SUARAMUDA.NET, SURABAYA — Ketua DPD GEMABUDHI Jawa Timur, Friski Fernando, S.E., M.M., mengajak masyarakat menjadikan bencana sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, serta mengikis keserakahan dalam kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Friski saat menjadi narasumber dalam program “Beranda Asta Cita” RRI Pro 1 Surabaya 99,2 FM. Dalam dialog, ia mengangkat tema “Pentingnya Mawas Diri: Bersahabat dengan Alam dan Mengikis Keserakahan dalam Menyikapi Bencana dan Musibah yang Terjadi.”
Friski menegaskan bahwa bencana tidak semestinya hanya dipandang sebagai peristiwa yang datang secara tiba-tiba dan kemudian dilupakan setelah kondisi kembali normal. Bencana juga perlu menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali bagaimana manusia memperlakukan alam dan menjalani kehidupan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bencana seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya kapan musibah akan berakhir, tetapi juga membuat kita bertanya apa yang harus kita perbaiki dalam cara kita menjalani kehidupan,” ujar Friski.
Menurutnya, manusia memiliki hubungan yang erat dengan alam. Kehidupan tidak berdiri sendiri, melainkan berlangsung dalam sebuah keterkaitan dan saling ketergantungan. Karena itu, kerusakan lingkungan pada akhirnya juga dapat memberikan dampak terhadap kehidupan manusia.
Dalam perspektif Buddha Dhamma, kesadaran tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih bijaksana. Manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak atas alam, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya.
“Bersahabat dengan alam berarti kita menyadari bahwa manusia bukan satu-satunya yang memiliki kepentingan di bumi ini. Kita membutuhkan alam, dan karena itu kita mempunyai tanggung jawab untuk menjaganya,” kata Friski.
Ia juga menyoroti persoalan keserakahan atau lobha yang dapat menjadi salah satu pemicu perilaku eksploitatif terhadap alam. Ketika keuntungan dan kepentingan jangka pendek ditempatkan di atas keberlanjutan lingkungan, manusia berpotensi menciptakan kerusakan yang dampaknya kembali dirasakan oleh masyarakat.
Keserakahan terhadap alam pada akhirnya bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengancam keberlangsungan kehidupan manusia sendiri.
Karena itu, Friski menilai mawas diri perlu ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mawas diri bukan berarti menyalahkan diri sendiri atas setiap bencana yang terjadi, melainkan membangun kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kontribusi dan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan.
“Mawas diri bukan berarti mencari siapa yang harus disalahkan ketika bencana terjadi. Mawas diri berarti berani melihat ke dalam diri dan bertanya, apa yang bisa kita lakukan agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Menurut Friski, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah atau lembaga tertentu. Kesadaran masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang berkelanjutan.
Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengurangi perilaku konsumtif, tidak mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan, menjaga kebersihan lingkungan, serta membangun kepedulian terhadap kehidupan di sekitar.
Menjaga alam, menurut Friski, bukan sekadar agenda lingkungan. Menjaga alam adalah bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan generasi hari ini dan generasi yang akan datang.
Di tengah musibah yang terjadi, Friski juga mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada rasa prihatin. Kepedulian harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui gotong royong, solidaritas, empati, dan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
Ia turut menyampaikan doa dan rasa solidaritas kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta kebakaran hutan di Kalimantan.
“Semoga saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah di NTT dan Kalimantan diberikan kekuatan dan ketabahan. Semoga seluruh pihak dapat bergandengan tangan memberikan bantuan dan dukungan kepada masyarakat yang terdampak,” ujar Friski.
Ia menekankan bahwa musibah tidak boleh membuat masyarakat kehilangan rasa kemanusiaan. Sebaliknya, situasi sulit seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan dan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mampu berdiri bersama ketika sebagian saudaranya sedang menghadapi kesulitan.
“Ketika sebagian dari kita sedang mengalami musibah, yang dibutuhkan bukan hanya rasa iba, tetapi juga kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan,” tegasnya.
Melalui dialog di RRI Pro 1 Surabaya, Friski mengajak masyarakat untuk membangun cara pandang yang lebih bijaksana dalam menghadapi bencana. Introspeksi, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan kepedulian dan tindakan nyata.
Ia menilai kehidupan yang harmonis hanya dapat dibangun ketika manusia mampu mengendalikan keserakahan, menghormati alam, serta menyadari keterhubungan antara manusia dengan seluruh kehidupan.
“Mawas diri, bersahabat dengan alam, mengikis keserakahan, dan peduli terhadap sesama bukan hanya nilai moral, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk menjaga keberlangsungan kehidupan,” tutup Friski. (Red)













Komentar