Gema Abadi Pidato Bung Karno di Konferensi Asia Afrika

- Penulis

Jumat, 25 April 2025 - 09:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Rizalul Umam, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

Muhammad Rizalul Umam, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

Oleh : Muhammad Rizalul Umam *)

SUARAMUDA, SEMARANG — “Let a new Asia and a new Africa be born!” Kalimat itu menggelegar dari podium utama Gedung Merdeka, Bandung, pada 18 April 1955.

Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, berdiri tegak dengan dada membusung, suaranya membelah udara pagi yang penuh harapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Itulah pidato pembuka Konferensi Asia Afrika (KAA), momen bersejarah yang menjadi penanda bangkitnya solidaritas negara-negara dunia ketiga dari bayang-bayang kolonialisme dan imperialisme.

Pidato itu bukan sekadar sambutan seremonial. Ia adalah manifestasi politik, seruan ideologis, dan ajakan moral bagi bangsa-bangsa yang baru merdeka atau masih memperjuangkan kemerdekaan.

Bung Karno berbicara tidak hanya sebagai Presiden Indonesia, tetapi sebagai suara dunia yang ingin bebas menentukan nasibnya sendiri.

Latar Belakang KAA: Lahirnya Solidaritas Global Selatan

KAA diselenggarakan di tengah situasi dunia yang dilanda ketegangan Perang Dingin antara blok Barat (dipimpin Amerika Serikat) dan blok Timur (dipimpin Uni Soviet).

Di tengah pusaran ideologi kapitalisme dan komunisme, muncul negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka atau sedang berjuang merebut kemerdekaan.

Mereka memerlukan ruang sendiri, ruang yang bebas dari tekanan dua kekuatan besar dunia.

Indonesia, bersama India, Pakistan, Birma (kini Myanmar), dan Sri Lanka lima negara yang kemudian dikenal sebagai Five Initiating Countries menggagas pertemuan besar negara-negara Asia dan Afrika.

Tujuannya jelas: mempererat solidaritas, menolak kolonialisme dalam bentuk apapun, dan memperjuangkan perdamaian dunia.

Konferensi ini dihadiri oleh 29 negara yang mewakili lebih dari setengah populasi dunia.

Namun lebih dari sekadar kuantitas, yang membuat KAA monumental adalah kualitas semangatnya semangat perlawanan, semangat persaudaraan, dan semangat kemerdekaan.

Bung Karno: dari Retorika ke Visi Dunia Baru

Baca Juga :  Menyorot Kinerja Bappeda Kabupaten Sidoarjo dalam Penyusunan RPJMD 2021-2026

Dalam pidatonya, Bung Karno mengawali dengan kalimat yang menggugah:
Saya tidak perlu menyebutkan bahwa saya merasa amat berbahagia dapat menyambut Tuan-Tuan di Indonesia… tetapi bolehkah saya menambahkan bahwa saya juga merasa terharu.”

Ia kemudian langsung mengarahkan perhatian pada alasan mengapa negara-negara Asia dan Afrika perlu bersatu: karena mereka memiliki pengalaman pahit yang sama, yaitu dijajah, dirampok haknya, dan dikebiri kemerdekaannya oleh kekuatan kolonial.

Bung Karno menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar kumpulan formalitas diplomatik, tetapi merupakan tonggak sejarah sebuah langkah besar menuju kebebasan sejati.

Ia berkata:
Kolonialisme belum mati. Kolonialisme hanya berganti wajah. Kolonialisme yang dulu dilakukan oleh senjata kini bisa dilakukan lewat tekanan ekonomi, politik, bahkan budaya.”

Pidato ini menjadi semacam deklarasi bersama: bahwa kolonialisme dalam segala bentuknya harus dilawan. Bung Karno menawarkan common platform landasan bersama yakni semangat antikolonialisme, persamaan hak antarbangsa, dan solidaritas antarmanusia.

Warisan Abadi: Dasasila Bandung

Salah satu hasil monumental dari KAA adalah lahirnya Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang menjadi fondasi politik luar negeri negara-negara Dunia Ketiga.

Prinsip-prinsip itu meliputi penghormatan terhadap kedaulatan, non-agresi, non-intervensi, dan penyelesaian sengketa secara damai.

Meski Bung Karno tidak menulis langsung
Dasasila Bandung, semangat dan narasi dalam pidatonya jelas mempengaruhi arah dan substansi prinsip-prinsip tersebut.

Ia mengingatkan bahwa negara-negara Asia dan Afrika tidak boleh menjadi proxy dari kekuatan besar, tetapi harus menjadi subjek sejarah, bukan sekadar objek geopolitik.

Lebih jauh, Bung Karno menyerukan pentingnya “hidup berdampingan secara damai” konsep yang kemudian menjadi inspirasi bagi gerakan Non-Blok.

Resonansi Global: dari Bandung ke Dunia

Pidato Bung Karno di KAA menjadi inspirasi bagi gerakan pembebasan di Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Baca Juga :  Konsep Negara dalam Pandangan Ilmuwan Barat Vs Ilmuwan Muslim

Tokoh-tokoh seperti Kwame Nkrumah dari Ghana, Patrice Lumumba dari Kongo, dan bahkan Nelson Mandela, menjadikan KAA sebagai referensi moral dan politik perjuangan mereka.

KAA juga memberikan panggung bagi negara-negara yang sebelumnya tidak memiliki suara dalam forum internasional.

Dalam ruang-ruang kecil Gedung Merdeka, pemimpin-pemimpin dari negara miskin dan tertindas berdiri sejajar dengan tokoh dunia seperti Nehru, Zhou Enlai, dan Nasser.

Di tengah dominasi wacana politik global yang dikendalikan Barat, KAA dan pidato Bung Karno menjadi alternatif narasi.

Ia memperkenalkan dunia pada kekuatan “Global South” kekuatan yang tidak berasal dari artileri militer atau ekonomi raksasa, melainkan dari moralitas, solidaritas, dan harapan akan dunia yang lebih adil.

Refleksi: Relevansi yang Tak Pernah Pudar

Hari ini, ketika dunia kembali terpolarisasi oleh konflik geopolitik, krisis iklim, dan ketimpangan global, semangat dari pidato Bung Karno di KAA masih terasa relevan.

Ia mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah titik akhir, melainkan awal dari perjuangan panjang untuk keadilan dan kedaulatan sejati.

Pidato itu adalah seruan untuk dunia yang lebih setara dunia di mana tidak ada bangsa yang lebih tinggi atau lebih rendah dari bangsa lain.

Ia adalah pengingat bahwa solidaritas internasional adalah kekuatan nyata, bukan ilusi idealistik.

Di tengah dunia yang terus berubah, gema suara Bung Karno masih menggema dari Bandung: “Marilah kita bangkit dan berdiri di kaki sendiri! Let a new Asia and a new Africa be born!”

*) Muhammad Rizalul Umam, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Semarang; aktif pada organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Islamic Historis dan Peserta Magang BP2M (Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB