Apakah #KaburAjaDulu Menunjukkan Gen Z Tidak Nasionalis? Menggali Urgensi Pendidikan Pancasila di Era Digital

- Penulis

Jumat, 21 Maret 2025 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi #kaburajadulu/ sumber: pinterest

Ilustrasi #kaburajadulu/ sumber: pinterest

Oleh: Giska Sema Ayu *)

Semarang, SUARAMUDA
Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, Gen Z (mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012) memiliki perspektif yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Terlahir di era digital, mereka dibesarkan dengan berbagai kemudahan akses informasi, yang membuat cara mereka berpikir dan bertindak lebih global dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Namun, perbedaan ini tidak selalu dilihat dengan cara yang positif. Baru-baru ini, tren #KaburAjaDulu yang viral di media sosial menjadi perbincangan hangat. Sebagian pihak menganggapnya sebagai bentuk protes terhadap berbagai ketidakpuasan terhadap kondisi sosial-ekonomi Indonesia, sementara lainnya beranggapan bahwa fenomena ini menggambarkan sikap yang kurang nasionalis dari generasi muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena ini dominan di media sosial, terutama di kalangan Gen Z yang memanfaatkan platform seperti TikTok, Instagram, dan X. Melalui platform ini, mereka menyuarakan kegelisahan mereka tentang kondisi di Indonesia.

Banyak dari mereka mengungkapkan bahwa kehidupan di luar negeri lebih menjanjikan dibandingkan di Indonesia. Berbagai cerita tentang pengalaman hidup di negara lain kemudian memicu pengaruh terhadap sesama pemuda untuk mempertimbangkan opsi “kabur” dan memulai kehidupan baru di luar negeri.

Baca Juga :  Olahraga untuk Sehat, Bukan Tempat Menghakimi Bentuk Tubuh

Namun, apakah tren ini benar-benar mencerminkan lunturnya nasionalisme generasi muda? Jika merujuk pada definisi nasionalisme menurut Santika (2012), yaitu jiwa dan semangat yang membentuk ikatan bersama, baik dalam kebersamaan maupun pengorbanan, maka apakah #KaburAjaDulu benar-benar mencerminkan ketidaknasionalisan?

Faktanya, fenomena ini bisa dilihat sebagai sindiran yang berisi harapan besar dari generasi muda terhadap negara mereka. Masyarakat Indonesia belakangan ini sering dikejutkan oleh berbagai kasus korupsi, ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah, dan berbagai masalah sosial lainnya.

Gen Z, dengan kepeduliannya yang tinggi terhadap masa depan, justru mengungkapkan keresahan ini sebagai bentuk perhatian mereka terhadap negara. Bagi mereka, keinginan untuk “kabur” bukan sekadar menunjukkan rasa ketidakpuasan, tetapi sebuah ekspresi harapan agar Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Lalu, apakah pendidikan Pancasila masih relevan dalam konteks ini? Bagi banyak kalangan, pendidikan Pancasila sering dianggap sebagai hal yang sudah tertanam sejak dini.

Sejak kecil, kita hidup dalam lingkungan yang beragam, dengan nilai-nilai menghargai perbedaan dan mengutamakan rasa saling hormat.

Oleh karena itu, sebagian besar dari Gen Z mungkin merasa bahwa pendidikan Pancasila tidak terlalu relevan lagi di tingkat perguruan tinggi, karena nilai-nilai tersebut sudah mereka dapatkan melalui pengalaman sosial dan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Gen Z dan Penerapan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Bernegara

Namun, meskipun begitu, fenomena ini menegaskan bahwa pendidikan Pancasila tetap penting untuk memperkuat karakter kebangsaan dan semangat nasionalisme. Mungkin yang lebih urgent adalah bagaimana mengadaptasi pendidikan Pancasila agar lebih sesuai dengan realitas zaman sekarang.

Ini bukan tentang menghilangkan rasa nasionalisme, tetapi lebih kepada bagaimana mengajarkan generasi muda untuk tetap mencintai tanah air mereka, sambil tetap memahami tantangan global yang ada.

Fenomena #KaburAjaDulu bisa dipandang sebagai tanda kepedulian, bukan sebagai bukti hilangnya nasionalisme. Gen Z sangat sadar akan pentingnya merencanakan masa depan mereka, dan untuk sebagian mereka, itu berarti mencari peluang di luar negeri.

Namun, hak untuk memilih kehidupan yang lebih baik, di mana pun itu, adalah hak asasi yang tidak bisa dibatasi. Semoga pemerintah Indonesia bisa menanggapi fenomena ini secara positif, dengan memahami bahwa ini adalah sebuah protes konstruktif, bukan tanda dari hilangnya rasa cinta terhadap tanah air.

Penulis: Giska Sema Ayu, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 21 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB