Makan Siang Gratis: ‘Omon-Omon’ Politikus Versus Gerakan Sosial Masyarakat

- Penulis

Senin, 23 Desember 2024 - 07:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi makan siang gratis/ pinterest

Ilustrasi makan siang gratis/ pinterest

oleh : Andri Rahman*)

SUARAMUDA, SEMARANG – Fenomena sosial yang kita saksikan di tengah kebingungan kabinet Prabowo-Gibran dalam menuntaskan janji makan siang gratis bisa dikatakan sebagai cermin nyata dari perbedaan antara ambisi besar politik dengan gerakan sosial yang berasal dari hati nurani masyarakat.

Seperti yang kita tahu, janji makan siang gratis menjadi salah satu andalan dalam kampanye Pilpres 2024 yang lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, setelah berbulan-bulan berlalu, masalah anggaran yang terus mengalami tarik ulur dan penurunan drastis dari 15 ribu rupiah menjadi hanya 7500 rupiah menjadi refleksi betapa sulitnya realisasi janji besar yang diemban oleh para pemimpin tersebut.

Namun, di sisi lain, di berbagai sudut kota yang jauh dari hiruk-pikuk politik dan sorotan media, terdapat kisah lain yang jauh lebih menyentuh.

Ilustrasi makan siang gratis Prabowo/ sumber: pinterest

Di pojok-pojok jalan, masyarakat sipil, tanpa harus menunggu instruksi dari pemerintah atau mendapat publikasi besar, sudah lebih dulu mengambil langkah nyata.

Gerakan Nyata Masyarakat

Mereka mendirikan posko-posko makan yang tidak hanya menyediakan makan gratis, tetapi juga memberi kebebasan bagi siapa saja untuk makan sepuasnya, dengan menggunakan dana yang dikumpulkan dari uang pribadi atau hasil patungan masyarakat.

Baca Juga :  Prabowo Resmikan Proyek Baterai EV Senilai Rp96,04 Triliun, Terbesar se-Asia

Fenomena ini membuka mata kita akan kontradiksi yang terjadi antara “mulut besar” dari para pemimpin negara dan “tangan-tangan ikhlas” yang beroperasi dalam lingkup kecil masyarakat.

Janji makan siang gratis, meskipun dimulai dengan niat baik, ternyata menemui berbagai hambatan administratif, mulai dari anggaran yang tak kunjung jelas hingga prioritas alokasi dana yang tumpang tindih.

Sedangkan di lapangan, mereka yang tak terikat oleh birokrasi dan ketentuan anggaran justru lebih cepat dan lebih efisien dalam memberikan bantuan nyata kepada mereka yang membutuhkan.

Ini bukan hanya soal perbedaan dalam cara mendistribusikan bantuan, tetapi juga soal nilai yang terkandung dalam setiap tindakan.

Sementara pemerintah terkadang terjebak dalam lingkaran birokrasi yang lambat, masyarakat sipil justru bergerak dengan prinsip “action over words”, dengan mengedepankan keikhlasan dan semangat gotong-royong.

Kekuatan Masyarakat

Menariknya, fenomena ini tidak hanya mencerminkan ketimpangan dalam implementasi kebijakan publik, tetapi juga menggambarkan kekuatan masyarakat dalam menciptakan perubahan.

Baca Juga :  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Ditinjau dari Keadilan Sosial

Ketika pemerintah kesulitan memenuhi janji politik mereka, masyarakat sipil justru menunjukkan kepedulian yang lebih tulus. Ini adalah cerminan nyata dari peran penting civil society dalam menjaga keseimbangan sosial, terutama dalam hal pengentasan kemiskinan dan ketidaksetaraan.

Sebagai masyarakat, kita bisa belajar banyak dari gerakan-gerakan ini. Meskipun pemimpin besar mengumbar janji, keberhasilan nyata sering kali datang dari inisiatif sederhana yang muncul dari bawah.

Masyarakat sipil, dengan segala keterbatasannya, mampu memberikan contoh bagaimana solidaritas, kepedulian, dan keikhlasan dapat menghadirkan perubahan yang lebih cepat dan lebih menyentuh hati.

Fenomena ini juga mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, meskipun janji besar sering kali terhambat oleh kebijakan dan birokrasi, kekuatan terbesar untuk memecahkan masalah ada pada kolaborasi antara pemerintah yang bertanggung jawab dan masyarakat yang penuh empati.

Mungkin inilah saatnya untuk mengevaluasi kembali bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat bekerja lebih dekat, dengan saling melengkapi, bukan saling menunggu atau menuntut. (Red)

*) Andri Rahman, mahasiswa Magister Pendidikan IPS, FISIP, Universitas Negeri Semarang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB