SUARAMUDA.NET, BANDUNG — Batik bukan cuma soal motif dan warna. Di balik selembar kain, tersimpan cerita tentang keluarga, perjuangan, perubahan zaman, hingga identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.
Kisah panjang itulah yang dibagikan Center of Chinese Diaspora Studies (CCDS) dalam talkshow bertajuk “150 Years of Batik Gan Journey” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026.
Talkshow yang digelar di Ruang Paulus, Lantai 4 Gedung Administrasi Pusat Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jumat (2/10/2026), menghadirkan Indrawati Gondowinoto (Gan Swie Hiang), generasi keempat Batik Gan Pekalongan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Didampingi moderator Dr. Dra. Christine Claudia Lukman dan dipandu MC Wenny Anggraini, S.Ds., M.Ds., Indrawati mengisahkan perjalanan panjang Batik Gan yang telah melewati 150 tahun.

Berawal dari Rumah di Pekalongan
Kisah Batik Gan bermula pada 1870. Generasi pertama, Gan Sam Gie (1856–1928) bersama istrinya, Tan Tiang Hwie Nio, merintis usaha batik dari sebuah rumah di Jalan Keplekan Kidul 228, yang kini menjadi Jalan Hasanudin 58, Pekalongan.
Saat itu, mayoritas usaha batik di Pekalongan masih dimiliki orang Belanda. Batik Gan pun tercatat sebagai salah satu perintis batik Tionghoa Peranakan di Pekalongan.
Karya generasi pertama banyak dipengaruhi motif Batik Belanda. Namun, Gan Sam Gie juga menanamkan nilai yang kemudian menjadi fondasi keluarga yakni keberanian, kerja keras, kejujuran, ketekunan, keyakinan, dan komitmen terhadap kualitas batik tulis.
Jejak karya generasi pertama kini tersebar di sejumlah koleksi bergengsi, antara lain Los Angeles County Museum of Art (LACMA) dan Peranakan Museum Singapore.

Masuk Masa Kejayaan
Tongkat estafet kemudian berlanjut kepada generasi kedua, Gan Tjioe Liam (1900–1957) dan istrinya, The Gin Tjiok Nio.
Pada masa ini, Batik Gan memasuki periode kejayaan. Jumlah pekerjanya mencapai ratusan orang dengan beragam produksi batik yang memperlihatkan akulturasi budaya Belanda, Tionghoa, dan Jawa.
Kesuksesan tersebut bahkan ikut mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha batik baru di Pekalongan, baik dari keluarga besar Gan maupun keluarga lainnya.
Karya generasi kedua juga kemudian menjadi bagian dari koleksi sejumlah museum, termasuk LACMA, Weltmuseum Vienna, Nationaal Museum van Wereldculturen Belanda, dan Museum Batik Yogyakarta.
Ketika Batik Gan Hampir Padam
Memasuki generasi ketiga, Gan Tjiang Liem (1928–1992) menghadapi tantangan besar. Perubahan zaman dan maraknya batik sablon serta printing membuat industri batik tulis semakin terdesak. Namun, Batik Gan tetap dipertahankan.
Gan Tjiang Liem memilih bertahan sebagai bentuk bakti terhadap warisan leluhurnya. Baginya, mempertahankan tradisi bukan semata soal mengejar kejayaan, melainkan tentang keteguhan untuk tidak menyerah.
Setelah Gan Tjiang Liem wafat pada 1992, produksi Batik Gan akhirnya berhenti setelah 122 tahun perjalanan.
Peralatan dan bahan produksi tercecer. Sebagian dijual, dihibahkan, bahkan dibuang. Kertas-kertas berisi pola batik pun teronggok dan nyaris kehilangan makna. Selama sekitar 20 tahun, warisan tersebut seolah tertidur.

Generasi Keempat Mencari Puzzle yang Hilang
Titik balik terjadi pada 2012 ketika generasi keempat, Gan Swie Hiang atau Indrawati Gondowinoto, mulai menghidupkan kembali Batik Gan.
Ia memulai semuanya hampir dari nol. Potongan-potongan sejarah keluarga dicari kembali melalui artefak, literatur, kolektor, museum, hingga berbagai sumber di dalam dan luar negeri.
Indrawati bukan sekadar mencari kain batik. Ia juga mencari cerita di balik setiap motif dan jejak keluarganya.
Hasil penelusuran tersebut kemudian didokumentasikan dalam dua buku, yakni “BATIKA: Jejak Batik Keluarga Gan Tjioe Liam” dan “Tok Wi Altar Leluhur”.
Perjalanan empat generasi Batik Gan kini juga dapat ditelusuri di Museum Batik Gan, Jalan Jenderal Sudirman 16B, Yogyakarta.
Warisan Bukan Sekadar Kain
Bagi Indrawati, 150 tahun perjalanan Batik Gan bukan sekadar cerita tentang selembar kain. Ada nilai keberanian, kerja keras, kejujuran, ketekunan, kreativitas, dan kegigihan yang ikut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebab, warisan yang hidup bukanlah warisan yang hanya disimpan. Warisan akan tetap hidup ketika dipahami, dirawat, dan diteruskan.
Di penghujung acara, Ketua CCDS Krismanto Kusbiantoro menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Indrawati. Ia juga menyerahkan lukisan cat air berjudul “Phoenix” karya Christine Claudia Lukman.
Phoenix menjadi metafora perjalanan Indrawati dalam membangkitkan kembali warisan Batik Gan yang sempat terhenti melalui riset, dokumentasi, dan karya seni.
Dari rumah sederhana di Pekalongan pada 1870, Batik Gan kini meninggalkan jejak hingga museum-museum dunia. Sebuah pengingat bahwa menjaga warisan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, tetapi membawa nilai masa lalu untuk tetap hidup di masa depan. (Red)
Oleh: Christine Claudia Lukman dan Krismanto Kusbiantoro, Center of Chinese Diaspora Studies, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Maranatha













Komentar