Magang Unpaid: Antara Eksploitasi dan Aktualisasi DIri

Magang unpaid seharusnya menjadi ruang belajar dan aktualisasi diri, bukan pintu masuk eksploitasi mahasiswa melalui beban kerja berlebih tanpa imbalan yang layak

- Penulis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pekerja yang mengalami beban kerja berlebih. (Sumber: istock)

Ilustrasi pekerja yang mengalami beban kerja berlebih. (Sumber: istock)

Oleh: Muttaqin Hidayahtullah, Mahasiswa Universite de Tunis El-Manar

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dewasa kini dunia kerja diramaikan dengan kehadiran sistem percobaan kerja, atau biasa kita sebut sebagai magang. Bahkan kini, banyak perusahaan yang menerapkan sistem magang berbentuk “unpaid”, alias cuma-cuma (tanpa dibayar).

Banyak orang yang menilai hal ini menjadi terobosan baru bagi para mahasiswa untuk mendalami dunia kerja, sehingga para mahasiswa akan mengetahui bagaimana budaya, dan sistematika yang ada pada kehdiupan kerja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak jarang mereka yang mendukung langkah ini sebenarnya adalah orang yang juga membuat startup dan menerapkan pola serupa pada usaha yang mereka pimpin.

Para pendukung pola ini berpendapat bahwa dengan adanya program magang unpaid atau bekerja tanpa adanya remeneunisasi, para mahasiswa akan mendapatkan pengalaman, yang nantinya dapat mereka gunakan pada Cover letter untuk melamar kerja di masa mendatang.

Kendati demikian, ternyata realita yang ada di lapangan tak semulus dengan perkiraan. Justru dengan adanya program ini, banyak mahasiswa yang malah menjadi bahan eksploitasi. Seperti sistem kerja yang tak manusiawi, beban kerja yang banyak, dan bahkan selalu di absen layaknya karyawan bergaji dua digit.

Saya sendiri mempunyai pengalaman pada program serupa, tak jarang saya mendapati bahwa program ini hanya dibuat oleh mereka yang mempunyai perusahaan atau Startup guna mendapatkan keuntungan melimpah semata, dengan tanpa membayar para pekerja yang sejatinya menjadi hak atas kinerja mereka.

Saya merasakan sendiri tak adanya timbal balik dari program ini, melainkan hanya menambah beban kehidupan pribadi saya. Saya dipaksa untuk menuruti semua permintaan mereka, dengan iming-iming sertifikat yang sejatinya bisa diedit dan dibuat sendiri oleh masing-masing individu di canva atau platform desain lainnya, surat rekomendasi, dan berbagai embel-embel yang menyita perhatian saya pada kala itu.

Baca Juga :  Sebuah Refleksi: Anak Semua Bangsa dalam Pangkuan Ibu Pertiwi

Kerap kali mereka menyajikan kata-kata ciamik, elegan, nan manis untuk bisa menerapkan program magang dengan pola Unpaid ini. Semua mereka kerahkan untuk dapat membuat mahasiswa tergiur mengerjakan hal yang semestinya bisa mereka lakukan dengan balasan yang lebih manusiawi.

Jikalau kita membahas magang (persiapan kerja), alangkah lebih baiknya kalau kita membahas juga mengenai asal-muasal kata kerja ada, dan bagaimana situasi orang pada zaman itu menganggap aktivitas pekerjaan.

Kerja adalah hasil konstruksi sosial yang mulai berkembang sejak sekitar abad ke-11. Sejak munculnya sistem kapitalisme, kerja tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ukuran moral dan sosial seseorang.

Dalam masyarakat modern, seseorang sering dinilai berdasarkan pekerjaannya. Bahkan dalam bahasa Prancis, kata travail memiliki banyak makna dan memiliki puluhan sinonim yang menunjukkan bahwa kerja adalah konsep yang sangat luas dan kompleks.

Secara historis, makna kerja mengalami perubahan besar dari masa ke masa. Pada zaman Yunani Kuno, kerja dianggap sebagai aktivitas rendah yang hanya pantas dilakukan oleh budak, sedangkan warga bebas lebih dihargai jika memiliki waktu untuk berpikir dan berpolitik.

Pada abad ke-6, kata kerja dikaitkan dengan Tripalium, yaitu alat penyiksaan, sehingga kerja dipahami sebagai sesuatu yang menyakitkan dan penuh penderitaan.

Baca Juga :  Bendera One Piece: Simbol Kebebasan Berekspresi atau Tantangan bagi Nasionalisme?

Pada abad ke-7, kerja masih identik dengan kesulitan dan penderitaan hidup. Kemudian pada abad ke-16, kerja mulai dipandang sebagai usaha keras yang membutuhkan pengorbanan fisik dan mental.

Namun, dalam masyarakat modern terutama di Barat, kerja berubah menjadi sumber identitas sosial dan simbol keberhasilan seseorang. Orang yang menganggur sering dipandang negatif dan dianggap tidak produktif, sedangkan mahasiswa dipandang sebagai individu yang belum memasuki dunia kerja secara penuh.

Menurut Karl Marx, kerja merupakan aktivitas dasar manusia untuk mengubah alam dan memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi, Marx juga menjelaskan bahwa dalam sistem kapitalisme, kerja dapat berubah menjadi alat eksploitasi yang membuat pekerja kehilangan makna dan kontrol atas hasil kerjanya.

Secara umum, kerja dapat didefinisikan sebagai aktivitas individu atau kelompok, baik fisik maupun mental, yang dilakukan secara sadar dan terorganisir untuk menghasilkan barang atau jasa dengan imbalan material ataupun moral.

Dari sini sudah jelas bahwa sebenarnya kata kerja sendiri memiliki sejarah yang cukup membuat ironi.

Maka, jikalau sekarang orang justru malah bangga menjadi seorang pekerja yang tidak dibayar, alias program magang unpaid ini, mereka sejatinya harus melihat dulu historical dari kata kerja untuk mengetahui kenyataan bahwa magang unpaid yang selama ini banyak dilakukan oleh mahasiswa, justru adalah ironi yang lebih tragis dari sejarah kata kerja ini sendiri. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 25 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB