SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Sebuah poster digital dari Pati, Jawa Tengah, tengah mencuri perhatian di media sosial. Bertajuk “AMPB Menolak Pembungkaman”, ilustrasi itu menampilkan Garuda Pancasila dalam kondisi penuh luka, tubuhnya diperban, kepalanya diplester, dan air mata mengalir dari kedua matanya.
Meski terluka, Garuda tetap mencengkeram erat perisai Pancasila yang terlihat retak. Di bagian bawah tertulis kalimat berbahasa Jawa, “Aku Terno Suntik, Awakku Loro Kabeh”, yang bermakna “Aku terus-menerus disakiti, seluruh tubuhku terasa sakit.”
Poster yang dikaitkan dengan AMPB, kelompok masyarakat sipil asal Pati, itu kemudian berkembang menjadi simbol kritik terhadap apa yang dinilai sebagai pembungkaman suara rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Garuda yang Terluka, Rakyat yang Merasa Sakit
Garuda dalam poster tersebut tidak digambarkan sebagai simbol negara yang gagah dan tanpa cela. Sebaliknya, ia tampil rapuh dan terluka.
Luka, perban, serta air mata menjadi metafora keresahan masyarakat yang merasa menghadapi tekanan, ketidakadilan, persoalan ekonomi, hingga suara yang tidak cukup didengar.
Namun, satu hal tetap dipertahankan: Garuda tidak melepaskan perisai Pancasila. Pesannya jelas. Kritik terhadap kondisi bangsa bukan berarti kehilangan kecintaan terhadap Indonesia. Justru, keberanian menunjukkan luka dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap negeri.
Dari Pati untuk Indonesia
Gerakan ini menarik perhatian karena lahir bukan dari pusat kekuasaan, melainkan dari Pati, Jawa Tengah, dengan semangat “Dari Pati, Untuk Negeri.”
Poster tersebut seolah ingin menyampaikan bahwa suara rakyat tidak hanya lahir dari Jakarta. Dari daerah pun muncul keberanian untuk menyampaikan keresahan dan mempertanyakan kondisi bangsa.
Kalimat “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” yang turut menghiasi poster mempertegas pesan tentang kedaulatan rakyat.
Kritik, Bukan Berarti Membenci Negeri
Kekuatan poster ini terletak pada simbol yang sederhana tetapi mudah dipahami. Garuda yang terluka menggambarkan bangsa yang sedang menghadapi persoalan, sementara perisai Pancasila yang tetap digenggam menjadi tanda bahwa harapan belum ditinggalkan.
Pesannya pun terasa kuat: mencintai Indonesia tidak selalu berarti memuji. Terkadang, cinta justru ditunjukkan dengan keberanian mengakui bahwa ada luka yang harus segera diobati.
Dari Pati, poster “Aku Terno Suntik, Awakku Loro Kabeh” akhirnya menemukan gaungnya di ruang digital. Ia bukan sekadar ilustrasi, tetapi menjadi medium bagi keresahan publik untuk bersuara. Garuda boleh terluka, tetapi selama rakyat masih berani bersuara, harapan belum mati. (Red)














Komentar