Harga BBM Naik di Bulan April, Benarkah?

- Penulis

Selasa, 31 Maret 2026 - 07:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: pinterest

Gambar: pinterest

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di bulan April makin bikin deg-degan! Di tengah harga minyak dunia yang meroket dan rupiah yang makin “loyo”, publik mulai bertanya-tanya: bakal naik beneran nggak sih?

Kombinasi dua faktor ini bikin tekanan biaya energi makin tinggi. Nggak heran kalau spekulasi soal penyesuaian harga BBM dalam waktu dekat makin kencang beredar.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memprediksi kenaikan bakal lebih dulu nyentuh BBM nonsubsidi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, harga Pertamax dan Pertamina Dex bisa naik sekitar Rp1.500–Rp2.000 per liter alias naik sekitar 15 persen.

“BBM nonsubsidi diperkirakan naik Rp1.500-2.000 per liter sekitar 15 persen untuk Pertamax dan Pertamina Dex. Jadi kenaikan sampai Rp5.000 per liter sepertinya harus dihindari karena menciptakan inflasi yang berisiko tinggi,” ujarnya kepada CNN Indonesia.

Tapi, kenaikan terlalu tinggi juga bukan tanpa risiko. Bhima mengingatkan, kalau harga melonjak drastis, masyarakat bisa “kabur” ke BBM subsidi. Dampaknya? Bisa muncul penimbunan hingga gangguan stok Pertalite dan solar subsidi.

Baca Juga :  Kabar Lelayu! Raja Keraton Surakarta Pakubuwono XIII Mangkat, Solo Berduka!

“Kalau naik terlalu tinggi bahaya ke pergeseran BBM subsidi. Nanti muncul penimbunan dan justru ganggu stok BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar subsidi,” tambahnya.

Masalahnya nggak cuma di situ. Tekanan keuangan negara alias APBN juga makin berat. Kalau harga BBM ditahan terus, bebannya bisa ke pemerintah atau bahkan ke Pertamina.

“APBN tanpa realokasi belanja yang besar tidak bisa menanggung selisih harga keekonomian. Atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding,” jelas Bhima.

Sementara itu, pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi melihat peluang kenaikan makin terbuka lebar—bahkan untuk BBM subsidi—kalau harga minyak dan kurs rupiah terus bergerak liar.

“Kalau harga minyak mentahnya naik, kemungkinan besar BBM akan dinaikkan, apalagi rupiah melemah. Rupiah kemungkinan besar ini Rp17.100. Ini indikasi, suka tidak suka pemerintah harus menaikkan bahan bakar ini, terutama Pertalite,” katanya.

Kalau harga nggak disesuaikan? Risiko defisit anggaran makin lebar. Ujung-ujungnya, pemerintah bisa terpaksa “ngerem” belanja negara atau menaikkan harga BBM subsidi.

“Kalau tidak menaikkan (harga BBM), kemungkinan besar akan ada defisit anggaran yang cukup tajam lagi,” lanjutnya.

Baca Juga :  Di Acara Pelantikan Pj Gubernur Ajak PWNU Jateng Bersinergi dengan Pemprov

Untuk BBM nonsubsidi, kenaikan hampir pasti terjadi. Sementara subsidi mungkin naik lebih tipis—tapi tetap terasa banget dampaknya.

“Kemungkinan besar dari Rp10 ribu bisa jadi Rp10.500-an per liter. Tapi Rp500 ini luar biasa dampaknya,” ujar Ibrahim.

Di level global, harga minyak dunia sudah tembus sekitar US$115 per barel. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ikut memperkeruh situasi. Bahkan penutupan Selat Hormuz bikin pasokan energi global makin ketat.

Sementara itu, rupiah juga melemah mendekati Rp17 ribu per dolar AS. Kombinasi ini bikin biaya impor energi makin mahal dan tekanan ke anggaran negara makin besar.

Sampai akhir Maret 2026, harga BBM di Indonesia masih “aman”—belum ada perubahan sejak penyesuaian terakhir. Pertalite masih di Rp10.000 per liter, solar subsidi Rp6.800, dan Pertamax di kisaran Rp12.300.

Tapi dengan tren global yang lagi “panas”, banyak negara Asia Tenggara sudah lebih dulu menaikkan harga BBM.

Jadi… April nanti bakal naik atau masih ditahan? Pantau terus, karena keputusan ini bisa langsung kerasa ke isi dompet kamu! (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura
Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”
Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah
Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama
Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Berita ini 18 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 10:03 WIB

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Senin, 28 September 2026 - 09:29 WIB

Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”

Minggu, 27 September 2026 - 11:44 WIB

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB