Pancasila dan Langkah Tekan Problem Kemiskinan

- Penulis

Jumat, 21 Maret 2025 - 22:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wiwit Arum Ramadhani, mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

Wiwit Arum Ramadhani, mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

SUARAMUDA, SEMARANG – Pancasila sebagaimana kita ketahui bersama adalah dasar dan juga sebagai hukum dari segala hukum yang pada hakikatnya menjadi identitas kepribadiaan bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia serta perjanjian luhur bangsa Indonesia.

Penempatan Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum negara sesuai dengan UUD 1945, menetapkan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa serta dasar dari filosofi bangsa, sehingga seluruh peraturan yang berlaku di Indonesia tidak diperbolehkan untuk menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.

Dengan demikian, Pancasila sebagai identitas nasional, pandangan hidup serta dasar seluruh kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat menjadikannya berfungsi sebagai alat untuk mempersatu bangsa dari seluruh perbedaan agama, ras, suku, golongan yang melekat di kehidupan bangsa Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, di dalam implementasi nilai-nilai Pancasila terdapat beberapa kesalahpahaman. Banyak masyarakat tidak menyadari bahwa betapa pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Apabila nilai-nilai tersebut dapat diaplikasikan oleh seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan makna nilai-nilai yang dikandungnya.

Hal ini bisa menjadi solusi yang berguna yang dapat digunakan untuk mengurangi dan melawan angka kemiskinan yang sekarang ini menjadi masalah bersama yang dihadapi di kehidupan masyarakat Indonesia.

Bahwa dapat kita tinjau angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia dibilang sangat tinggi, hal ini ditandai dengan Indonesia sebagai negara terpadat ke-4 di dunia setelah India, Tiongkok, Amerika Serikat lalu Indonesia.

Pada sila pertama Pancasila, “Ketuhanan yang Maha Esa” jelas bahwa Indonesia menjunjung tinggi norma keagamaan, mengingat bahwa Indonesia mengakui 6 agama yang terdiri dari Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu.

Setiap agama mengamalkan bahwa saling berbagi kepadanya orang yang membutuhkan. Apabila seluruh masyarakat Indonesia apapun agama yang ada di Indonesia menjalankan sila pertama yaitu berbicara tentang agama.

Mereka akan mengakui betapa pentingnya mencintai sesama dan membantu orang-orang yang membutuhkan, karena mereka hidup di bawah kemiskinan.

Jika seluruh rakyat Indonesia menyadari betapa pentingnya prinsip yang terkandung di dalam sila pertama Pancasila ini dan menerapkannya dalam kehidupan dimasyarakat, maka dapat menghasilkan rasa kasih sayang yang besar di antara orang Indonesia yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi kemiskinan.

Baca Juga :  PSN Bertambah, Mengapa Hutan Papua dan Hak Adat Tak Kunjung Terlindungi?

Dalam sila kedua Pancasila, yakni “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” menjabarkan bahwa kita sebagai manusia dapat manusiakan manusia. Di mana di Indonesia sendiri menjunjung tinggi keberadaan hak asasi manusia yang ditulis dalam Pasal 23, bahwa disebutnya setiap orang berhak mendapatkan perkerjaan, bebas memilih pekerjaan, atas kerja yang adil dan perlindungan terhadap pengangguran, tanpa diskriminasi, memberikan upah yang seadil-adilnya.

Bahwa faktor utama kemiskinan adalah kurangnya lapangan pekerjaan, sedangkan faktor pengangguran merupakan dampak dari rendahnya pendidikan.

Sedangkan perubahan dan perkembangan dunia yang sangat cepat dengan didukung teknologi yang canggih membuat tuntutan masyarakat menjadi tinggi sehingga lapangan pekerjaan semakin tergantikan dengan kecanggihan teknologi serta membutuhkan orang-orang yang berpendidikan.

Sehingga pemerintah harus peka dengan permasalahan ini dan harus bekerja lebih keras untuk memastikan semua rakyatnya mendapatkan hak yang layak mereka dapatkan.

Dalam sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia”, jelas menepatkan bahwa kita adalah satu kesatuan berbangsa dan satu tanah air yang menjunjung tinggi rasa solidritas bersama tanpa memandang perbedaan agama, ras, golongan.

Sebagai warga negara Indonesia kita saling tolong-menolong demi menciptakan masyarakat yang lebih baik. Mengingat kasus ketimpangan cukup dibilang tinggi di Indonesia, supaya tidak terjadi permasalahan yang cukup besar, pemerintah harus mengambil alih terkait permasalahan ini dengan memberikan solusi permasalahan, salah satunya menetapkan peraturan tentang pemasoakn pajak.

Pemerintah memafaatkan pasokan pajak untuk meningkatkan fasilitas pelayanan publik bagi masyarakat miskin agar tidak merasa dirugikan. Akan tetapi peran masyarakat juga dibutuhkan untuk memberikan bantuan kepada orang lebih membutuhkan untuk memberikan beasiswa pendidikan dan memberi lapangan pekerjaan.

Dalam sila keempat, Pancasila, “Kerakyataan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”, butir Pancasila ini menjelaskan bahwa negara Indonesia ini adalah negara demokrasi.

Baca Juga :  Menyelamatkan Beo Nias, Menyelamatkan Suara Hutan Nusantara

Dengan sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, maka tujuan utama adalah untuk mesejahterahkan rakyat.

Namun kondisi pemerintahan kita sekarang ini sangat memprihatinkan, banyak yang korupsi, artinya pedoman hidup sedang runtuh, nilai-nilai Pancasila sudah tidak penting bagi pedoman hidup bangsa.

Ideologi bangsa hanya sebagai formalitas tanpa ada wujudnya. Maka Indonesia harus sadar dan kembali ke pedoman hidup dan ideologi bangsa yaitu Pancasila untuk mensejahterakan rakyat dan memakmurkannya, karena di dalam demokrasi suara rakyat sangat penting.

Pada sila Pancasila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” menjelaskan bahwa seluruh rakyat Indonesia dipandang sama di hadapan negara. Tidak ada kata perbedaan meskipun negara kita memiliki ragam perbedaan yang terpiasahkan dari pulau-pulau, namun tetap satu juga.

Akan tetapi pendistribusian belum merata, banyak di daerah 3T yang sangat memprihatinkan, mulai dari ekonominya, pendidikan, fasilitas yang kurang memadahi. Sehingga peran pemerintah sangat diperlukan dengan mengalokasikan dana untuk memeratakan daerah 3T yang sangat tertinggal dari daerah yang sudah maju.

Pada akhirnya, kemiskinan menjadi permasalahan krusial yang harus kita selesaikan bersama. Jika permasalahan ini terabaikan maka akan mempengaruhi dampak ke depan bangsa Indonesia.

Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasarnya fondasi bagi kehidupan bangsa Indonesia. Akan tetapi masyarakat masih kesalahan paham dengan implementasi tentang Pancasila.

Sehingga seluruh rakyat Indonesia harus memahami dan menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila dan bahu-membahu mengatasi kemiskinan.

Jika Pancasila diimplementasikan dengan benar, dapat digunakan sebagai pendekatan untuk mengatasi masalah kemiskinan yang diderita oleh Indonesia.

*) Penulis: Wiwit Arum Ramadhani, mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan
***) Isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi pandangan redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB