Sosial Keagamaan Qurban

- Penulis

Sabtu, 7 Juni 2025 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Kaisar Adam*)

SUARAMUDA, SEMARANG — Umat Islam sedang merayakan salah satu hari raya yang memiliki multifungsi dalam kehidupan sosial keagamaan. Ialah pelaksanaan qurban.

Qurban itu sendiri ialah bentuk merelakan rasa kepemilikan yang dimiliki manusia melalui perantara hewan seperti kambing, sapi, unta, domba dan qibas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal ini dicontohkan melalui peristiwa Nabi Ibrahim a.s yang merelakan anaknya Nabi Ismail a.s untuk menjalankan perintah Allah Swt.

Dalam hal ini Allah Swt sedang menguji ketaatan Nabi Ibrahim a.s terhadap perintahnya. Tak hayal, Nabi Ibrahim a.s pun melaksanakan dan menjalankan perintah tersebut.

Namun Allah Swt tak tinggal diam, Allah Swt mengganti Nabi Ismail a.s dengan seekor qibas untuk diqurbankan.

Melalui peristiwa ini dapat kita cermati bahwa Allah Swt akan menguji setiap hambanya dengan bentuk-bentuk ujian yang luar biasa besar dan berat.

Sebab, Allah Swt ingin melihat sejauh mana bentuk ketaatan manusia kepada Tuhannya, dalam hal ini pelaksanaan qurban.

Ritualitas Qurban

Di Indonesia sendiri, hari raya Idul Adha menjadi kegiatan tahunan yang dilakukan di banyak tempat dan sudah menjadi ciri khas bersama.

Baca Juga :  Indonesia di Tengah Badai Geopolitik: Antara Krisis Energi, Kerapuhan Ekonomi, dan Ujian Kedaulatan Kebijakan

Pelaksanaan hari raya ini dimulai dari sholat Id, serta pelaksanaan qurban.

Sebagai salah satu negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, pelaksanaan qurban sendiri membutuhkan ketersediaan hewan qurban yang besar pula.

Oleh sebab itu masyarakat berlomba untuk mencari hewan qurban sesuai dengan kesanggupan ekonomi masing-masing.

Namun, kondisi saat ini menurut proyeksi IDEAS (Institute for Demographic and Poverty Studies) mencatat jumlah shohibul qurban tahun 2025 turun menjadi 1,92 juta orang, yakni turun 233 ribu dari tahun lalu.

Penurunan ini juga terlihat dalam data pembagian daging kurban di beberapa daerah, seperti di Kota Kupang dan Kabupaten Sikka.

Ini merupakan dampak dari krisis daya beli masyarakat yang disebabkan oleh keadaan ekonomi yang menurun. Tak hayal, masyarakat cenderung menyimpan untuk kebutuhan jangka panjang.

Saya sendiri mempercayai bahwa pelaksanaan qurban sejatinya merupakan bentuk kerelaan untuk melepaskan atau membagikan rasa kepemilikan kita pada suatu hal atau barang.

Qurban dalam Perspektif Lain?

Melalui paradigma ini saya juga ingin mendorong pada semua, bahwa qurban tidak semestinya berbentuk hewan.

Bagi yang mempunyai kelapangan materi, qurban dapat melalui membangun sekolah, membuat sumur air bersih di tengah krisis air bersih masyarakat atau dapat menciptakan lapangan kerja yang bermatabat.

Baca Juga :  Perpustakaan Digital Sebuah Gengsi atau Suatu Keharusan?

Bagi yang tidak memiliki kelapangan ekonomi, mampu turut ikut berqurban melalui perpustakaan jalanan gratis, pelayanan medis gratis, menjadi pembimbing UMKM dan bahkan menjadi pengajar di daerah tertinggal.

Paradigma qurban saat ini yang hanya terpaku pada definisi hewan yang harus ada untuk di qurbankan perlu diperluas kembali.

Kita perlu mendorong kepada banyak pihak yang mempuyai kapasistas agar memperluas perspektif qurban itu sendiri, sehingga masyarakat tak putus asa jika tidak dapat melaksanakan qurban secara syariat Islam.

Melalui keberagaman perspektif ini akan menjadikan masyarakat mempunyai pilihan cara pandang saat melihat qurban sesuai dengan kemampuan sosial ekonominya.

Hal ini perlu didukung oleh banyak pihak dengan maksud menjadikan esensi qurban menjadi nyata dan mampu dirasakan betul oleh masyarakat.

Kita harus menyadari esensi kurban yang sebenarnya sehingga dapat menjadikan pelaksanaan qurban ini semakin baik dan dirasakan dampak kebaikannya pada masyarakat. (Red)

*) Kaisar Adam, mahasiswa Pascasarjana UHAMKA Jakarta

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB