150 Tahun Batik Gan: Dari Rumah di Pekalongan, Menembus Museum Dunia

Warisan batik Tionghoa Peranakan yang sempat terhenti selama dua dekade kini kembali dihidupkan generasi keempat lewat riset, dokumentasi, dan museum

- Penulis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sesi foto bersama setelah talkshow selesai bersama narasumber, moderator, Ketua CCDS, dan para peserta talkshow bertajuk “150 Years of Batik Gan Journey” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026/ dok. istimewa

Sesi foto bersama setelah talkshow selesai bersama narasumber, moderator, Ketua CCDS, dan para peserta talkshow bertajuk “150 Years of Batik Gan Journey” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026/ dok. istimewa

SUARAMUDA.NET, BANDUNG — Batik bukan cuma soal motif dan warna. Di balik selembar kain, tersimpan cerita tentang keluarga, perjuangan, perubahan zaman, hingga identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Kisah panjang itulah yang dibagikan Center of Chinese Diaspora Studies (CCDS) dalam talkshow bertajuk “150 Years of Batik Gan Journey” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026.

Talkshow yang digelar di Ruang Paulus, Lantai 4 Gedung Administrasi Pusat Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jumat (2/10/2026), menghadirkan Indrawati Gondowinoto (Gan Swie Hiang), generasi keempat Batik Gan Pekalongan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Didampingi moderator Dr. Dra. Christine Claudia Lukman dan dipandu MC Wenny Anggraini, S.Ds., M.Ds., Indrawati mengisahkan perjalanan panjang Batik Gan yang telah melewati 150 tahun.

Poster acara talkshow Batik Gan/ dok istimewa

Berawal dari Rumah di Pekalongan

Kisah Batik Gan bermula pada 1870. Generasi pertama, Gan Sam Gie (1856–1928) bersama istrinya, Tan Tiang Hwie Nio, merintis usaha batik dari sebuah rumah di Jalan Keplekan Kidul 228, yang kini menjadi Jalan Hasanudin 58, Pekalongan.

Saat itu, mayoritas usaha batik di Pekalongan masih dimiliki orang Belanda. Batik Gan pun tercatat sebagai salah satu perintis batik Tionghoa Peranakan di Pekalongan.

Karya generasi pertama banyak dipengaruhi motif Batik Belanda. Namun, Gan Sam Gie juga menanamkan nilai yang kemudian menjadi fondasi keluarga yakni keberanian, kerja keras, kejujuran, ketekunan, keyakinan, dan komitmen terhadap kualitas batik tulis.

Jejak karya generasi pertama kini tersebar di sejumlah koleksi bergengsi, antara lain Los Angeles County Museum of Art (LACMA) dan Peranakan Museum Singapore.

Baca Juga :  MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
Batik Gan Sam Gie (1920) yang menjadi koleksi Caecilia Adinoto/ dok istimewa

Masuk Masa Kejayaan

Tongkat estafet kemudian berlanjut kepada generasi kedua, Gan Tjioe Liam (1900–1957) dan istrinya, The Gin Tjiok Nio.

Pada masa ini, Batik Gan memasuki periode kejayaan. Jumlah pekerjanya mencapai ratusan orang dengan beragam produksi batik yang memperlihatkan akulturasi budaya Belanda, Tionghoa, dan Jawa.

Kesuksesan tersebut bahkan ikut mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha batik baru di Pekalongan, baik dari keluarga besar Gan maupun keluarga lainnya.

Karya generasi kedua juga kemudian menjadi bagian dari koleksi sejumlah museum, termasuk LACMA, Weltmuseum Vienna, Nationaal Museum van Wereldculturen Belanda, dan Museum Batik Yogyakarta.

Ketika Batik Gan Hampir Padam

Memasuki generasi ketiga, Gan Tjiang Liem (1928–1992) menghadapi tantangan besar. Perubahan zaman dan maraknya batik sablon serta printing membuat industri batik tulis semakin terdesak. Namun, Batik Gan tetap dipertahankan.

Gan Tjiang Liem memilih bertahan sebagai bentuk bakti terhadap warisan leluhurnya. Baginya, mempertahankan tradisi bukan semata soal mengejar kejayaan, melainkan tentang keteguhan untuk tidak menyerah.

Setelah Gan Tjiang Liem wafat pada 1992, produksi Batik Gan akhirnya berhenti setelah 122 tahun perjalanan.

Peralatan dan bahan produksi tercecer. Sebagian dijual, dihibahkan, bahkan dibuang. Kertas-kertas berisi pola batik pun teronggok dan nyaris kehilangan makna. Selama sekitar 20 tahun, warisan tersebut seolah tertidur.

Dua buku yang ditulis oleh Ibu Indrawati Gondowinoto (Gan Swie Hiang)/ dok istimewa

Generasi Keempat Mencari Puzzle yang Hilang

Titik balik terjadi pada 2012 ketika generasi keempat, Gan Swie Hiang atau Indrawati Gondowinoto, mulai menghidupkan kembali Batik Gan.

Ia memulai semuanya hampir dari nol. Potongan-potongan sejarah keluarga dicari kembali melalui artefak, literatur, kolektor, museum, hingga berbagai sumber di dalam dan luar negeri.

Baca Juga :  Dongeng Keliling Desa di Bali: Menumbuhkan Literasi Lingkungan dari Pelukan Cerita

Indrawati bukan sekadar mencari kain batik. Ia juga mencari cerita di balik setiap motif dan jejak keluarganya.

Hasil penelusuran tersebut kemudian didokumentasikan dalam dua buku, yakni “BATIKA: Jejak Batik Keluarga Gan Tjioe Liam” dan “Tok Wi Altar Leluhur”.

Perjalanan empat generasi Batik Gan kini juga dapat ditelusuri di Museum Batik Gan, Jalan Jenderal Sudirman 16B, Yogyakarta.

Warisan Bukan Sekadar Kain

Bagi Indrawati, 150 tahun perjalanan Batik Gan bukan sekadar cerita tentang selembar kain. Ada nilai keberanian, kerja keras, kejujuran, ketekunan, kreativitas, dan kegigihan yang ikut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebab, warisan yang hidup bukanlah warisan yang hanya disimpan. Warisan akan tetap hidup ketika dipahami, dirawat, dan diteruskan.

Di penghujung acara, Ketua CCDS Krismanto Kusbiantoro menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Indrawati. Ia juga menyerahkan lukisan cat air berjudul “Phoenix” karya Christine Claudia Lukman.

Phoenix menjadi metafora perjalanan Indrawati dalam membangkitkan kembali warisan Batik Gan yang sempat terhenti melalui riset, dokumentasi, dan karya seni.

Dari rumah sederhana di Pekalongan pada 1870, Batik Gan kini meninggalkan jejak hingga museum-museum dunia. Sebuah pengingat bahwa menjaga warisan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, tetapi membawa nilai masa lalu untuk tetap hidup di masa depan. (Red)

Oleh: Christine Claudia Lukman dan Krismanto Kusbiantoro, Center of Chinese Diaspora Studies, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Maranatha

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Pantang Menyerah Jadi Kunci
Gali Lurus dari Jakarta, Ternyata Bisa Muncul di Kolombia! Kalau dari Papua, Tembus Mana?
PSHW TM Lamongan Turunkan 6 Pendekar di IPSI Lamongan Megilan Cup 2026
Aliansi Mahasiswa Probolinggo Siap Turun Lagi, Bawa Massa Lebih Besar
Rafty Raf Rilis Single Kedua ‘Cinta Dia & Dirimu’, Bawa Kisah Cinta yang Datang di Waktu yang Salah
Kabinet Prabowo Dirombak Lagi, Pratikno hingga Djamari Chaniago Tergeser
Mimpi Buruk Bangladesh Jadi Kenyataan, Indonesia Mengamuk 9-2
Panah Nurisa Jadi Penentu! Indonesia Gondol 5 Emas di Asian Games 2026, Target Kemenpora Resmi Kelewat
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:15 WIB

150 Tahun Batik Gan: Dari Rumah di Pekalongan, Menembus Museum Dunia

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:26 WIB

Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Pantang Menyerah Jadi Kunci

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:41 WIB

Gali Lurus dari Jakarta, Ternyata Bisa Muncul di Kolombia! Kalau dari Papua, Tembus Mana?

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 23:24 WIB

PSHW TM Lamongan Turunkan 6 Pendekar di IPSI Lamongan Megilan Cup 2026

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Aliansi Mahasiswa Probolinggo Siap Turun Lagi, Bawa Massa Lebih Besar

Berita Terbaru

Bendera China. (Sumber: pinterest)

Sino Insight

China Bikin Akademi Militer Baru, AI dan Drone Jadi Andalan

Selasa, 6 Okt 2026 - 11:40 WIB

Sesi foto bersama setelah talkshow selesai bersama narasumber, moderator, Ketua CCDS, dan para peserta talkshow bertajuk “150 Years of Batik Gan Journey” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026/ dok. istimewa

KABAR NUSANTARA

150 Tahun Batik Gan: Dari Rumah di Pekalongan, Menembus Museum Dunia

Selasa, 6 Okt 2026 - 11:15 WIB

Foto: Kompas.com

LINTAS JATENG

Pantura Jateng Mau Dipagari Tanggul Raksasa, Tapi Bukan Cuma Beton!

Selasa, 6 Okt 2026 - 10:47 WIB

Foto: Kompas.com

KABAR NUSANTARA

Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Pantang Menyerah Jadi Kunci

Selasa, 6 Okt 2026 - 10:26 WIB