SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di bulan April makin bikin deg-degan! Di tengah harga minyak dunia yang meroket dan rupiah yang makin “loyo”, publik mulai bertanya-tanya: bakal naik beneran nggak sih?
Kombinasi dua faktor ini bikin tekanan biaya energi makin tinggi. Nggak heran kalau spekulasi soal penyesuaian harga BBM dalam waktu dekat makin kencang beredar.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memprediksi kenaikan bakal lebih dulu nyentuh BBM nonsubsidi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, harga Pertamax dan Pertamina Dex bisa naik sekitar Rp1.500–Rp2.000 per liter alias naik sekitar 15 persen.
“BBM nonsubsidi diperkirakan naik Rp1.500-2.000 per liter sekitar 15 persen untuk Pertamax dan Pertamina Dex. Jadi kenaikan sampai Rp5.000 per liter sepertinya harus dihindari karena menciptakan inflasi yang berisiko tinggi,” ujarnya kepada CNN Indonesia.
Tapi, kenaikan terlalu tinggi juga bukan tanpa risiko. Bhima mengingatkan, kalau harga melonjak drastis, masyarakat bisa “kabur” ke BBM subsidi. Dampaknya? Bisa muncul penimbunan hingga gangguan stok Pertalite dan solar subsidi.
“Kalau naik terlalu tinggi bahaya ke pergeseran BBM subsidi. Nanti muncul penimbunan dan justru ganggu stok BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar subsidi,” tambahnya.
Masalahnya nggak cuma di situ. Tekanan keuangan negara alias APBN juga makin berat. Kalau harga BBM ditahan terus, bebannya bisa ke pemerintah atau bahkan ke Pertamina.
“APBN tanpa realokasi belanja yang besar tidak bisa menanggung selisih harga keekonomian. Atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding,” jelas Bhima.
Sementara itu, pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi melihat peluang kenaikan makin terbuka lebar—bahkan untuk BBM subsidi—kalau harga minyak dan kurs rupiah terus bergerak liar.
“Kalau harga minyak mentahnya naik, kemungkinan besar BBM akan dinaikkan, apalagi rupiah melemah. Rupiah kemungkinan besar ini Rp17.100. Ini indikasi, suka tidak suka pemerintah harus menaikkan bahan bakar ini, terutama Pertalite,” katanya.
Kalau harga nggak disesuaikan? Risiko defisit anggaran makin lebar. Ujung-ujungnya, pemerintah bisa terpaksa “ngerem” belanja negara atau menaikkan harga BBM subsidi.
“Kalau tidak menaikkan (harga BBM), kemungkinan besar akan ada defisit anggaran yang cukup tajam lagi,” lanjutnya.
Untuk BBM nonsubsidi, kenaikan hampir pasti terjadi. Sementara subsidi mungkin naik lebih tipis—tapi tetap terasa banget dampaknya.
“Kemungkinan besar dari Rp10 ribu bisa jadi Rp10.500-an per liter. Tapi Rp500 ini luar biasa dampaknya,” ujar Ibrahim.
Di level global, harga minyak dunia sudah tembus sekitar US$115 per barel. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ikut memperkeruh situasi. Bahkan penutupan Selat Hormuz bikin pasokan energi global makin ketat.
Sementara itu, rupiah juga melemah mendekati Rp17 ribu per dolar AS. Kombinasi ini bikin biaya impor energi makin mahal dan tekanan ke anggaran negara makin besar.
Sampai akhir Maret 2026, harga BBM di Indonesia masih “aman”—belum ada perubahan sejak penyesuaian terakhir. Pertalite masih di Rp10.000 per liter, solar subsidi Rp6.800, dan Pertamax di kisaran Rp12.300.
Tapi dengan tren global yang lagi “panas”, banyak negara Asia Tenggara sudah lebih dulu menaikkan harga BBM.
Jadi… April nanti bakal naik atau masih ditahan? Pantau terus, karena keputusan ini bisa langsung kerasa ke isi dompet kamu! (Red)













Komentar