SUARAMUDA.NET, BARNAUL, RUSIA — Tiga nama menjadi pahlawan bagi olahraga air Indonesia di Altaiskaya Regata 2026: Gigin Praginanto Tahir, Septenandov Horomati, dan Aurel Faustasyah Febriana.
Mereka bertiga menyumbangkan total empat medali bagi Merah-Putih dalam ajang internasional yang berlangsung di Kanal Dayung Barnaul, Rusia, pada 15–16 Agustus lalu.
Cabang yang mereka tekuni adalah Stand Up Paddle (SUP), olahraga air di mana atlet berdiri di atas papan dan menggunakan dayung panjang untuk bergerak, menggabungkan unsur keseimbangan, kekuatan lengan, dan kontrol tubuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah persaingan sengit dengan sekitar 200 atlet dari lima negara, ketiganya membuktikan bahwa teknik, kecepatan, dan ketahanan fisik atlet Indonesia tak kalah dengan lawan-lawan dari Rusia, India, Serbia, dan Afrika Selatan.
Gigin Praginanto Tahir mencatatkan prestasi tertinggi dengan meraih emas di nomor sprint putra 150 meter. Dalam lomba yang hanya berlangsung beberapa detik, Gigin menunjukkan start yang sempurna dan ayunan dayung yang efisien, mengungguli lawan-lawannya yang rata-rata bertubuh lebih besar.
Sementara itu, Septenandov Horomati, yang akrab disapa Nando, harus melalui perjuangan lebih panjang di nomor teknikal race 1.500 meter.
Lintasan berliku dengan delapan belokan menguji kemampuannya dalam membaca arus, memilih sisi belokan yang tepat, serta mempertahankan kecepatan setelah kehilangan momen di tikungan.
Nando berhasil finis di posisi kedua, hanya terpaut sedikit dari atlet tuan rumah, dan membawa pulang medali perak.
Di sektor putri, Aurel Faustasyah Febriana tampil luar biasa dengan meraih dua medali sekaligus: perak di sprint 150 meter dan perunggu di teknikal race 1.500 meter.
Kemampuannya untuk tampil konsisten di dua disiplin yang sangat berbeda menunjukkan bahwa ia adalah atlet serba bisa yang menjadi andalan tim.
Rekan senegaranya, Aisya Alzuba, juga menunjukkan performa solid dengan menempati posisi keempat di sprint dan keenam di teknikal race, hanya terpaut beberapa detik dari peraih medali.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan atlet Indonesia mengadaptasi teknik dayung mereka ke kondisi Kanal Barnaul yang memiliki panjang 1.900 meter, lebar 110 meter, dan kedalaman hingga 18 meter.
Meskipun air kanal terasa lebih dingin dan memiliki kepadatan berbeda dari perairan tropis Indonesia, para atlet tetap mampu menunjukkan performa terbaik.
Keempat medali yang diraih tim Indonesia menjadi bukti bahwa atlet Merah-Putih tidak hanya mengandalkan kecepatan di lintasan lurus, tetapi juga unggul dalam hal kelincahan, strategi, dan ketahanan di lintasan teknis.
Hal ini sangat penting mengingat Altaiskaya Regata mempertemukan atlet-atlet dari negara-negara dengan tradisi olahraga air yang panjang, termasuk Rusia yang memiliki program pembinaan atlet dayung dan SUP yang sangat matang.
Meskipun datang sebagai underdog, Indonesia pulang dengan kepala tegak dan membawa kebanggaan bagi tanah air.
Pengalaman bertanding di venue sekelas Kanal Barnaul, yang pernah menjadi tuan rumah seri Piala Dunia Dayung 2021, menjadi modal berharga bagi para atlet untuk menghadapi kejuaraan-kejuaraan dunia berikutnya dan terus mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. (Red)













Komentar