Hegemoni: Revitalisasi Nalar Kritis di Tengah Pusaran Badai Pembungkaman

- Penulis

Senin, 16 Maret 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gorgonius Darsan, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Unika St. Paulus Ruteng

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Mencuat ke publik fenomena yang lumrah bahkan menjadi kebiasaan di mana yang bernalar kritis dibungkam. Orang yang gemar berpikir dianggap oposisi. Suara yang menggema mewakili kaum marginal dianggap penjahat oleh regulator kebijakan.

Seorang pejuang muda yang rutin nyaring menggemakan suara kaum marginal mendadak gagap, bukan karena hilangnya suara atau rusaknya pita suara, tetapi karena ia dipaksa diam oleh keadaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pembungkaman suara orang yang selalu menyuarakan kepentingan rakyat kecil merupakan contoh nyata rusaknya marwah demokrasi. Kebebasan berpendapat yang sering digaungkan seolah-olah vakum dan kehilangan martabatnya.

Era yang dibanggakan sebagai reformasi, yang lahir dari nadi para pejuang yang tak pernah tunduk pada bentuk hegemoni manapun, justru kini ditelanjangi oleh praktik kekuasaan yang semakin alergi terhadap kritik.

Reformasi yang dahulu dielu-elukan sebagai pintu kebebasan kini perlahan berubah menjadi ruang sempit bagi mereka yang berani berpikir berbeda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hegemoni tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik atau represi terbuka. Ia justru bekerja secara halus, melalui pembentukan opini, stigma sosial, hingga manipulasi narasi.

Baca Juga :  Kebahagiaan Ala Stoa: Up to Us atau Not Up to Us?

Orang-orang yang berani bersuara dilabeli sebagai pengganggu stabilitas, provokator, bahkan ancaman bagi negara. Padahal, kritik adalah napas bagi demokrasi yang sehat.

Ketika kritik dibungkam, maka yang tersisa hanyalah ruang publik yang steril dari perdebatan sehat. Masyarakat dipaksa menerima realitas yang dikonstruksi oleh segelintir elite.

Dalam situasi seperti ini, nalar kritis menjadi sesuatu yang berbahaya bagi mereka yang ingin mempertahankan dominasi kekuasaan.

Lebih ironis lagi, pembungkaman ini seringkali dibungkus dengan dalih menjaga ketertiban, stabilitas, atau kepentingan umum. Narasi semacam ini perlahan membius kesadaran publik sehingga masyarakat mulai menganggap bahwa kritik adalah sesuatu yang tidak pantas.

Di sinilah hegemoni bekerja dengan sangat efektif: membuat masyarakat tanpa sadar ikut menjaga sistem yang sebenarnya mengekang mereka.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian untuk berpikir kritis. Para tokoh yang dahulu memperjuangkan reformasi bukanlah orang-orang yang tunduk pada kekuasaan.

Mereka adalah individu yang berani mempertanyakan ketidakadilan, melawan dominasi, dan memperjuangkan suara rakyat yang terpinggirkan.

Baca Juga :  Tumbuh Tapi Megap-Megap: ‘In This Economy’

Oleh karena itu, revitalisasi nalar kritis menjadi kebutuhan mendesak di tengah pusaran badai pembungkaman ini.

Masyarakat perlu kembali menyadari bahwa kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara, melainkan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa. Tanpa kritik, kekuasaan akan berjalan tanpa kontrol, dan tanpa kontrol, kekuasaan berpotensi berubah menjadi tirani.

Generasi muda khususnya tidak boleh kehilangan keberanian untuk berpikir dan bersuara. Mereka harus menjadi garda terdepan dalam menjaga ruang demokrasi agar tetap hidup.

Nalar kritis harus dirawat melalui diskusi, pendidikan, dan keberanian moral untuk menyampaikan kebenaran, meskipun tidak selalu populer di hadapan kekuasaan.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang sunyi dari kritik, melainkan demokrasi yang mampu menampung berbagai suara. Ketika suara rakyat kecil didengar dan dihargai, maka di situlah demokrasi menemukan maknanya yang sejati.

Jika pembungkaman terus dibiarkan, maka reformasi hanya akan menjadi slogan tanpa jiwa. Tetapi jika nalar kritis kembali dihidupkan, maka harapan untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat tetap akan menyala. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB