Persaingan LNG Memanas di Asia: Rusia Siap ‘Perang Harga’ Hadapi Amerika di Pasar India dan China

- Penulis

Minggu, 8 Maret 2026 - 23:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Keputusan Rusia untuk membajak pasokan gas alam cair (LNG)-nya dari Eropa ke Asia diprediksi akan memicu persaingan sengit di kawasan yang selama ini menjadi ladang empuk bagi eksportir energi global, termasuk Amerika Serikat dan Australia.

Langkah Moskow ini tidak hanya sekadar mencari pasar baru, tetapi juga menandai dimulainya perang pangsa pasar (market share war) di Asia-Pasifik.

Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, mengonfirmasi kepada media TASS bahwa perusahaan-perusahaan Rusia tengah menjajaki kontrak jangka panjang dengan negara-negara Asia seperti India, Thailand, Filipina, dan China.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami mengalihkan sebagian gas dari Eropa ke negara lain tanpa menunggu pembatasan lebih lanjut,” ujarnya, Jumat (6/3/2026) lalu.

Langkah ini mengubah peta persaingan secara drastis. Selama ini, LNG Rusia lebih banyak diserap oleh Eropa.

Namun, dengan ditutupnya keran Eropa secara bertahap hingga 2027, Rusia kini harus merebut hati pembeli di Asia yang selama ini sudah terikat kontrak dengan pemain lain.

Baca Juga :  Pameran IIETE 2026 Dibuka, Rusia Tawarkan Beasiswa dan Program Teknik Unggulan di Jakarta

China dan India, sebagai konsumen energi terbesar di kawasan, kini berada di posisi tawar yang kuat karena dapat membandingkan harga dari Rusia, AS, dan Timur Tengah.

Menurut laporan Vedomosti, kebijangan ini dipicu oleh sanksi Uni Eropa yang tidak hanya melarang impor, tetapi juga menjatuhkan denda fantastis hingga puluhan juta euro bagi pihak-pihak yang nekat membeli gas Rusia.

Akibatnya, LNG Rusia yang tadinya mengalir ke Eropa harus mencari “rumah baru”, dan Asia adalah satu-satunya tujuan yang paling mungkin.

Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Filipina, kehadiran LNG Rusia yang agresif ini bisa menjadi angin segar sekaligus tantangan.

Di satu sisi, melimpahnya pasokan dari Rusia berpotensi menekan harga LNG di pasar spot, sehingga biaya impor energi bisa lebih murah.

Baca Juga :  Kapal Perang AS Nongol di Selat Malaka, Ada Apa Sebenarnya?

Di sisi lain, negara-negara ASEAN harus lebih jeli dalam melakukan diversifikasi sumber energi agar tidak tergantun g pada satu negara pemasok.

Filipina dan Thailand, yang disebut secara spesifik oleh Novak sebagai target baru, saat ini sedang giat membangun infrastruktur LNG untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik.

Masuknya Rusia sebagai penawar akan memberi mereka alternatif di luar tawaran dari perusahaan-perusahaan Amerika dan Qatar.

Para analis energi memperkirakan bahwa Amerika Serikat akan merespons langkah ini dengan memperkuat diplomasi energinya di Asia.

Mengingat AS adalah salah satu eksportir LNG terbesar ke Eropa, mereka kini juga berkepentingan untuk mempertahankan pangsa pasar di Asia.

Sementara itu, China dipandang sebagai pemenang dalam situasi ini, karena dapat mengamankan pasokan energi dengan harga kompetitif di tengah perseteruan blok Barat dan Rusia. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB