SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Rusia memperingati Hari Pembela Tanah Air setiap 23 Februari, sementara Indonesia memiliki Hari Pahlawan setiap 10 November.
Dua bangsa dengan latar sejarah berbeda ini sama-sama memiliki cara unik dalam menghormati jasa para pejuangnya. Apa persamaan dan perbedaannya?
Secara historis, Hari Pahlawan Indonesia lahir dari pertempuran heroik arek-arek Surabaya melawan sekutu pada 1945.
Sementara Hari Pembela Tanah Air Rusia berakar dari pembentukan Tentara Merah pada 1918. Keduanya sama-sama lahir dari momen perjuangan mempertahankan kedaulatan.
Namun dalam praktik perayaannya, terdapat perbedaan mencolok. Di Indonesia, peringatan 10 November cenderung lebih seremonial dan khidmat.
Upacara di Taman Makam Pahlawan, ziarah, dan tabur bunga menjadi kegiatan utama. Masyarakat umum tidak terlalu terlibat dalam perayaan meriah, kecuali di Surabaya yang menggelar berbagai event budaya.
Di Rusia, 23 Februari justru berkembang menjadi perayaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, bahkan terkesan “meriah”. Tradisi memberi hadiah untuk pria, konser musik, dan kembang api mewarnai peringatan ini.
“Di sini, 23 Februari seperti perpaduan antara Hari Pahlawan dan Hari Ayah,” ujar Prof. Ivan Petrov, pengamat budaya dari Universitas Sankt Peterburg.
Dari sisi simbol, Indonesia menggunakan bunga tabur dan bambu runcing sebagai ikon kepahlawanan. Rusia lebih menonjolkan anyelir merah dan pita St. George yang bergaris hitam-oranye.
Anyelir merah melambangkan darah para pahlawan, sementara pita St. George menjadi simbol kejayaan militer sejak era kekaisaran.
Dalam hal pelibatan generasi muda, kedua negara sama-sama aktif. Di Indonesia, kunjungan ke museum kepahlawanan dan lomba mengarang tema pahlawan digalakkan.
Di Rusia, sekolah-sekolah mengundang veteran dan menggelar pelajaran khusus tentang sejarah militer.
Bedanya, di Rusia para siswi secara aktif memberikan hadiah untuk siswa laki-laki—tradisi yang tidak ditemukan di Indonesia.
Menariknya, baik Indonesia maupun Rusia sama-sama memiliki hari khusus untuk menghormati perempuan.
Indonesia punya Hari Ibu 22 Desember, sementara Rusia merayakan Hari Perempuan Internasional 8 Maret dengan sangat meriah. Kedua hari ini seperti “pasangan” dari hari kepahlawanan masing-masing.
Dari perspektif diplomatik, perbedaan tradisi ini justru menjadi jembatan pemahaman budaya. KBRI Moskow rutin menggelar resepsi diplomatik pada 10 November untuk memperkenalkan Hari Pahlawan Indonesia kepada kalangan pejabat dan masyarakat Rusia.
Sebaliknya, diaspora Indonesia di Rusia turut merasakan atmosfer 23 Februari sebagai bagian dari pengalaman lintas budaya.
Bagi Indonesia yang tengah mempererat hubungan dengan Rusia di berbagai sektor, memahami tradisi seperti 23 Februari menjadi penting. “Ini soft diplomacy yang efektif.
Ketika kita menghormati hari besar mereka, mereka juga akan lebih terbuka dengan kita,” ujar Dr. Bambang Suryono, pengamat hubungan internasional.
Dengan demikian, meskipun berbeda dalam bentuk perayaan, semangat yang mendasari 23 Februari dan 10 November sejatinya sama: menghormati mereka yang telah berkorban demi bangsa dan negara. (Red)