China Hadapi Deflasi Ekonomi Ngeri, Akankah Merembet ke Indonesia?

- Penulis

Minggu, 15 Desember 2024 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, SEMARANG – China terus menghadapi tekanan deflasi yang sulit diatasi. Harga-harga di negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia ini telah mengalami penurunan selama enam kuartal berturut-turut.

Jika tren ini berlanjut hingga satu kuartal lagi, China akan menyamai rekor deflasi terpanjang yang pernah terjadi selama Krisis Keuangan Asia pada akhir 1990-an.

Para pembuat kebijakan di Beijing telah berjanji untuk melakukan langkah-langkah lebih agresif guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan menahan penurunan harga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komitmen ini disampaikan dengan bahasa yang lebih tegas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, seiring persiapan China menghadapi potensi perang dagang dengan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.

Apalagi, seperti dilansir Bloomberg (14/12/2024), Presiden terpilih AS tersebut telah bersumpah akan memberlakukan tarif 60% pada ekspor China, kebijakan yang berpotensi menghancurkan perdagangan bilateral kedua negara.

Baca Juga :  Delegasi Parlemen Rusia Kunjungi Indonesia, Perkuat Kerja Sama Bilateral dan Bahas Isu Strategis

Mengapa China Mengalami Deflasi?

Ketika ekonomi besar seperti AS kembali pulih setelah pandemi Covid-19, harga melonjak akibat permintaan yang tertahan bertemu dengan kekurangan pasokan barang.

Namun, skenario serupa tidak terjadi di China. Daya beli konsumen lemah, dan krisis sektor properti telah menggerus kepercayaan diri masyarakat untuk melakukan pembelian besar.

Regulasi ketat terhadap sektor-sektor dengan gaji tinggi seperti teknologi dan keuangan telah menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pemotongan gaji, yang semakin menurunkan minat masyarakat untuk berbelanja.

Di sisi lain, dorongan kebijakan untuk meningkatkan produksi barang manufaktur dan teknologi tinggi justru menciptakan kelebihan pasokan di tengah permintaan yang rendah, memaksa perusahaan menurunkan harga.

Lantas, Apa Dampak Buruk dari Penurunan Harga?

Harga yang lebih murah mungkin terlihat menguntungkan bagi konsumen pada awalnya, tetapi tidak selalu mendorong mereka untuk segera berbelanja.

Baca Juga :  KBRI Islamabad Selenggarakan Shalat Id dan Halal Bihalal untuk Masyarakat Indonesia

Sebaliknya, masyarakat cenderung menunda pembelian barang mahal dengan harapan harga akan turun lebih jauh.

Hal ini bisa memperburuk aktivitas ekonomi, menekan pendapatan, dan memicu penurunan konsumsi yang lebih dalam, menciptakan spiral deflasi.

Deflasi juga meningkatkan tingkat bunga “riil” atau yang disesuaikan dengan inflasi di dalam perekonomian.

Biaya utang yang lebih tinggi membuat perusahaan sulit untuk berinvestasi, sehingga mengurangi permintaan dan memperparah deflasi.

Beberapa ekonom meyakini bahwa deflasi berbasis utang ini dapat memicu resesi atau depresi, karena masyarakat gagal membayar pinjaman mereka dan sistem perbankan menjadi terganggu.

Nah, apakah akankah fenomena deflasi China ini berdampak pada perekonmian Indonesia? Atau, bahkan perekonomian negeri ini mengalami deflasi dengan ‘gayanya’ sendiri? Semoga tidak! (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB