Gus Yasin antara Pesantren dan NU, Faktor Kunci Kemenangan

- Penulis

Jumat, 6 Desember 2024 - 07:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nazlal Firdaus Kurniawan, Peneliti Alfa Institute

SUARAMUDA
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah nomor urut 02, Luthfi-Yasin, sukses merebut hati rakyat pada Pilgub Jateng berkat sosok Taj Yasin Maimoen atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Yasin.

Putra ulama besar Mbah KH Maimoen Zubair ini menjadi magnet elektoral dengan daya tarik religiusitas, kesederhanaan, dan integritas yang melekat pada dirinya.

Sebagai santri tulen, Gus Yasin tampil tak tertandingi dalam memenangkan hati pemilih berbasis pesantren.

Gus Yasin adalah simbol religiusitas yang kuat, figur sederhana yang bersih dari korupsi, serta pemimpin yang akrab dengan masyarakat pesantren. Ini membuatnya unggul dibanding kandidat lain.

Keunggulan ini diperkuat dengan dukungan jaringan kiai dan santri yang solid. Pesantren besar seperti Sarang, Lirboyo, dan Tegalrejo, serta alumni pesantren di seluruh Jawa Tengah, menjadi basis dukungan kuat. Budaya politik santri yang mengutamakan ketaatan kepada guru dan almamater memberikan kontribusi signifikan.

Bagi orang pesantren, begitu ada dawuh atau instruksi dari Ndalem (red- keluarga Kiai), mereka akan patuh dan manut. 1 orang yang nyantri di pesantren, tentunya keluarganya juga ikut ‘apa kata Kiai’. Terlebih jaringan pesantren ini, santrinya itu adalah seorang Gus atau dia sudah jadi alumni lalu mendirikan pesantren jadi dawuhnya menjadi gethuk tular.

Gus Yasin tak hanya memanfaatkan kedekatan emosional dengan masyarakat pesantren, tetapi juga secara aktif membangun jaringan dan komunikasi. Selama kampanye, ia fokus menyapa komunitas pesantren, dengan hasil yang mencengangkan: di banyak TPS berbasis pesantren, pasangan Luthfi-Yasin memperoleh kemenangan telak, bahkan hingga 100 persen suara.

Gus Yasin adalah tokoh sentral yang mampu merajut kekuatan santri dan Nahdliyyin, sekaligus menarik simpati dari komunitas Muhammadiyah. Perannya mengulang sukses Pilgub 2018.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, Jawa Tengah memiliki lebih dari 3,7 ribu pesantren dengan 7 ribu kiai dan ustadz. Komunitas ini memiliki daya tawar politik yang besar dan menjadi sasaran utama kampanye pasangan nomor urut 02.

Selain itu, dukungan dari tokoh nasional seperti Prabowo Subianto dan Joko Widodo turut memberikan pengaruh signifikan, meskipun memicu pro dan kontra di masyarakat. Faktor tidak jadi naik ke DPD juga menjadi pemicu kontra bagi masyarakat umum, tinggal dilantik kok malah ganti nyalon Cawagub.

Namun, karena daya tarik utama adalah kedekatan Gus Yasin dengan pesantren dan NU serta statusnya sebagai putra Mbah Maimoen, ulama kharismatik yang dihormati lintas kalangan. Menjadi faktor kontra itu kurang ditanggapi oleh para pemilih.

Para kiai dan santri jelas memberikan perhatian penuh kepada Pilgub Jateng kali ini. Sosok Gus Yasin bukan hanya kandidat, tetapi juga simbol harapan dan kebanggaan masyarakat pesantren. Terlebih Gus Yasin ini sosok yang dikenal kalangan Nahdliyin sebagai pengurus NU tulen, bagi wong NU apabila ada pengurus NU yang naik mereka lebih memilih orangnya sendiri tentunya harapannya untuk organisasi NU kedepan sudah nampak jelas.

Di organisasi NU, terkadang faktor kehormatan karena dia tokoh pesantren menjadikan dia menjadi NU struktural. Namun sejarah kilas balik saat menjadi Wagub dari Ganjar Pranowo, sosok Gus Yasin ini tidak melupakan darimana dia berasal.

Kemenangan pasangan Luthfi-Yasin ini sekaligus menegaskan peran pesantren dan NU sebagai kekuatan politik di Jawa Tengah. Lebih dari sekadar lembaga pendidikan agama dan organisasi agama, pesantren dan NU membuktikan diri sebagai aktor strategis yang mampu menentukan arah kepemimpinan di tingkat daerah.

Baca Juga :  Belajar dari SMAN 72 Jakarta, Sekolah Ramah Anak Bukan Hanya Slogan
Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 15 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB