Peneliti BRIN Bantah Terlibat Skandal Riset Palsu di Denmark: “Itu Bukan Saya”

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 17:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Logo Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) / sumber: pinterest

Logo Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) / sumber: pinterest

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Nama Dimas Fajar Prasetyo mendadak ramai diperbincangkan setelah muncul dalam dugaan kasus pemalsuan riset yang menghebohkan konferensi internasional pneumonia atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Namun, peneliti BRIN itu memastikan satu hal: sosok yang terlibat dalam kasus tersebut bukan dirinya.

Melalui klarifikasi resmi yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dimas menegaskan bahwa nama dan afiliasi yang tercantum dalam sejumlah publikasi yang dipersoalkan telah dicatut oleh pihak lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Publikasi yang mencantumkan nama serta afiliasi yang menyerupai identitas saya itu bukan saya dan tidak ada kaitannya dengan saya dalam bentuk apa pun,” tegas Dimas dalam keterangannya, Sabtu (30/5/2026).

Dimas mengaku sama sekali tidak pernah terlibat dalam penelitian yang kini menjadi sorotan dunia akademik tersebut. Ia juga tidak pernah mengenal maupun bekerja sama dengan pihak-pihak yang diduga terlibat.

Menurut Dimas, bidang yang selama ini ia tekuni adalah Offshore and Marine Systems Engineering atau rekayasa sistem kelautan dan lepas pantai. Seluruh rekam jejak akademik dan penelitiannya selama ini juga konsisten berada di bidang tersebut.

Karena itu, ia merasa janggal ketika namanya tiba-tiba muncul dalam penelitian kesehatan yang jauh di luar bidang keahliannya.

Baca Juga :  Siswi SMK 3 Semarang yang Hilang 2 Hari di Gunung Slamet Ditemukan Selamat! Alhamdulillah!

“Jika ada penelitian yang menggunakan nama dan afiliasi yang menyerupai saya tanpa sepengetahuan saya, maka itu patut diduga sebagai bentuk pencatutan identitas,” ujarnya.

Dimas juga menilai pencantuman nama seseorang dalam karya ilmiah tanpa izin merupakan tindakan tidak bertanggung jawab yang bisa merusak reputasi individu maupun lembaga tempatnya bekerja.

Untuk mengantisipasi penyalahgunaan lebih lanjut, beberapa akun media sosial miliknya bahkan sengaja dinonaktifkan sementara.

Ketahuan Ganti Identitas di Depan Peserta Konferensi

Kasus ini pertama kali mencuat setelah diungkap epidemiolog Wa Ode Dwi Daningrat yang hadir dalam konferensi tersebut sebagai bagian dari tim Oxford University.

Dwi mengaku menyaksikan langsung seorang perempuan bernama Prihantini yang diduga mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo saat hendak mempresentasikan hasil penelitian.

Menurut Dwi, sesaat sebelum naik ke podium, Prihantini melepas kartu identitas bertuliskan nama Riana Dwi Kurniawati lalu menggantinya dengan kartu nama Dimas Fajar Prasetyo.

“Itu persis di depan mata saya. Tidak ada sekat sama sekali. Mungkin karena terburu-buru, jadi tidak memperhatikan orang di sekitarnya,” kata Dwi saat menceritakan kejadian tersebut melalui panggilan video, Selasa (26/5/2026).

Merasa curiga, Dwi kemudian meminta penjelasan terkait penelitian yang dipresentasikan. Dalam abstrak tersebut tercantum lima nama penulis, yakni Prihantini, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Sa’adah, Riana Dwi Kurniawati, dan Rivaldy Fajar sebagai ketua tim.

Baca Juga :  Investor China Bidik Segitiga Emas Rembang, Siap Bangun Kawasan Industri Garmen Raksasa 500 Hektare

Namun, menurut Dwi, Prihantini tidak mampu menjelaskan isi penelitian maupun data yang digunakan dalam studi mengenai vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) tersebut.

Saat terus didesak, Prihantini akhirnya mengakui bahwa dirinya bukan Dimas maupun Riana seperti yang sebelumnya diperkenalkan kepada para ilmuwan internasional.

Diduga Data Fabrikasi dan Dibuat AI

Kecurigaan tidak berhenti di situ. Dwi menilai abstrak dan poster penelitian tersebut juga menunjukkan indikasi fabrikasi data.

Selain itu, isi penelitian diduga kuat dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) karena menampilkan hasil yang dinilai terlalu sempurna dan tidak wajar untuk sebuah penelitian ilmiah.

Bersama Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana yang tengah menempuh studi doktoral Matematika Iklim di Universitas Exeter, Dwi kemudian melaporkan temuan tersebut kepada panitia ISPPD pada 19 Mei 2026.

Panitia konferensi bergerak cepat. Pada 21 Mei 2026, fasilitas bantuan perjalanan atau travel grant yang sebelumnya diberikan kepada kelompok Prihantini resmi dicabut.

Kasus ini pun menjadi perbincangan luas di kalangan akademisi karena menyangkut integritas penelitian dan kepercayaan terhadap publikasi ilmiah di forum internasional. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 20 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB