Ketika Moral Cuma Jadi Dagangan Politik

- Penulis

Kamis, 12 Juni 2025 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ali Achmadi, tinggal di Pati. Praktisi pendidikan dan aktif mengamati isu-isu pembangunan daerah

Ali Achmadi, tinggal di Pati. Praktisi pendidikan dan aktif mengamati isu-isu pembangunan daerah

Oleh: Ali Achmadi*)

SUARAMUDA, SEMARANG – Bupati Pati belakangan ini gencar menyuarakan pentingnya pendidikan karakter dan moral, terutama bagi pelajar dan generasi muda.

Pidato-pidato resmi yang memuat seruan untuk membangun bangsa melalui insan-insan berakhlak mulia telah menjadi narasi rutin yang terdengar dalam berbagai kesempatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, publik dikejutkan dengan potret nyata yang sangat bertolak belakang dari wacana moralitas tersebut.

Sebuah pertunjukan goyang seronok oleh Trio Srigala, yang dipertontonkan secara terbuka di depan bupati dan jajaran pejabat Kabupaten Pati.

Utamanya, dalam acara penyerahan badan hukum Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih serta penandatanganan MoU Hari Jadi Kabupaten, menjadi bukti yang memalukan dan mengguncang rasa keadilan moral masyarakat.

Kegiatan ini bukan sekadar soal selera hiburan. Ia menyangkut posisi moral seorang pemimpin yang sejatinya menjadi teladan, bukan justru turut merayakan tontonan yang secara kasat mata jauh dari nilai-nilai pendidikan, etika publik, maupun kearifan lokal.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang menyerukan pentingnya pembentukan karakter pelajar, justru mengizinkan—jika bukan menyambut—pertunjukan yang banal dan berpotensi merusak citra pemerintah di mata publik?

Pertunjukan semacam ini bukan hanya tidak sensitif terhadap nilai-nilai moral masyarakat, tetapi juga menunjukkan ketimpangan empati di tengah kebijakan yang sedang digodok dan menimbulkan kegelisahan publik: rencana kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250%.

Baca Juga :  Di Tengah Gempuran Digital, Mengapa Perpustakaan Masih Relevan?

Masyarakat Pati, yang sebagian besar adalah petani dan pekerja informal, dihadapkan pada beban finansial yang tidak ringan.

Di tengah keresahan itu, justru tersaji pemandangan para pejabat bersenang-senang dengan hiburan yang norak dan menjauh dari semangat keadaban publik.

Sungguh sebuah ironi yang terang benderang. Kesenjangan antara ujaran dan tindakan semakin mencolok.

Ketika rakyat diminta hidup prihatin, justru para elit pemerintahan tampak larut dalam perayaan tanpa kepekaan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah komitmen moral yang selama ini dikampanyekan benar-benar tulus, atau sekadar retorika politik tanpa pijakan etis?

Ironi ini bukan hanya menyakitkan—ia memalukan. Apalagi ketika pertunjukan tersebut terjadi di tengah acara penyerahan badan hukum Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan penandatanganan MoU Hari Jadi Kabupaten, sebuah agenda yang seharusnya menjadi simbol pembangunan, kemajuan masyarakat, dan komitmen negara terhadap rakyat kecil.

Tapi yang justru terjadi adalah pesta pora murahan yang menodai akal sehat dan menyinggung rasa keadilan masyarakat.

Acara semacam ini mencederai rasa keadilan moral masyarakat dan semakin menjauhkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.

Baca Juga :  PBB Naik 250% di Pati: Ketika Rakyat Menjerit, Pemerintah Tak Bergeming

Masyarakat tidak menuntut hiburan dihilangkan, tetapi mereka berharap pemimpinnya memiliki sensitivitas etis dan estetika publik.

Hiburan bisa tetap hadir dalam format yang mendidik, membangun semangat kolektif, dan tidak menimbulkan kegelisahan moral.

Pertunjukan seronok dan erotis di forum publik bukan sekadar soal etika hiburan—ini adalah penghinaan terhadap nilai-nilai masyarakat Pati yang mayoritas religius dan menjunjung tinggi kesantunan budaya.

Ini adalah simbol kelunturan kepemimpinan yang semestinya menjadi panutan. Dan lebih dari itu, ini adalah wajah nyata dari pemerintah yang gagal menjaga martabat di tengah rakyat yang sedang dituntut berkorban lebih.

Sebagai pemimpin, bupati semestinya mampu menjadi mercusuar arah moral dan kebudayaan masyarakat, bukan justru bagian dari problem yang melemahkan fondasi nilai itu sendiri.

Jika pendidikan karakter menjadi program unggulan, maka konsistensi moral dalam tindakan nyata adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar.

Kritik ini bukan semata untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa kepemimpinan sejati bukan diukur dari seberapa keras seorang pemimpin berbicara di podium, melainkan dari seberapa teguh ia menegakkan nilai dalam setiap laku dan kebijakan. (Red)

*) Ali Achmadi, praktisi pendidikan dan pemerhati masalah sosial kemasyarakatan, tinggal di Pati

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB