SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin canggih. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan manusia kini bisa dibantu, bahkan diambil alih teknologi.
Situasi ini membuat lembaga keuangan dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, mengingatkan adanya risiko serius bagi pasar tenaga kerja global.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menggambarkan dampak AI terhadap dunia kerja seperti tsunami yang bergerak perlahan. Ancaman ini patut diwaspadai, terutama oleh anak muda yang baru lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan pertama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasalnya, pekerjaan tingkat pemula selama ini menjadi pintu masuk bagi para lulusan baru untuk membangun karier. Namun, ketika tugas-tugas rutin dan berulang makin mudah diotomatisasi, kesempatan kerja pada level tersebut berpotensi menyusut.
Bagi fresh graduate, situasi ini bisa membuat persaingan mencari pekerjaan semakin menantang. Bukan cuma soal nilai akademik atau ijazah, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi juga bakal semakin penting.
40 Persen Pekerjaan Dunia Bakal Terdampak AI
Peringatan IMF bukan tanpa alasan. Lembaga tersebut memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di seluruh dunia akan terdampak AI, baik melalui perubahan tugas, peningkatan kemampuan kerja, penurunan kebutuhan tenaga kerja, maupun penghapusan pekerjaan tertentu.
Risikonya bahkan lebih besar di negara maju. Sekitar 60 persen pekerjaan di kelompok negara tersebut diperkirakan terpapar dampak AI. Sementara itu, di negara berpenghasilan rendah, angkanya mencapai sekitar 23 persen.
Meski begitu, terdampak AI tidak selalu berarti kehilangan pekerjaan. Sebagian profesi justru bisa menjadi lebih produktif karena teknologi membantu menyelesaikan tugas dengan lebih cepat. Tantangannya adalah memastikan pekerja mampu mengikuti perubahan tersebut.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, juga menyoroti besarnya tantangan menyediakan pekerjaan bagi generasi muda. Dalam 15 tahun mendatang, sekitar 1,2 miliar anak muda diperkirakan akan mencapai usia 18 tahun.
Sektor swasta, yang selama ini menyumbang sekitar 75–85 persen lapangan kerja, dinilai memegang peran penting untuk menyerap tenaga kerja baru.
Pemerintah juga perlu menciptakan iklim investasi yang mendukung agar perusahaan berani mengembangkan usaha dan membuka lebih banyak pekerjaan.
Pemerintah Diminta Jangan Tinggal Diam
Presiden Singapura sekaligus Ketua Dewan Pekerjaan Bank Dunia, Tharman Shanmugaratnam, turut mendorong pemerintah agar memperkuat dukungan bagi anak muda yang memasuki pasar kerja.
Menurutnya, kebijakan untuk membantu pencari kerja yang sebelumnya diterapkan saat pandemi COVID-19 dan krisis keuangan global perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari kebijakan jangka panjang, bukan hanya solusi ketika krisis terjadi.
Kerja sama pemerintah dan sektor swasta, termasuk pemberian insentif bagi perusahaan yang merekrut lulusan baru, menjadi salah satu langkah yang bisa dipertimbangkan.
Pesannya jelas, perkembangan AI tidak cukup hanya disambut sebagai kemajuan teknologi. Pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku usaha juga harus menyiapkan strategi agar manfaatnya tidak hanya dinikmati perusahaan, tetapi juga membuka peluang bagi pekerja.
Bagi anak muda, tantangan ke depan bukan semata-mata bersaing dengan AI. Yang tak kalah penting adalah meningkatkan keterampilan, memahami cara kerja teknologi, dan mengembangkan kemampuan yang sulit digantikan mesin.
Sebab, di tengah revolusi AI, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah teknologi akan mengubah dunia kerja, melainkan seberapa siap manusia menghadapi perubahan tersebut. (Red)
Sumber: detikFinance, IMF, dan Bank Dunia













Komentar