SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali bikin tetangga waswas. Kali ini, asap dari kebakaran di Kalimantan terpantau bergerak menyeberangi perbatasan dan membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak, Malaysia, memburuk.
Bukan satu-dua wilayah. Tujuh kawasan di Sarawak tercatat masuk kategori kualitas udara tidak sehat. Kondisi ini membuat isu karhutla kembali menjadi persoalan lintas batas yang tak bisa dianggap sepele.
Data otoritas Malaysia menunjukkan sejumlah wilayah terdampak, yakni Serian, Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Bintulu, dan Mukah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Serian menjadi salah satu wilayah dengan kondisi paling mengkhawatirkan. Pada pemantauan sebelumnya, indeks polutan udara (API) di kawasan tersebut bahkan mencapai 195.
Sementara itu, asap dengan intensitas sedang hingga tebal terpantau bergerak dari Kalimantan menuju Sarawak.
Asap Tak Kenal Batas Negara
Persoalannya memang sederhana: asap tidak punya paspor. Ketika titik-titik api muncul di Kalimantan, terutama Kalimantan Barat yang lokasinya relatif dekat dengan Sarawak, arah angin dan kondisi atmosfer bisa membawa asap melintasi garis perbatasan.
Asean Specialised Meteorological Centre (ASMC) sebelumnya melaporkan peningkatan titik panas di Kalimantan Barat, termasuk kawasan di selatan Kuching.
Pemerintah Malaysia juga menyebut kondisi cuaca kering ikut meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap lintas batas.
Dari Indonesia, pergerakan asap menuju wilayah Malaysia juga terus dipantau. Manggala Agni Kalimantan XI/Singkawang meningkatkan pemantauan terhadap arah, ketebalan, hingga jangkauan asap yang berpotensi melintasi perbatasan.
Bukan Cuma Soal Pandangan Jadi Buram
Kabut asap bukan sekadar membuat langit berubah abu-abu atau jarak pandang berkurang. Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan.
Situasi ini juga menjadi alarm bahwa karhutla di Indonesia bisa memiliki efek domino hingga negara tetangga.
Pemerintah Malaysia bahkan memperkirakan kondisi jerebu dapat bertahan beberapa hari karena hujan yang turun belum cukup untuk membersihkan udara secara menyeluruh.
Untuk wilayah selatan dan barat Sarawak, faktor jerebu lintas batas disebut berkaitan dengan kebakaran terbuka di wilayah barat Kalimantan.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan karhutla Indonesia bukan hanya urusan dalam negeri. Ketika api membesar dan asap terbawa angin, dampaknya bisa menyeberang negara.
Tujuh wilayah Malaysia kini merasakan efeknya. Dan sekali lagi, kabut asap mengingatkan bahwa menjaga hutan bukan cuma soal menyelamatkan lingkungan Indonesia, tetapi juga menjaga udara kawasan Asia Tenggara. (Red)













Komentar