Dari Kompor ke Konten: Cerita Sukses Kuliner Bangka di Era Digital

- Penulis

Senin, 5 Mei 2025 - 22:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Fibri Nailil Muna, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Fibri Nailil Muna, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Oleh: Fibri Nailil Muna *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Dari mie koba yang gurih, otak-otak yang legit, hingga lempah kuning yang kaya rempah, makanan-makanan ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga peluang besar dalam dunia bisnis di Pulau Bangka.

Cita rasa yang autentik, bahan baku lokal, serta resep turun-temurun memberikan nilai jual tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, cara masyarakat Bangka menjalankan usaha kuliner juga mengalami transformasi. Jika dahulu pemasaran bergantung pada mulut ke mulut, kini pelaku usaha mulai beralih ke ranah digital.

Era digital telah mengubah wajah bisnis kuliner lokal, menciptakan peluang baru bagi UMKM untuk berkembang, sekaligus menuntut kemampuan manajerial yang adaptif dan inovatif. Era digital telah membawa peluang besar bagi pelaku usaha.

Media sosial, aplikasi pesan-antar makanan, hingga sistem pembayaran digital menjadi alat penting dalam membangun dan mengembangkan usaha. Di sinilah ilmu manajemen memegang peran penting.

Dalam konteks bisnis kuliner, manajemen tidak hanya sebatas mengatur proses produksi, tetapi juga mencakup pemasaran, keuangan, operasional, hingga pengelolaan sumber daya manusia.

Pelaku usaha yang mampu menggabungkan prinsip-prinsip manajerial dalam bisnisnya akan lebih siap bersaing dan beradaptasi dengan perubahan.

Dalam konteks manajemen pemasaran, transformasi digital telah membuka akses bagi pelaku usaha kuliner lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook digunakan untuk memperkenalkan makanan khas dengan pendekatan visual yang menarik.

Baca Juga :  Mentalitet Korea ala Bambang Pacul: Etos Melenting dan Nasionalisme Marhaen

Konten seperti proses pembuatan mie koba secara tradisional atau cerita sejarah di balik resep keluarga menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak hanya itu, penggunaan layanan pemesanan makanan online seperti GoFood, GrabFood, hingga fitur pesan-antar dari media sosial membantu pelaku UMKM memperluas distribusi tanpa harus memiliki toko fisik.

Strategi pemasaran digital ini menjadi kunci penting dalam membangun brand awareness dan loyalitas pelanggan. Dari sisi manajemen operasional, pelaku usaha mulai menerapkan sistem yang lebih terstruktur.

Beberapa UMKM di Bangka mulai membuat jadwal produksi harian, mengelola stok bahan baku lebih cermat, hingga menciptakan varian menu baru berdasarkan permintaan pasar.

Inovasi juga dilakukan dalam hal pengemasan, yang kini lebih menarik, higienis, ramah lingkungan dan menyesuaikan dengan tren pasar modern.

Selain itu, dengan meningkatnya pesanan daring, pelaku usaha juga perlu mempertimbangkan sistem distribusi yang efisien.

Manajemen keuangan juga menjadi aspek yang mendapat perhatian. Banyak pelaku usaha kecil mulai belajar mencatat arus kas, menghitung margin keuntungan, hingga merancang anggaran bulanan.

Beberapa menggunakan aplikasi kasir digital atau sekadar spreadsheet sederhana untuk membantu pencatatan. Ini adalah langkah penting menuju transparansi dan pengambilan keputusan yang lebih berbasis data.

Dalam hal manajemen sumber daya manusia, sebagian usaha kuliner rumahan melibatkan keluarga atau tenaga kerja lokal.

Pembagian tugas, pembinaan kualitas pelayanan, dan pemberian insentif menjadi bagian dari proses pengelolaan SDM yang mulai diterapkan, meski dalam skala kecil.

Di balik peluang, tentu terdapat tantangan. Salah satunya adalah rendahnya literasi digital di kalangan pelaku UMKM yang lebih tua.

Baca Juga :  Ekonomi Syariah “Penyelamat” Ekonomi Perkotaan yang Terlupakan di Tahun 1998

Tidak semua pelaku usaha memiliki keterampilan dalam membuat konten, mengatur toko online, atau memahami algoritma media sosial.

Di sinilah peran pendidikan, termasuk dari program studi Manajemen, sangat dibutuhkan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan yang relevan.

Keterbatasan modal juga menjadi hambatan umum. Tidak semua pelaku usaha mampu membeli alat produksi modern, memperluas distribusi, atau berinvestasi dalam pemasaran digital.

Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan lembaga keuangan sangat penting dalam menciptakan ekosistem bisnis yang mendukung pertumbuhan kuliner lokal Bangka.

Bisnis kuliner lokal di Bangka sedang mengalami fase pertumbuhan yang menjanjikan di tengah era digital.

Dengan pendekatan manajerial yang adaptif dari pemasaran digital, pengelolaan operasional, hingga keuangan dan SDM, pelaku usaha kuliner memiliki peluang besar untuk naik kelas dan menembus pasar nasional bahkan global.

Namun demikian, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai jika dibarengi dengan upaya peningkatan kapasitas, edukasi berkelanjutan, serta sinergi antara pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah.

Mahasiswa dan lulusan Manajemen memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi ini melalui riset, pengabdian masyarakat, dan inovasi model bisnis.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kuliner Bangka bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang strategi dan keberlanjutan bisnis di era digital. (Red)

*) Fibri Nailil Muna, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah, isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB