Membongkar Intoleransi: Tragedi Pengeboman Gereja sebagai Cermin Krisis Kemanusiaan

- Penulis

Jumat, 21 Maret 2025 - 13:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nuzula Salsa Ainunci Elrahma, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

Nuzula Salsa Ainunci Elrahma, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

SUARAMUDA, SEMARANG – Intoleransi antar umat beragama di Indonesia merupakan isu yang kompleks dan berkelanjutan, mencerminkan tantangan dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika,” realitas di lapangan menunjukkan bahwa intoleransi sering kali muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari penolakan pembangunan tempat ibadah hingga pengrusakan fasilitas keagamaan.

Data menunjukkan bahwa antara 2019 hingga 2023, terdapat 65 kasus intoleransi yang tercatat, dengan puncaknya terjadi pada tahun 2020. Kasus-kasus ini sering kali berkaitan dengan perbedaan agama, terutama ketika komunitas minoritas berusaha membangun tempat ibadah di daerah mayoritas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu contoh kasus intoleransi yang parah adalah serangan bom terhadap gereja-gereja di Indonesia. Pada tahun 2018, terjadi serangan bom teroris di tiga gereja di Surabaya, yang menewaskan setidaknya 28 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya.

Serangan ini dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah, yang terlibat dengan jaringan ISIS, dan menimbulkan kekhawatiran besar tentang risiko yang dihadapi oleh minoritas agama di Indonesia.

Baca Juga :  Apakah Laut Biak Numfor Masih Aman dari Ancaman Sampah Plastik?

“Pengeboman gereja-gereja Kristen menunjukkan risiko serius yang dihadapi kaum minoritas agama di Indonesia setiap hari,” kata Andreas Harsono, peneliti senior Indonesia.

“Yang membuat hal ini lebih mengerikan lagi adalah nak-anak dari pelaku bom bunuh diri ikut dimanfaatkan untuk melancarkan aksinya”.

Pada tahun 2021, juga terjadi serangan bom bunuh diri di luar Gereja Katolik di Makassar, yang melukai setidaknya 20 orang. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa intoleransi agama masih menjadi ancaman serius bagi keharmonisan sosial di Indonesia.

Faktor-faktor yang menyebabkan intoleransi ini meliputi fanatisme agama, kurangnya pendidikan toleransi, dan pengaruh sosial serta politik.

Fanatisme agama sering kali mengarah pada ketidakmampuan untuk menerima perbedaan keyakinan, sementara pendidikan agama yang tidak mengajarkan nilai-nilai toleransi dapat memperburuk situasi.

Diskriminasi sosial dan politik terhadap kelompok minoritas juga sering kali memperkuat sikap intoleran di masyarakat. Misalnya, Undang-Undang 2006 tentang penyelenggaraan Ibadah telah memicu peningkatan diskriminasi terhadap minoritas agama, terutama dalam hal perizinan pembangunan tempat ibadah.

Baca Juga :  Sumpah Pemuda dan Titik Balik Perjuangan di Bidang Kesehatan

Moderasi Beragama sebagai Pendekatan

Untuk mengatasi masalah ini, moderasi beragama menjadi pendekatan yang sangat relevan. Moderasi beragama tidak hanya mencakup pemahaman agama yang seimbang, tetapi juga sikap saling menghargai antarumat beragama.

Dalam konteks ini, pendidikan berbasis moderasi sangat penting untuk membentuk generasi yang lebih inklusif dan toleran. Strategi moderasi beragama yang dapat diterapkan meliputi penguatan dialog antar agama, kampanye kesadaran sosial, dan pendidikan agama yang inklusif.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai perbedaan dan menciptakan lingkungan yang harmonis. Upaya ini tidak hanya penting untuk stabilitas sosial, tetapi juga untuk menjaga keutuhan bangsa dalam keragaman.

Penulis: Nuzula Salsa Ainunci Elrahma, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 26 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB