Oleh: Zello Bertholomeus *)
SUARAMUDA, SEMARANG – Jika anda tidak dapat memuji, mengagumi dan mencintai, tutuplah mulut anda.
Kebebasan berserikat dan berbicara adalah hak dasar manusia. Namun, seringkali kita lupa bahwa setiap individu memiliki hak yang sama, sehingga banyak aspek dari hak tersebut diabaikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Egoisme yang tinggi menjadi masalah yang semakin mencolok di era globalisasi ini, di mana individu terkadang merasa terancam oleh eksistensi orang lain.
Seperti halnya frasa “Homo homini lupus” manusia adalah serigala bagi manusia lain yang dicetuskan oleh filsuf Thomas Hobbes menggambarkan sifat manusia yang cenderung egois, destruktif, dan saling merugikan satu sama lain dalam keadaan alamiah.
Mulut dapat berfungsi sebagai senjata ampuh yang dapat membunuh mental seseorang, sekaligus menjadi alat manipulatif yang handal dalam beretorika.
Meskipun berbicara dan mengemukakan pendapat adalah hak yang tidak bisa diabaikan, sangat penting untuk memperhatikan dan menghormati hak orang lain dalam prosesnya.
Kita sering kali merasa lebih unggul, yang kemudian menciptakan sekat-sekat dalam interaksi sosial. Tanpa disadari, ini adalah bentuk diskriminasi.
Sebagaimana pepatah Tiongkok menyatakan, “Seorang yang sombong adalah seorang yang berdiri di atas gunung yang tinggi dan melihat orang di bawahnya terlihat kecil, tanpa menyadari bahwa orang yang di bawah juga melihatnya kecil.”
Membunuh mental dan kepercayaan diri seseorang adalah salah satu bentuk ketidakadilan dan merupakan tindakan diskriminatif.
Ironisnya, tindakan ini sering kali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara langsung maupun tidak. Setiap orang harus menyadari bahwa mereka pernah merasakan efek dari penghinaan atau ejekan tersebut.
Menertawakan orang lain saat mereka mengeluarkan pendapat adalah salah satu bentuk pembunuhan mental.
Kita tahu bahwa kondisi psikologis dan mental setiap individu itu berbeda; ada yang mampu mengatasi situasi tersebut dengan baik, sementara yang lain mungkin merasakan dampak yang lebih serius.
Proses pembentukan mental seseorang tidaklah mudah; ia melewati berbagai tantangan dan rintangan yang dapat membentuk karakter dan ketahanan mentalnya. Kekuatan mental sering kali terbentuk melalui benturan-benturan tersebut.
Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara atau berpendapat merupakan langkah penting dalam menerapkan strategi pembelajaran psikologi dan perkembangan individunya.
Ketika orang merasa didengar, mereka akan lebih mampu tumbuh dan berkembang dalam komunitas.
Oleh karena itu, marilah kita menjadi individu yang peka dan dapat diandalkan dalam membangun mental serta psikis sesama dalam satu komunitas.
Kita harus ingat bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang besar—mampu menghancurkan mimpi, merusak hubungan, dan mengikis harga diri seseorang. Seharusnya, kita semua memiliki kesadaran untuk menyaring setiap kata yang akan diucapkan.
Jika kita tidak mampu memberikan pujian, mengagumi, dan mencintai, lebih baik kita menahan diri.
Mari kita gunakan mulut kita untuk menyebarkan kebaikan, menghargai satu sama lain, serta membangun hubungan yang positif di antara sesama.
Karena pada akhirnya, kata-kata yang kita ucapkan mencerminkan siapa kita dan dapat mempengaruhi tidak hanya diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. (Red)
*) Zello Bertholomeus, Mahasiswa S-1 Pendidikan Teologi, UNKA St. Paulus Ruteng













Komentar