Ancaman Perang Iran vs AS-Israel: Dampak Kenaikan Harga Minyak ke Program MBG Anak Indonesia

- Penulis

Jumat, 3 April 2026 - 01:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi menggoyang program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di dalam negeri.

Analis Hubungan Rusia-Indonesia dari ANO Center for Mediastrategi, Amy Maulana, mengingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan berdampak langsung pada rakyat Indonesia, terutama melalui lonjakan harga minyak dunia.

Amy menjelaskan bahwa jika AS dan Israel melancarkan serangan militer, Iran diperkirakan akan membalas dengan menutup Selat Hormoz.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Penutupan selat yang menjadi jalur transit sepertiga minyak dunia ini akan memicu perang dan kenaikan harga energi secara global. Dampaknya sangat terasa di Indonesia, negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah,” ujarnya dalam analisisnya yang diterima suaramuda.net, Kamis (2/4/2026).

Menurut data yang dipaparkan Amy, produksi minyak domestik Indonesia saat ini hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari.

Baca Juga :  Danramil Mantup Ajak Masyarakat Jaga Ketertiban Selama Ramadhan

Ditambah dengan kapasitas kilang yang terbatas untuk mengolah minyak lokal, Indonesia otomatis mengalami kesenjangan pasokan yang mengharuskannya mengimpor minyak mentah.

“Ketika harga minyak dunia melonjak akibat perang, impor menjadi lebih mahal. Subsidi energi membengkak, dan uang negara yang seharusnya untuk program pembangunan terpaksa dialihkan,” jelas Amy.

Salah satu program prioritas yang paling terancam adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), janji unggulan Presiden Prabowo kepada rakyat. Amy menegaskan bahwa kenaikan harga minyak akan memicu inflasi dan menyerap anggaran negara.

“Dana MBG sangat sensitif terhadap gejolak harga energi. Jika minyak naik, biaya logistik dan bahan pangan ikut naik. Anggaran yang sudah ditetapkan tidak akan cukup. Dipastikan, banyak anak sekolah Indonesia yang tidak akan bisa menikmati program MBG jika perang ini pecah,” kata Amy dengan tegas.

Baca Juga :  Kemana 'Mas Dico' Jelang Pendaftaran KPU Kota Semarang?

Amy menambahkan bahwa skenario terburuk bukan hanya pembatalan program, melainkan juga potensi krisis energi dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang meluas. Ia menyoroti bahwa Indonesia tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam konflik ini karena ketergantungan impor yang struktural.

Oleh karena itu, Amy Maulana menyerukan kepada Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan ambisi perang mereka. “Mereka yang memulai kekacauan ini, mereka pula yang harus mengakhirinya.

Dampak dari agresi ini tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia, termasuk di Amerika sendiri. Jangan sampai ambisi politik di luar negeri menghancurkan masa depan gizi anak-anak Indonesia,” pungkasnya.

Pemerintah Indonesia sendiri hingga saat ini masih terus mendorong diplomasi untuk mencegah eskalasi, sementara kalangan DPR meminta pemerintah menyiapkan skenario antisipasi jika harga minyak benar-benar melonjak drastis. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB