Dilema Nalar Kritis Kita di Tengah Fenomena Artificial Intelligence

- Penulis

Minggu, 4 Mei 2025 - 01:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Alya Rahmadani, mahasiswa Akuntansi, Universitas Bangka Belitung

Alya Rahmadani, mahasiswa Akuntansi, Universitas Bangka Belitung

Oleh: Alya Rahmadani *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tak dipungkiri tumbuh sangat cepat, sehingga tanpa terasa betapa seringnya teknologi ini menjadi bagian dari keseharian.

Mulai dari asisten virtual di handphone, saran film, hingga aplikasi yang dapat merangkum teks atau menulis artikel, AI memudahkan semuanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik kemudahan yang diberikan muncul pertanyaan penting: apakah kecanggihan AI justru membuat kita semakin malas berpikir dan bertindak?

Dulu, mencari informasi berarti membuka buku, mencatat, dan menganalisis. Kini, tinggal mengetik pertanyaan, dan jawaban langsung muncul dalam hitungan detik.

Baca Juga :  Mencegah Provokasi: Hoaks dan Urgensi Pendidikan Pancasila

Efisien, tentu. Tetapi pernahkah kita berpikir apa yang akan terjadi jika terlalu bergantung sepenuhnya pada AI?

Ketika siswa menyerahkan tugas yang ditulis oleh chatbot, atau ketika kita tidak lagi mencoba mengingat arah karena semua diserahkan pada GPS.

Kita kehilangan sesuatu yang mendasar: kemampuan berpikir kritis dan inisiatif pribadi. AI memang alat yang sangat membantu, tapi bukan berarti kita berhenti belajar atau berusaha.

Kemalasan yang maksudkan bukan sekadar tidak ingin bergerak, melainkan melemahnya dorongan untuk memahami, menganalisis, dan mencipta.

Ironisnya, ketika teknologi semakin pintar, manusia justru bisa semakin pasif. Padahal, AI dibuat bukan untuk menggantikan otak manusia, tapi untuk mendukungnya.

Baca Juga :  Sumpah Pemuda: Memaknai Nasionalisme di Era Kecerdasan Buatan

Lantas bagaimana solusinya? Perlunya kesadaran dan keseimbangan pada diri kita. Gunakan AI sebagai alat, bukan penopang utama.

Biarkan AI mempermudah hidup, tapi jangan sampai menggantikan proses belajar dan berpikir kita. Teknologi yang cerdas tentu harus diimbangi dengan manusia yang bijak. (Red)

*) Alya Rahmadani, mahasiswa Akuntansi, Universitas Bangka Belitung
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah, isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru