SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Jawa Tengah kembali mengirim nama-nama terbaiknya ke panggung nasional. Tahun ini, Pemprov Jateng mengusulkan tujuh tokoh untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional 2026.
Dua nama menjadi pendatang baru dalam daftar tersebut: KH Sholeh Darat, ulama besar asal Semarang, dan R.M. Margono Djojohadikusumo, tokoh nasional asal Banyumas sekaligus kakek Presiden RI Prabowo Subianto.
Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah Imam Maskur mengatakan, seluruh usulan telah melalui proses kajian di tingkat daerah dan dokumennya kini sudah dikirim ke pemerintah pusat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk tahun 2026 ini, ada dua nama usulan baru. Yang pertama KH Sholeh Darat, yang kedua R.M. Margono Djojohadikusumo,” ujar Imam, Selasa (18/8/2026).
Bukan Cuma Dua Nama
Selain KH Sholeh Darat dan Margono Djojohadikusumo, Jateng juga kembali memperjuangkan lima tokoh yang sebelumnya pernah diusulkan tetapi belum mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
Mereka adalah dr. Kariadi dari Kota Semarang, Bambang Sugeng dari Temanggung, Bambang Soeprapto Dipokoesoemo dari Banyumas, Basoeki Probowinoto dari Salatiga, serta Roebiono Kertopati dari Purworejo.
Pengusulan kembali bukan berarti para tokoh tersebut dinilai tidak layak. Menurut Imam, selama belum mendapatkan gelar, nama mereka masih bisa diajukan kembali sesuai mekanisme yang berlaku.
Bahkan, dr. Kariadi disebut telah beberapa kali masuk dalam pengusulan sejak 2014, tetapi hingga kini belum memperoleh gelar tersebut.
Ada Cerita Menarik di Balik Nama Margono
Nama R.M. Margono Djojohadikusumo juga menjadi perhatian karena ia merupakan kakek Presiden Prabowo Subianto.
Namun, ada fakta menarik: pengusulan Margono kali ini berasal dari kelompok masyarakat di Banyumas, sementara pihak keluarga Presiden Prabowo disebut belum berkenan mengajukan Margono sebagai Pahlawan Nasional. Meski demikian, proses pengusulan tetap berjalan melalui jalur resmi.
Sementara itu, usulan KH Sholeh Darat berasal dari komunitas masyarakat dan mendapat dukungan Pemerintah Kota Semarang.
Selanjutnya Tinggal Menunggu Pusat
Setelah melewati kajian daerah, usulan tersebut diteruskan ke tingkat pusat untuk menjalani proses penelitian dan pengkajian lebih lanjut.
Masalahnya, persaingan tidak ringan. Setiap tahun gelar Pahlawan Nasional hanya diberikan kepada jumlah tokoh yang terbatas, sementara usulan datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Seleksinya sangat ketat, dan semuanya diserahkan mutlak kepada pusat, tidak bisa diintervensi dari mana-mana,” tegas Imam.
Keputusan final dijadwalkan diumumkan menjelang Hari Pahlawan pada November 2026.
Kini, tujuh nama dari Jawa Tengah tersebut tinggal menunggu satu tahap penting: apakah perjuangan mereka akhirnya mengantarkan nama-nama tersebut menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Red)













Komentar