

Novita Hidayani adalah Ketua KOPRI PMII Kota Padang

Oleh: Novita Hidayani*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Beberapa waktu terakhir, Sumatera Barat kembali diguncang kabar yang begitu menyayat hati. Tiga perempuan muda ditemukan tewas dalam kondisi yang sangat nahas.

Bukan hanya kehilangan nyawa, tapi juga martabatnya direnggut secara brutal. Bagi sebagian orang, mungkin ini terdengar seperti satu dari sekian banyak kasus kriminal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi bagi banyak perempuan, ini adalah mimpi buruk yang terasa amat nyata, bahwa menjadi perempuan, di negeri ini, bisa berarti hidup dalam ketakutan terus-menerus.

Peristiwa ini tidak datang tiba-tiba. Ia bukan petir di siang bolong. Ia lahir dari tanah yang terlalu lama membiarkan kekerasan terjadi dalam diam-dalam bisik-bisik, dalam pembiaran, dalam sistem hukum yang seringkali lambat merespons.

Dan di tengah rasa marah dan sedih itulah, para kader Kopri PMII Kota Padang berdiri. Mereka turun ke jalan, bukan untuk mencari perhatian, tapi karena tak tahan lagi melihat perempuan terus jadi korban.

Aksi mereka sederhana, berdiri tegak di depan kantor gubernur untuk membawa suara-suara yang selama ini nyaris tak terdengar.

Baca Juga :  Distorsi Kebijakan: Anggaran Dipangkas, Militerisasi Menguat, Demokrasi Terancam

Yang mereka suarakan pun bukan tuntutan yang muluk-muluk. Mereka minta perlindungan yang nyata.

Mereka ingin UU TPKS benar-benar dijalankan, bukan hanya jadi dokumen yang dipajang di rak buku kantor dinas.

Mereka minta sistem pendampingan korban yang hadir bukan sekadar lewat prosedur, tapi lewat empati.

Mereka bicara tentang DP3A, tentang penegakan hukum, tentang keberpihakan negara. Tapi lebih dari itu, mereka bicara tentang harapan.

Tentang bagaimana seharusnya perempuan bisa hidup tanpa was-was setiap kali melangkah sendirian.

Karena yang terjadi di Padang Pariaman bukan yang pertama. Dan, kalau kita jujur, mungkin juga bukan yang terakhir jika kita terus diam.

Dalam setahun terakhir saja, sudah beberapa kali kasus serupa muncul di Sumatera Barat. Polanya berulang: perempuan jadi sasaran, pelaku sering tak tertangkap, dan masyarakat kembali lupa setelah media berhenti memberitakan.

Ini bukan kebetulan. Ini tanda bahwa ada yang salah di dasar sistem kita. Bahwa budaya membungkam korban, menyalahkan cara berpakaian, dan mengabaikan trauma masih sangat kuat mencengkeram.

Baca Juga :  Kopri PMII Kota Padang Gelar Aksi Solidaritas untuk Perempuan, Darurat Femisida di Sumbar!

Tak bisa hanya berharap pada satu-dua aksi saja. Butuh kerja kolektif, lintas sektor, dan yang paling penting: butuh keberanian untuk mengubah cara pandang.

Kekerasan terhadap perempuan bukan cuma soal hukum, tapi soal cara kita sebagai masyarakat memandang perempuan itu sendiri.

Selama mereka masih dianggap sebagai pihak yang “harus hati-hati”, bukan pihak yang berhak atas rasa aman, maka masalah ini akan terus berulang.

Kita tak butuh lagi spanduk besar bertuliskan “Stop Kekerasan terhadap Perempuan” jika di belakangnya tak ada sistem yang benar-benar berjalan.

Yang kita butuhkan sekarang adalah keberpihakan yang nyata dalam penegakan hukum, dalam pendidikan, dalam media, bahkan dalam ceramah-ceramah keagamaan.

Di tengah semua itu, aksi Kopri PMII Kota Padang adalah pengingat penting bahwa perempuan tidak tinggal diam.

Bahwa mereka tak akan lagi hanya menunggu dilindungi, tapi akan menuntutnya. Karena rasa aman bukan hadiah. Itu hak yang seharusnya sudah mereka miliki sejak lama. (Red)

*) Novita Hidayani adalah Ketua KOPRI PMII Kota Padang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan
Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Ilustrasi: suaramuda.net

Sino Insight

China Pimpin BRICS 2027, Dedolarisasi Kembali Jadi Sorotan

Rabu, 30 Sep 2026 - 13:42 WIB

KILAS GLOBAL

Mengapa Greenland Penting bagi AS, Eropa, dan Masa Depan Arktik

Rabu, 30 Sep 2026 - 12:28 WIB

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB