Indonesia Gelap: Refleksi Kegagalan 100 Hari Kabinet Prabowo-Gibran

- Penulis

Sabtu, 22 Februari 2025 - 07:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: Peserta aksi Indonesia Gelap enggan membubarkan diri dari kawasan Patung Kuda, Monas Jakarta Pusat. Foto/SindoNews

POV: Peserta aksi Indonesia Gelap enggan membubarkan diri dari kawasan Patung Kuda, Monas Jakarta Pusat. Foto/SindoNews

Oleh: Andri Rahman*)

SUARAMUDA, SEMARANG – Seratus hari pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah berlalu, meninggalkan jejak evaluasi yang mengkhawatirkan.

Alih-alih membawa perubahan positif, berbagai kebijakan yang diambil justru menimbulkan polemik dan dianggap kontraproduktif terhadap kesejahteraan rakyat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu sorotan utama adalah upaya efisiensi anggaran yang digadang-gadang pemerintah. Alih-alih mengalokasikan dana hasil efisiensi untuk program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat kecil, pemerintah justru berencana mengalihkan dana tersebut ke proyek-proyek besar yang jauh dari jangkauan rakyat.

Kebijakan ini menuai kritik tajam karena dianggap tidak peka terhadap kondisi ekonomi masyarakat bawah yang semakin terpuruk.

Potensi Lahan Baru bagi Koruptor

Kekhawatiran lain yang mencuat adalah potensi korupsi dalam pengelolaan dana hasil efisiensi anggaran. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa proyek-proyek besar seringkali menjadi ladang subur bagi praktik korupsi.

Tanpa pengawasan yang ketat dan transparansi, dana tersebut berisiko disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan rakyat.

Baca Juga :  Urgensi Ekstrakurikuler dalam Meningkatkan Minat dan Bakat Siswa di Sekolah

Lebih lanjut, rencana Presiden Prabowo untuk menunjuk Joko Widodo sebagai pengawas proyek-proyek besar menimbulkan kontroversi.

Pasalnya, Joko Widodo sebelumnya masuk dalam daftar finalis tokoh terkorup ketiga dunia versi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) pada tahun 2024.

Meskipun OCCRP mengakui tidak memiliki bukti bahwa Joko Widodo terlibat dalam korupsi untuk keuntungan finansial pribadi selama masa jabatannya, penunjukan ini tetap memicu polemik di kalangan masyarakat.

Kinerja Kabinet yang Mengecewakan

Evaluasi terhadap kinerja kabinet Prabowo-Gibran selama 100 hari pertama juga menunjukkan hasil yang kurang memuaskan.

Survei yang melibatkan 95 jurnalis dari 44 lembaga pers kredibel menunjukkan bahwa 49% responden menilai kinerja kabinet buruk, dengan rincian 7% menyatakan sangat buruk dan 42% buruk.

Hanya 8% responden yang menilai kinerja kabinet baik, sementara sisanya menganggap cukup.

Beberapa menteri mendapatkan sorotan negatif dalam evaluasi tersebut. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, dinilai sebagai menteri dengan kinerja terburuk, mendapatkan skor -113 poin.

Disusul oleh Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi, dengan skor -61 poin, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, dengan skor -41 poin.

Baca Juga :  Demo 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran Pecah! Ada di Jakarta, Bogor Hingga Semarang!

Penilaian ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kinerja para menteri dalam memenuhi harapan publik.

Selain kinerja individu, kolaborasi antar kementerian juga menjadi sorotan. Sebanyak 46% responden menilai kolaborasi antar kementerian tidak efektif, yang tercermin dari pelaksanaan program yang sering mengalami tumpang tindih kebijakan dan inkonsistensi dalam implementasi di lapangan.

Hal ini mengindikasikan perlunya perbaikan koordinasi dan komunikasi antar lembaga pemerintah untuk mencapai tujuan bersama.

Seratus hari pertama pemerintahan Prabowo-Gibran seharusnya menjadi momentum untuk menunjukkan komitmen terhadap perubahan dan perbaikan kesejahteraan rakyat.

Namun, berbagai kebijakan dan langkah yang diambil justru menimbulkan kekhawatiran dan kekecewaan.

Pemerintah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh, memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat, serta menghindari potensi korupsi yang dapat merugikan negara dan masyarakat. (Red)

*) Penulis adalah alumni Prodi Magister Pendidikan IPS FISIP UNNES

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru