Wuhan Ciptakan Kereta Langit: Transportasi Hijau dan Inovatif, Indonesia Bisa?

- Penulis

Selasa, 10 Desember 2024 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa S-3 alumni Huazhong University of Science and Technology, Wuhan China, Ali Fathoni, dengan latar belakang kereta api gantung (suspended monorail) pertama di Wuhan

Mahasiswa S-3 alumni Huazhong University of Science and Technology, Wuhan China, Ali Fathoni, dengan latar belakang kereta api gantung (suspended monorail) pertama di Wuhan

Oleh: Ali Fathoni*)

SUARAMUDA, WUHAN, CHINA — Kota Wuhan kembali mencuri perhatian dunia dengan meluncurkan kereta langit atau kereta api gantung (suspended monorail) pertama yang sepenuhnya menggunakan tenaga hidrogen.

Proyek inovatif ini bertujuan untuk meningkatkan transportasi ramah lingkungan sekaligus menjadi daya tarik wisata baru di kota Wuhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kereta langit atau kereta api gantung yang dijuluki “Sky Train” ini melintasi jalur sepanjang 10 kilometer, menghubungkan kawasan wisata utama di Wuhan.

Dengan desain futuristik dan teknologi canggih, kereta ini mampu mengangkut hingga 200 penumpang per perjalanan dan beroperasi dengan kecepatan 60 sampai 70 km/jam.

Sistem kereta ini menggunakan sel bahan bakar hidrogen sebagai sumber energi, menghasilkan air sebagai satu-satunya emisi.

Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah China untuk mengurangi emisi karbon dan mempromosikan teknologi hijau ramah lingkungan.

Menurut pernyataan dari otoritas transportasi Wuhan, kereta ini juga dilengkapi dengan teknologi canggih seperti sistem otomatisasi penuh, kereta ini tanpa masinis/driver dengan pemandangan panorama dari jendela kaca besar yang ada di samping dan di bawah sehingga terlihat transparan serta interior modern yang nyaman.

“Indonesia dapat mempelajari kesuksesan Wuhan untuk mengembangkan transportasi hijau dan inovatif. Saya yakin, Indonesia bisa menjadi negara maju dan tentunya lebih baik”

Warga dan turis termasuk saya dan istri pada bulan september 2024 kemarin sangat antusias mencoba naik kereta langit. “Ini bukan hanya tentang transportasi, tetapi juga pengalaman unik yang memadukan teknologi dan keindahan alam Wuhan,”.

Baca Juga :  Pendidikan Moral dan Problem Kesenjangan Pendidikan di Kota dan Desa

Proyek ini dipandang sebagai bagian dari upaya Wuhan untuk memulihkan citra kotanya pasca-pandemi COVID-19, sekaligus menunjukkan inovasi teknologi yang mendukung pembangunan berkelanjutan di China.

Pelopor Transportasi Hijau

Mencapai sekitar 1 Miliar Yuan lebih, proyek kereta api langit atau kereta gantung berbahan bakar hidrogen ini memerlukan investasi besar dengan total biaya pembangunan mencapai 1 Miliar yuan lebih (sekitar 2,4 triliun rupiah).

Anggaran ini mencakup konstruksi infrastruktur jalur sepanjang 10 kilometer, pengadaan kereta, serta penerapan teknologi hidrogen canggih.

Teknologi ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang hemat energi dan ramah lingkungan. Biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan dengan moda transportasi berbahan bakar fosil serta potensi menarik wisatawan diharapkan dapat mempercepat pengembalian investasi.

Proyek ini merupakan langkah strategis bagi Wuhan untuk menjadi pelopor transportasi hijau, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata yang ada di Wuhan.

Keberhasilan peluncuran kereta langit atau kereta api gantung berbahan bakar hidrogen ini menjadi tonggak baru dalam transportasi ramah lingkungan.

Para ahli percaya bahwa teknologi ini dapat diadopsi oleh negara-negara lain untuk mengatasi tantangan transportasi di wilayah perkotaan sambil mengurangi dampak lingkungan.

Dengan peluncuran ini, Wuhan sekali lagi membuktikan dirinya sebagai pusat inovasi teknologi global dan penuh inspirasi dalam pembangunan transportasi umum.

Harga tiket untuk menaiki kereta api gantung di Wuhan harganya berkisar antara 30 hingga 50 yuan (sekitar Rp.60.000–Rp.108.000) per perjalanan, tergantung pada jarak yang ditempuh dan jenis tiket yang dipilih.

Desain Kereta Wisata

Baca Juga :  China, Iran, dan Rusia Latihan Perang Bareng: Dunia Sedang Tak Baik-baik Saja?

Pemerintah setempat juga menawarkan tiket terusan dengan harga diskon bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman lengkap di sepanjang jalur kereta gantung ini.

Selain itu, ada kemungkinan tiket gratis atau dengan harga khusus untuk kelompok tertentu seperti para pemimpin negara yang ingin berkunjung, atau seperti pelajar dan manula, sebagai bagian dari upaya meningkatkan aksesibilitas layanan ini.

Harga ini dianggap kompetitif, mengingat kereta api gantung ini juga dirancang sebagai atraksi wisata dengan fasilitas modern dan pemandangan indah yang dapat dinikmati selama perjalanan.

Jumlah penduduk di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, diperkirakan mencapai sekitar 12 juta orang. Kota ini adalah salah satu kota besar di China dan pusat ekonomi, teknologi, pendidikan, budaya, serta transportasi penting di wilayah Tiongkok tengah.

Wuhan juga dikenal sebagai “kota sungai” karena lokasinya di pertemuan Sungai Yangtze dan Sungai Han.

Dengan populasi sebesar itu, kota ini menghadapi tantangan dalam mengelola urbanisasi dan infrastruktur transportasi, menjadikan proyek-proyek seperti kereta api gantung ramah lingkungan sebagai bagian dari solusi inovatif untuk mengatasi kemacetan dan polusi.

Indonesia dapat mempelajari kesuksesan Wuhan untuk mengembangkan transportasi hijau dan inovatif. Namun, penerapan proyek ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan prioritas lokal, serta didukung oleh perencanaan matang, pembiayaan yang transparan, dan teknologi yang tepat. Saya yakin, ke depan, Indonesia bisa menjadi negara maju dan tentunya lebih baik. (Red)

*) Ali Fathoni, Mahasiswa S-3 alumni Huazhong University of Science and Technology Wuhan, China

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB