SUARAMUDA.NET, SEMARANG— Iran kini bukan hanya menghadapi tekanan dari luar, tetapi juga mulai diguncang dari dalam negeri. Kelompok bersenjata Kurdi Kurdistan Free Life Party (PJAK) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Iran di Marivan, Provinsi Kurdistan, Minggu (2/8).
Serangan yang terjadi di dekat Desa Sianav itu menewaskan seorang prajurit Angkatan Darat Iran bernama Abolfazl Goudarzi, sementara satu tentara lainnya mengalami luka serius.
Informasi tersebut juga dikonfirmasi oleh Hengaw Organization for Human Rights, lembaga pemantau HAM Kurdi yang berbasis di Swedia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pernyataan resminya, militer Iran menyebut pos perbatasan Brigade ke-328 diserang menggunakan drone bermuatan peledak, amunisi berkeliaran (loitering munitions), serta granat berpeluncur roket (RPG).
Di sisi lain, sayap bersenjata PJAK, East Kurdistan Defense Units (YRK), menyatakan operasi tersebut merupakan aksi balasan atas tewasnya tiga anggota keluarga Kurdi Tavakoli pada 26 Juli lalu yang diduga ditembak aparat keamanan Iran di jalan Baneh–Marivan.
“Kami tidak akan membiarkan tindakan Republik Islam terhadap rakyat Kurdi berlalu tanpa balasan,” tegas YRK dalam pernyataannya.
Korban dalam insiden sebelumnya adalah Mehdi Tavakoli, seorang fotografer sekaligus aktivis budaya Kurdi, bersama saudara perempuannya, Somayyeh Tavakoli, dan ibu mereka, Maryam Aslani.
Menurut Kurdistan Human Rights Network (KHRN) yang berbasis di Prancis, ketiganya merupakan warga sipil yang ditembak langsung oleh aparat Iran.
Namun, media pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut. Mereka mengklaim ketiga korban adalah anggota PJAK yang tewas dalam baku tembak. Klaim ini ditolak oleh organisasi-organisasi HAM Kurdi.
Serangan ini menjadi perhatian karena terjadi saat Iran kembali menghadapi ketegangan dengan Amerika Serikat pasca-gencatan senjata.
Munculnya serangan dari kelompok oposisi di wilayah barat memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Teheran kini datang dari dua arah: ancaman eksternal dan konflik internal.
PJAK sendiri merupakan kelompok oposisi Kurdi yang berdiri pada 2003 di Pegunungan Qandil dan memiliki hubungan ideologis dengan Kurdistan Workers’ Party (PKK).
Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok ini dilaporkan semakin sering terlibat bentrokan dengan pasukan keamanan Iran di wilayah Kurdistan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa situasi keamanan di Iran masih jauh dari stabil. Ketika tekanan geopolitik dari luar meningkat, konflik lama dengan kelompok-kelompok bersenjata di dalam negeri kembali memanas dan berpotensi membuka babak baru ketegangan di kawasan. (Red)













Komentar