SUARAMUDA.NET, LAMONGAN — Keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHW TM) Madiun Pusat Indonesia Cabang Lamongan menyampaikan belasungkawa dan keprihatinan mendalam atas bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kabupaten Nagekeo dan sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026 dini hari. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami yang kemudian dinyatakan berakhir.
Duka NTT dalam Angka
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
75 orang meninggal dunia
907 orang mengalami luka-luka
92.735 warga masih mengungsi
36.163 rumah mengalami kerusakan
4.256 gempa susulan tercatat hingga 21 Agustus 2026
Data tersebut menggambarkan besarnya dampak bencana yang hingga kini masih dirasakan masyarakat Flores dan wilayah NTT lainnya. BNPB mencatat, hingga 20 Agustus jumlah korban meninggal mencapai 75 orang dan korban luka sebanyak 907 orang.
Sementara jumlah pengungsi telah mencapai 92.735 jiwa, dengan Kabupaten Nagekeo menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni 21.883 jiwa.
Yang membuat situasi semakin memprihatinkan, masyarakat masih menghadapi ancaman gempa susulan. BMKG mencatat sebanyak 4.256 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,1 hingga 6,2 sejak gempa utama terjadi.
Dari jumlah tersebut, 31 gempa susulan berkekuatan di atas magnitudo 5 dan 118 gempa dirasakan oleh masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, duka tidak hanya dirasakan keluarga korban. Ribuan warga harus meninggalkan rumah dan bertahan di lokasi pengungsian karena bangunan mengalami kerusakan maupun karena masih khawatir terhadap gempa susulan.
Bagi masyarakat NTT, bencana ini bukan sekadar angka. Di balik setiap korban terdapat keluarga yang kehilangan orang terkasih, rumah yang rusak, mata pencaharian yang terganggu, serta masa depan yang untuk sementara harus dijalani dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Keluarga besar PSHW TM Cabang Lamongan turut merasakan kesedihan masyarakat yang terdampak, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, hingga orang-orang terkasih.
Pernyataan duka tersebut disampaikan Ketua Cabang PSHW TM Lamongan, Wahyono, bersama Ketua Harian Karsan, Ketua Korlap Tono, serta seluruh jajaran pengurus, pelatih, warga, dan siswa PSHW TM Cabang Lamongan.
“Kami turut prihatin dan mendoakan saudara-saudara kita di NTT agar diberikan keselamatan, kekuatan, ketabahan, serta perlindungan dalam menghadapi musibah ini.”
Selain menyampaikan belasungkawa, keluarga besar PSHW TM Cabang Lamongan juga mendoakan masyarakat yang saat ini masih menjalani proses evakuasi, mencari anggota keluarga, maupun mereka yang tengah berduka akibat bencana tersebut.
Doa juga dipanjatkan agar seluruh masyarakat terdampak diberikan kesabaran, keikhlasan, serta kemudahan dalam menjalani proses pemulihan.
PSHW TM Cabang Lamongan berharap Flores dan seluruh wilayah NTT yang terdampak dapat segera bangkit. Pemulihan bukan hanya soal membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga memulihkan rasa aman dan harapan masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana.
Keluarga besar PSHW TM Cabang Lamongan mengajak masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi para korban dan seluruh masyarakat yang terdampak bencana.
“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pelindung, lindungilah Indonesia dan saudara-saudara kami di NTT. Berikan kekuatan di saat lemah, ketenangan di saat takut, serta kemudahan dalam setiap proses pemulihan. Jauhkan seluruh masyarakat dari marabahaya dan bencana lainnya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.”
PSHW TM Cabang Lamongan menegaskan bahwa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dalam menghadapi setiap musibah.
Di tengah duka yang masih menyelimuti Flores, kepedulian dari berbagai daerah menjadi pengingat bahwa masyarakat NTT tidak menghadapi bencana ini sendirian. Dukungan, doa, bantuan, dan solidaritas menjadi energi penting agar para penyintas dapat melewati masa sulit dan perlahan kembali menata kehidupan.
“Semoga seluruh wilayah terdampak segera pulih dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman, tenang, dan penuh harapan,” pungkasnya. (SAMI’AN)













Komentar