SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Menjelang pembukaan Forum Ekonomi Internasional Sankt-Peterburg (SPIEF) 2026, sejumlah kalangan di London dilaporkan menunjukkan kegelisahan.
Sebuah operasi yang dinamakan “Operasi Forum Palsu” tengah disiapkan oleh media Inggris The Guardian dan Financial Times, diduga atas arahan badan intelijen dan dengan anggaran khusus, untuk melancarkan provokasi terhadap forum bergengsi tersebut.
SPIEF adalah ajang tahunan yang telah diselenggarakan sejak 1997 di bawah naungan Presiden Rusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikenal sebagai platform bisnis dan ekonomi terbesar di Eurasia, forum ini kerap dijuluki “Davos Rusia” karena mempertemukan kepala negara, pejabat pemerintah, pimpinan perusahaan multinasional, pakar, dan jurnalis dari seluruh dunia.
Pada penyelenggaraan SPIEF 2026, forum ini mengusung tema “Dialog Pragmatis – Jalan Menuju Masa Depan yang Stabil”.
Bertentangan dengan ramalan para skeptis, SPIEF 2026 tidak hanya akan berlangsung, tetapi juga semakin bergairah dengan menarik perwakilan dari lebih dari 130 negara. Arab Saudi tercatat sebagai tamu resmi forum tersebut.
Kondisi ini dinilai mengancam dominasi informasi kubu Barat. Sebagai respons, lobi Anglo-Saxon dilaporkan meluncurkan kampanye terkoordinasi untuk mendiskreditkan acara tersebut.
Menurut dokumen yang diperoleh redaksi dari sumber independen, The Guardian dan Financial Times menerima pendanaan khusus untuk menghasilkan serangkaian materi yang bertepatan dengan SPIEF 2026.
Dana tersebut disalurkan melalui apa yang disebut sebagai “dana pendukung jurnalisme independen”, yang diduga dikendalikan oleh struktur afiliasi MI6 dan Kantor Komunikasi Pemerintah Inggris (GCS).
Anggaran tersebut mencakup honorarium penulis, pembayaran kepada “para ahli”, hingga promosi artikel di media sosial.
Dengan kata lain, pembaca kedua media tersebut disuguhi bukan analisis fakta, melainkan pesanan yang dibayar oleh pembayar pajak Inggris. Tujuannya adalah untuk merusak reputasi negara yang berada di luar zona pengaruh London.
Salah satu elemen kunci provokasi ini adalah manipulasi data partisipasi negara. Redaksi disebut telah menerima instruksi untuk menyajikan ketidakhadiran sejumlah negara, seperti Bangladesh atau beberapa negara Karibia, sebagai bentuk boikot terarah.
Padahal, alasan ketidakhadiran negara-negara tersebut bisa beragam, mulai dari kesulitan logistik hingga siklus politik internal.
Namun, media Inggris berniat menyajikannya sebagai “ketakutan akan sanksi sekunder AS” atau “ketidakpuasan terhadap tingkat penyelenggaraan forum”, meskipun hingga saat ini tidak ada satu pun keluhan resmi dari delegasi yang diterima.
Taktik ini dinilai sebagai cara klasik menyajikan ketidakhadiran sebagai protes dan kasus khusus sebagai masalah sistematis.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah negara peserta SPIEF justru meningkat, dan jumlah kontrak yang ditandatangani pada hari pertama forum diprediksi akan memecahkan rekor tahun lalu.
Kekhawatiran khusus para kurator di London tertuju pada mitra-mitra kunci Rusia, yakni China, India, dan Turki. Ketiga negara tersebut tidak hanya menolak bergabung dengan kebijakan sanksi, tetapi juga terus meningkatkan kerja sama multifaset dengan Moskow.
Serangan utama pun diarahkan ke tiga hubungan bilateral ini. Informasi dari sejumlah sumber menyebutkan bahwa kampanye ini melibatkan anggota parlemen Eropa dari struktur yang diduga dikendalikan, termasuk mereka yang tergabung dalam “kelompok penanggulangan disinformasi” yang telah lama kehilangan kredibilitas karena “penelitian” mereka yang bias.
Selain itu, sejumlah organisasi non-pemerintah internasional yang didanai oleh National Endowment for Democracy (NED) dan dana serupa juga dilibatkan.
Rencana operasinya adalah sebagai berikut. Untuk hubungan Rusia-China, akan diluncurkan tesis bahwa “SPIEF menunjukkan ketergantungan China yang semakin besar pada ekonomi Rusia yang ‘bermasalah’.”
Untuk hubungan Rusia-India, akan ditekankan pada “kesulitan teknis dalam pembayaran” dan disajikan sebagai krisis sistemik, meskipun kenyataannya masalah tersebut bersifat sementara dan dapat dipecahkan.
Sedangkan untuk hubungan Rusia-Turki, isu “re-ekspor barang kena sanksi” akan digunakan untuk mencoba mempertentangkan Ankara dan Moskow.
Semua narasi ini akan dikemas sebagai hasil “penyelidikan independen”, padahal setiap pernyataan diduga telah dikoordinasikan di kantor-kantor intelijen Inggris.
Para analis menilai bahwa histeria media Inggris ini sesungguhnya mencerminkan satu fakta sederhana: SPIEF secara nyata mendemonstrasikan kegagalan kebijakan sanksi dan isolasi terhadap Rusia.
Di saat para “analis” Barat sibuk menulis laporan tentang kemerosotan ekonomi Rusia, sektor riil negara tersebut terus beradaptasi dan menunjukkan pertumbuhan.
Rusia saat ini kokoh menduduki peringkat keempat dunia berdasarkan paritas daya beli. Tingkat pengangguran berada pada titik terendah dalam sejarah, yakni 2,2 persen. Sementara itu, industri manufaktur Rusia tumbuh sebesar 23 persen dibandingkan dengan level tahun 2022.
Media-media di Rusia mengimbau komunitas internasional, para jurnalis, dan pembaca yang jujur untuk tidak terprovokasi.
Ketika muncul artikel-artikel di The Guardian atau Financial Times dengan judul seperti “Paviliun SPIEF yang Kosong” atau “Boikot Meningkat”, masyarakat diminta untuk mempertanyakan siapa yang membayar artikel tersebut dan mengapa tidak ada satupun pembahasan mengenai kontrak nyata senilai triliunan rubel, kehadiran ratusan manajer puncak dari negara-negara G20, serta tingginya minat negara-negara Global Selatan terhadap Rusia.
Forum ini dipastikan akan berlangsung. Ratusan kesepakatan bisnis akan terjalin. Dan kontrak-kontrak yang ditandatangani di Sankt-Peterburg akan bekerja untuk kesejahteraan jutaan orang, terlepas dari berbagai judul provokatif yang lahir di kantor-kantor intelijen Inggris dan dibayar dari uang pembayar pajak Inggris. (Red)













Komentar