SUARAMUDA, SEMARANG – Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah serius yang menghambat kemajuan negara ini dalam berbagai sektor. Meski berbagai upaya pemberantasan telah dilakukan, namun kasus-kasus korupsi masih seringkali terjadi pada sektor-sektor publik maupun swasta.
Sejumlah kasus korupsi besar dalat dijadikan cermin kasus-kasus yang melibatkan pejabat publik, pengusaha—yang kasusnya mencuat ke permukaan. Mulai dari kasus korupsi e-KTP, Bank Bali, hingga kasus yang melibatkan proyek infrastruktur yang akhirnya menyebabkan kerugian negara sangat besar. Bahkan, kasus korupsi timah yang konon merugikan negara Rp300 triliun.
Fakta di atas membuktikan bahwa kasus korupsi masih merajalela. Dan setiap kasusnya, tak peduli apakah pelakunya berpangkat tinggi atau rendah; selama ada kemauan dan kesempatan mereka tak segan melakukan praktik kotor tersebut. Fakta-fakta itu membutuhkan sentuhan norma, yang sejatinya bergantung pada sifat dan norma–norma yang diterapkan dalam kehidupannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesungguhnya, penting bagi setiap individu—terutama mereka yang posisi strategis—untuk menjaga integritasnya demi terciptanya pemerintahan yang bersih dan masyarakat yang sejahtera jauh dari dasar-dasar korupsi.
Seseorang yang menjaga integritas akan memiliki sikap yang mencegahnya untuk melakukan tindak pidana korupsi. Karena itulah, nilai-nilai integritas menjadi salah satu hal penting dalam pencegahan korupsi.
Pemahaman Integritas
Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi RI, integritas adalah bertindak dengan cara yang konsisten dengan apa yang dikatakan. Nilai integritas merupakan kesatuan antara pola pikir, perasaan, ucapan, dan perilaku yang selaras dengan hati nurani dan norma yang berlaku.
Contohnya, jika seseorang telah mengakui bahwa dia jujur, maka hal itu juga akan tercermin dari tindakan, perasaan, dan perilakunya. Integritas akan menjaga orang itu tetap jujur, walau tidak ada orang lain di sekitar yang melihat kejujurannya.
Integritas merupakan salah satu nilai-nilai dasar pribadi yang harus dimiliki masyarakat. Nilai-nilai ini dapat berasal dari nilai kode etik di tempat dia bekerja, nilai masyarakat atau nilai moral pribadi.
KPK merilis sembilan nilai integritas yang bisa mencegah terjadinya tindak korupsi. Kesembilan nilai itu adalah jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.
Penanaman nilai-nilai integritas menjadi amat penting, terutama dilalukan sejak dini. Langkah ini bisa dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah hingga dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan mengenai integitas dan nilai–nilai korupsi harus diberikan, tidak hanya soal teori tentang korupsi, tetapi juga pembelajaran tentang pentingnya moralitas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Di Indonesia sudah ada beberapa upaya untuk menanamkan niali–nilai integritas maupun anti korupsi, namun yang paling penting saat ini adalah bagaimana di aplikasikan dalam kehidupan sehari–hari. Nilai integritas ini bisa membantu masyarakat untuk memegang teguh tugas dan membuat mereka menjadi pribadi yang terpercaya.
Pada tataran negara, integritas bisa mendorong aparatur pemerintahan untuk bekerja dengan profesional, transparan, jujur, dan bisa dipercaya. Karena integritas ialah nilai yang melatar belakangi sikap yang terbazir dalam usaha untuk menjadi sosok yang terpercaya dalam perkataan, pekerjaan, tindakan, dan mempunyai komitmen serta kesetiaan di berbagai nilai moral serta kemanusiaan.
Pentingnya menanamkan nilai-nilai integritas ini mencakup tanggung jawab selaku warga negara, serta aktif di kehidupan sosial, serta konsistensi perkataan serta tindakan yang sesuai dengan kebenaran. Menurut Development Dimensions Internasional (DID) dalam Covey (2004: 2970), perilaku utama integritas ialah:
(1) Berinteraksi dengan orang lain dengan jujur dan terbuka; memberikan informasi dan data dengan tepat dan lengkap. (Menunjukkan kejujuran – Berkomunikasi dengan orang lain dengan jujur dan terbuka, mewakili informasi dan data dengan tepat dan lengkap)
(2) Menjalankan apa yang dijanjikan; tidak membocorkan rahasia. (Menjaga janji – Menjalankan tindakan sesuai janji; tidak membagikan informasi rahasia).
(3) Memastikan jika kata-kata dan tindakan konsisten; bertindak konsisten dalam situasi apapun. (Bertindak konsisten – Memastikan jika kata-kata dan tindakan konsisten; bertindak konsisten dalam berbagai situasi).
Akhirnya, penguatan nilai integritas sangat penting dalam uapaya pemberantasan korupsi. Karna tanpa integritas, segala kebijakan dan program yang dijalankan untuk mengatasi korupsi hanya akan menjadi rotorika semata. Sejatinya, seseorang dengan integritas yang tinggi akan menghindari praktik-praktik korupsi—meskipun dalam situasi yang penuh godaan.
Dalam konteks pemerintahan, para pejabat pemerintah dan pejabat publik sudah sepatutnya memiliki integritas yang kuat. Mereka juga tidak akan mudah terpengaruh oleh tindakan-tindakan suap atau gratifikasi. Dan mereka akan senantiasa memprioritaskan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. (Red)
*) Penulis: Nikma Zuhra, mahasiswa Universitas Baiturrahmah, Padang, Sumatera Barat.
**) Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis, dan bukan menjadi tanggungjawab redaksi suaramuda.net
***) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah Integritas dan Anti Korupsi, Dosen Pengampu Andri Rusta, S.IP, M.PP













Komentar